Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Membawa Pergi Zoya


__ADS_3

Hans menarik nafas begitu dalam, seolah ingin mengusir kegusaran dalam hatinya. Dia memang salah, tapi dia tidak punya cara lain untuk melakukannya. Yang dia pikirkan adalah mengembalikan Arum tanpa merugikan banyak pihak.


"Mas kenapa meninggalkanku? Mas Hans tidak adil. Aku juga istri Mas Hans." protes Arum selanjutnya, gadis itu tidak terima saat Hans meninggalkannya karena kejaran pers. Bukanya menjawab Arum, dia malah melirik Ale yang saat ini menatap Arum. Ale belum terlalu faham tentang permasalahan ini.


"Mas Hans! " pekik Arum dengan kesal.


"Diamlah! " bentak hans, saat suara Arum yang meninggi membuat Hans malah tersulut emosi. Arum belum mengenal Hans, lelaki yang pada dasarnya emosional, tapi gadis itu hanya mengenal Hans yang sudah bermetomarfasa yang kapan saja bisa menunjukkan keasliannya.


"Mas! " Zoya mengulurkan tangannya mengusap paha Hans agar bisa meredam emosinya. Ada Ale. Itu yang dipikirkan Zoya saat Hans mulai meninggikan suara. Hanya Zoya yang bisa mengerti bagaimana cara mengatasi sisi buruk suaminya itu.


Hans kembali menghela nafas panjang, satu tangannya menggenggam jari-jari kecil di atas pahanya untuk mendinginkan otaknya. Hans faham apa yang dimaksud Zoya. Kemudian, dia melirik Ale dari kaca spion, putrinya kini terdiam di belakang dan menatap keluar jendela. Sungguh, ini kedua kalinya Ale melihatnya berteriak kasar dan itu membuat Hans menyesal.


Gadis berambut panjang itu hatinya sedang meradang, saat melihat adegan di depannya. Hans selalu bersikap manis pada Zoya, sementara setiap dengannya lelaki itu selalu menjaga jarak.


"Mas, aku mencintaimu! Bagaimanapun hatiku rasanya sakit saat kamu lebih membutuhkan Zoya." gumam Arum dalam hati, matanya mulai berkaca-kaca, biar bagaimanapun Arum memang mencintai Hans.


Mereka terdiam dalam perjalanan, mobil sedan itu membelah keramaian kota yang memang tak pernah ada surutnya. Hans mulai mengurangi laju mobilnya saat memasuki kawasan perumahan elit dan membelok memasuki halaman rumah miliknya.


"Biar aku yang membawa Ale." ucap Hans dengan pelan, kemudian membuka pintu mobil bagian belakang. Hans mengambil Ale yang tertidur di jok belakang. Saat Zoya menunggui Hans yang akan menggendong Ale, Arum lebih dulu masuk ke dalam rumah. Zoya tahu, Arum sudah menangis.


Mereka langsung masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Ale untuk meletakkan tubuh gembul itu di atas tempat tidur.


"Mbak Arum menangis, Mas. Apa Mas Hans tidak ingin membujuknya?" Pertanyaan Zoya seolah ingin mengingatkan jika Arum juga istrinya. Tapi, dia juga akan merasa cemburu juga jika Hans bersama Arum. Sungguh poligami membuat seseorang selalu pada situasi yang serba salah.


"Membiarkannya sendiri jauh lebih baik untuk saat ini. Aku tidak ingin memberinya terlalu banyak harapan." ucap Hans dengan membuka kancing lengan kemejanya. Menurut Hans sudah saatnya misinya berakhir.


"Aku akan mandi. Setelah itu, aku akan ke ruang kerja. Bisakah nanti kamu membawakan kopi dan makan malamku ke sana?"


"Iya, Mas." jawab Zoya yang sudah sangat mengerti jika malam ini suaminya akan mengurung diri di ruang kerja.


###

__ADS_1


Hans memijat kepalanya yang sudah terasa pusing. Situasi yang sudah terlihat lenggang membuat dirinya memutuskan untuk pulang saja. Hans membayangkan melihat Ale dan menggodanya mungkin akan sangat menyenangkan. Hans sendiri menyadari jika Ale sudah sedikit kehilangan keceriaan saat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Hans memang terlalu sibuk dengan kasus yang dia tangani, apalagi saat ini media menggiring dua opini yang sangat pertentangan, antara pro dan kontra. Munculnya pemikiran dan opini baru yang saling berlawanan dari masyarakat cukup berpengaruh dengan perkembangan Kasus yang dia tangani.


Di dalam perjalanan pulang, saat mobilnya melamban untuk menembus jalanan yang macet, Hans melihat penjual martabak yang biasa menjadi langganannya. Dia akan membawakan martabak untuk menyuap Ale ketika ingin mengajaknya berkompromi untuk berbagi Zoya padanya. Tapi, saat ini Hans memang mengurangi aktifitas di luar semenjak kasus Antonio menjadi viral dan mencuat di permukaan publik. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk membelikan Ale martabak.


Hans pov


Aku sudah merindukan masa-masa itu. Aku merindukan protes putriku dan senyum yang merekah di bibir istriku. Entah berapa lama lagi aku mesti bersabar?


Rasanya sudah cukup aku save Arum, jika situasi kampung sudah mereda, tentu saja dengan rasa hormat aku akan mengembalikannya.


Aku tidak bisa berlama-lama menunggu kasus Antonio berakhir. Cukup, aku mendapatkan banyak informasi dari Arum. Sekarang sudah saatnya aku mengembalikan keluargaku, mengembalikan keceriaan anakku dan kebahagian istriku.


Rumahku terasa hampa tanpa kebahagiaan istri dan keceriaan anakku. Aku baru menyadari betapa pentingnya peran seorang perempuan dalam keluarga. Ketika perempuan tidak bahagia bagaimana dia akan fokus mengurus segalanya termasuk memikirkan perkembangan anak.


Hans membelokkan mobilnya di halaman dan memarkirnya dengan asal asalan. Rasa lelah yang teramat sangat membuatnya ingin sekali merebahkan diri.


Dia membuka pintu utama dan sudah disambut dengan kehadiran Arum yang sudah menyambutnya dengan senyum hangat.


"Dimana Ale?" tanya Hans dengan berjalan menuju ruang utama dan mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Mas, maafkan sikapku yang kemarin." lanjut Arum meminta maaf karena sudah meninggikan suaranya.


"Lupakanlah, aku juga sedang emosi. Bisakah ambilkan aku air minum!" pinta Hans yang merasa tenggorokannya sudah kering.


"Jus jeruk mau?" tawar Arum.


"Baiklah... " jawab Hans membuat Arum segera kebelakang. Hans meregangkan ototnya dengan menarik kedua tangannya ke atas kemudian membuka ponselnya yang dari tadi sudah terdengar banyak notifikasi pesan masuk.


Sesaat kemudian Arum datang dengan membawa jus jeruk yang dia tawarkan. "Mas." ucapnya dengan menyodorkan jus jeruknya kepada Hans. Hans menutup layar ponsel dan meneguk setengah isi gelas.


"Mas Hans, mau makan sekarang?" Arum kini mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di sebelah.

__ADS_1


"Nanti saja, kepalaku masih teras pusing." jawab Hans dengan memijit pelipisnya.


Selang beberapa saat, Hans merasakan perasaan aneh, tubuhnya pun merasakan gelayar panas yang tidak seperti biasa.


"Bisakah kamu mengambilkan minyak kayu putih di kamar Ale? Aku ingin kepalaku di pijat." pinta Hans membuat Arum langsung beranjak. Gadis itu merasa senang karena baru saat ini Hans meminta sesuatu padanya.


Kepergian Arum, berlahan membuat Hans beranjak pelan menuju ke belakang. Kebetulan dia berpapasan dengan Bi Muna. "Bi, tolong jaga Ale. Aku akan pergi bersama Zoya untuk semalam." ucap Hans kemudian berjalan dengan cepat dan diikuti Bi Muna untuk menghampiri Ale dan Zoya yang berada di gazebo.


"Ale, kamu tidur sama Bi Muna. Papa ada urusan sama Mama." Hans langsung menarik lengan Zoya melewati halaman samping untuk menghampiri mobilnya yang masih terparkir di depan. Ale menatap kepergian Papa dan mamanya dengan perasaan bingung, tapi dia menurut saja seperti biasanya saat semua terlihat serius.


Hans melajukan mobilnya sedikit ngawur membuat perasaan Zoya menjadi miris. Tapi, Zoya tak lagi banyak protes dia sendiri merasa aneh ketika menatap wajah putih Hans mendadak terlihat memerah.


"Sial." rutuk Hans dengan menahan hasratnya yang sudah mulai bergejolak. Zoya bisa melihat ada masalah dengan suaminya, tapi dia belum mengerti.


Sesekali Hans menggelengkan kepalanya yang sedikit berdenyut. Dia terpaksa membelokkan mobilnya ke halaman penginapan terdekat, dia merasa tidak mampu bertahan untuk sampai di hotel yang dia maksud apalagi apartemenny. Gelayar panas dalam tubuhnya seolah sudah meledak ledak tak tertahan lagi.


"Ayo, Zoy!" Hans membuka pintu mobil dan menarik Zoya untuk segera keluar. Dengan sedikit kewalahan Zoya mengikuti Hans.


Hans mengurus administrasi dengan sedikit tergesa bahkan beberapa kali dia mengomeli resepsionis yang menurutnya lamban. Hans sedikit menyeret langkah Zoya untuk segera masuk ke dalam kamar, yang mana telah membuat resepsionis menatap keduanya heran.


"Ada apa, Mas! " tanya Zoya dengan bingung karena Hans seperti tidak bisa mengontrol dirinya.


Hans membuka pintu kamar penginapan dan menutupnya kembali dengan cepat."Aku butuh kamu, Zoy." ucapnya langsung menyergap tubuh Zoya. Dengan terus menghujani Zoya dengan cumbuan, tangannya pun tak kalah terampil membuka pembungkus seluruh tubuh molek istrinya. Zoya merasa bingung dengan cara Hans yang tidak biasa. Dia seperti orang yang sedang kehausan. Zoya pun tidak punya kesempatan untuk mengelak.


"Mas Hans, kenapa?" tanya Zoya di saat Hans mencumbunya dengan gila.


"Mas, aku hamil." Melihat Hans seperti orang rakus membuat Zoya kembali mengingatkan untuk pelan pelan.


"Aku tahu Zoya, hmmm.... " ucapnya dengan bibir yang tak hentinya mencumbu setiap inci tubuh yang selalu dia damba.


"Aku akan sedikit menahannya." lanjut Hans masih tidak berhenti membuat gairah meledak. Seperti tidak ada puasnya, Hans terus saja melampiaskan hasratnya yang sudah tidak bisa dikendalikan olehnya lagi.

__ADS_1


Di kamar yang sempit dengan suhu yang cukup panas mereka menghabiskan malam panas yang tidak direncakan. Zoya yang terbawa dengan permainan Hans pun mendesah berulang kali meski pada awalnya dia berusaha mengontrol nafsu liar suaminya.


Bersambung.....


__ADS_2