Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Lebih Mengenal(Extra Part)


__ADS_3

Hans melihat perempuan yang berjalan cukup lamban itu keluar dari gedung fakultasnya. Wajah cantik dengan senyum yang terlihat tenang membuatnya terlihat berbeda ketika berada diantar kerumunan teman temannya.


Perut Zoya yang terlihat sudah membesar, membuat teman kampusnya memberi ruang untuk jalan yang akan dilalui perempuan hamil itu.


Dari kantin yang ada di depan kampus istrinya, Hans masih menikmati secangkir kopi hitam yang sudah dia pesan. Matanya terus saja mengawasi Zoya dari kejauhan yang berjalan ke arahnya.


Masih dengan bersedekap dengan punggung bersandar pada badan kursi, Hans terus saja memperhatikan istrinya dari kejauhan. Hatinya sebenarnya tersenyum meski yang nampak adalah wajah datar yang kini dilihat Zoya dengan jarak beberapa meter.


Sejak perut Zoya terlihat membesar, Hans memang lebih protect pada istrinya. Kecemasan akan keselamatan istri dan dua Hans junior seolah selalu merongrong batinnya. Kadang, pikiran negatif pun mulai menghantui. Lelaki itu seperti terkena sindrom.


"Sudah lama, Mas?" tanya Zoya yang saat ini berdiri di dekatnya. Sebagian orang di kampus memang sudah tahu jika Zoya sudah menikah, bahkan ada juga yang sudah mengenal Hans Satrya Jagad sebagai seorang lawyer yang handal.


"Sudah. Lihat saja kopiku! Aku sudah hampir menghabiskannya hanya untuk menunggumu." jelas Hans dengan menunjukkan cangkir yang hanya menyisakan ampas kopi dengan dagunya.


Zoya pun tersenyum saat melihat wajah datar suaminya. Melihat tatapan tajam yang tidak lepas dari dirinya, Zoya malah memilih mendudukkan bobotnya di kursi yang ada di depan Hans. Sore yang hampir petang mereka malah mampir sejenak untuk memuaskan rasa dahaga Zoya.


"Loh, kok malah duduk?" sergah Hans yang dalam prediksinya, Zoya akan langsung merasa bersalah dan mengajaknya segera pulang.


"Aku haus, Mas. Kelas yang beruntun juga membuat badanku lelah." jawab Zoya dengan mengulum senyum tenang yang menjadi khasnya. Dia tahu, jika Hans sudah ingin mengajaknya pulang. Tapi, wajah lelah Zoya membuat Hans bertahan.


"Kamu ingin minum apa? Apa sekalian makan? Biar aku yang pesankan." Hans tidak lagi menuntut istrinya, kala melihat Zoya menghela nafas berat.


"Jus Apple saja, Mas! " ujar Zoya, tatapan dan senyumnya penuh dengan rasa terima kasih. Dan itu membuat Hans tersenyum tipis untuk membalasnya.


Lelaki ganteng dengan perawakan matang dan penampilan metropolis membuat beberapa pasang mata wanita menatapnya kagum. Kini, dia berjalan ke arah kasir untuk memesan pesanan istrinya.


Sambil berdiri dan menunggu pesannya. Dia masih menatap Istrinya dari kejauhan.


Hans Pov


Aku bukan seorang suami atau Papa yang baik. Tapi, orientasi hidupku adalah keluarga dan anak anakku.


Keduanya menjadi tujuan dari perjalanan hidupku. Membahagiakan istriku dan mendidik mereka yang kelak akan menjadi gambaran bagaimana usaha dan kerja kerasku membimbing mereka.


Ada sebuah takdir yang memang harus di jalani seseorang. Tapi, aku salah satu orang percaya usaha dan doa bisa merubah segalanya. Termasuk takdir anak-anaku kelak. Aku akan belajar menjadi suami yang baik dan sosok papa yang figur kebaikannya akan selalu dikenal untuk anak anakku kelak.

__ADS_1


"Mas, ini jusnya." suara kasir kantin membuyarkan lamunannya. Hans langsung membawa gelas yang isinya adalah sesuatu yang sudah diinginkan istrinya.


Dia kembali menghampiri Zoya dan meletakkan gelas tersebut di depan istrinya.


"Mas Hans kenapa menjemputku? Aku bisa naik taxi." ucap Zoya, dia memang sudah mengirim pesan pada Hans, jika dia bisa pulang sendiri. Zoya merasa kasihan jika Hans harus repot karena harus mengurus dirinya juga.


Tidak ada jawaban dari lelaki itu. Hans sendiri sebenarnya tipe orang pemikir. Setiap kali ada kejadian dia selalu ingin memikirkan ulang dengan beberapa pertimbangan seperti halnya saat dia akan pulang.


Flashback Back


Setelah membaca pesan dari Zoya, Hans memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Untuk hari ini, semua pekerjaannya selesai untuk sementara.


Dengan melipat kemejanya hingga ke siku. Dia memutuskan untuk pulang saja, dia merasa sangat lelah sekali. Sidang, bertemu klien di luar dan mengurus beberapa arsip. Agenda yang cukup melelahkan untuk hari ini.


Setelah meregangkan otot tubuhnya, Hans pun keluar dari ruangannnya. Dia melihat senyum ramah Zuri menyapasaat dia keluar dari ruangan.


"Jika sudah selesai kamu juga bisa pulang." ucap Hans saat melewati gadis itu. Padahal Zuri sejak tadi berharap akan mendapatkan sapaan yang lebih hangat.


Masih ada sebagian orang di kantor itu. Tapi, Hans memilih tidak peduli. Dia terus saja berjalan keluar.


"Aaaughhh... " pekik Zuri dengan bertumpu pada bahu dan lengan bosnya dari belakang.


Hans terkaget, dia pun menoleh. Terlihat sekali Zuri sudah meringis kesakitan dengan posisi tubuh tidak berimbang. Hans pun berbalik menahan tubuh tinggi semampai itu dengan kedua lengannya.


"Kakiku sakit, Pak." ucap Zuri ketika mendapat ajakan Hans untuk sedikit bergeser ke bangku yang ada di depan kantornya.


"Tahan sebentar!" Hans masih membawa gadis berambut coklat itu untuk duduk.


"Sakit, Pak. Mungkin aku tidak bisa pulang sendiri." lirih Zuri dengan memijat kakinya yang terkilir oleh hellsnya.


Sejenak Hans terdiam. Kemudian, dia berbalik ke arah pos security.


"Plok...plok... plok." Hans menepukkan ke dua tangan memanggil security yang sedang berjaga.


Salah satu diantar mereka lari tunggang langgang saat mendengar panggilan orang nomer satu di kantor itu.

__ADS_1


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu." tanya security pada Hans.


"Tolong, urus Zuri. Kalau perlu antar dia sampai rumahnya."


"Untuk ganti ongkos perjalanan, kamu bisa menemui saya besok." titah Hans, saat mendengar semuanya, zuri seolah tidak percaya. Jika ada lelaki sekaku itu pada perempuan. Dia menatap punggung lelaki bertubuh tinggi atletis itu hingga akhirnya masuk ke dalam mobil.


Flash On


"Ada apa, Mas? Apa yang terjadi?" Zoya sudah sangat hafal dengan perubahan sikap suaminya. Sudah tiga tahun lebih dia menemani suaminya dalam naik turunnya kehidupan membuat Zoya mengenal Hans dengan baik dan secara detail.


"Tidak ada. Nanti saja saat kita sampai di rumah aku akan menceritakan semuanya dan meminta pertimbanganmu." ujar Hans. Dia menggenggam tangan istrinya yang berada di atas meja.


Zoya hanya menyuguhkan senyum di bibirnya. Dia tidak ingin terburu buru memaksa suaminya untuk bercerita. Padahal hatinya sudah di rundung rasa penasaran. Apalagi jika Hans akan mengatakan, jika dia akan menceritakan semuanya saat mereka sudah sampai di rumah.


###


Nilla sedang membaca buku dengan duduk bersila di atas tempat tidur. Sebelumnya dia sempat melihat jika wildan sedang menerima telpon dari Ummi.


"Apa kabar Ummi, Bang?" tanya Nilla saat melirik Wildan yang baru saja masuk ke dalam kamar. Pandangan perempuan yang masih mengenakan piyama celana panjang itu masih tertuju pada buku di depannya.


"Baik. Kamu baca buku apa? " tanya Wildan. Lelaki itu merebahkan diri di dekat Nilla dengan kepala di atas salah satu paha istrinya. Bahkan, tangannya kini mempermainkan ujung rambut Nilla.


"Bang... "


"Hem... jika aku lulus aku ingin bekerja? Apa Abang mengizinkan?" tanya Nilla dengan melirik wajah di bawahnya.


"Terserah kamu saja, yang penting bisa membagi waktu. Dan tidak menolak jika di ajak buat anak." goda Wildan. Seketika membuta Nilla memukul bahu Wildan.


"Abang ini, yang dipikirkan anak terus. Aku kadang takut, Bang. Jika aku tidak bisa memberi semuanya." ujar Nilla dengan menurunkan bukunya. Tatapan nya menerawang, yang dia cemaskan memang seperti itu.


"Asal kita sering bikin, insyallah suatu saat Allah pasti memberinya." jawab Wildan dengan menolehkan wajahnya mencium pinggang istrinya.


Padahal lelaki itu sedang menutup kegelisahan nya. Di telpon ummi menuntutnya untuk segera memberi keturunan. Jika sampai lama Nilla tidak bisa memberinya keturunan, dia meminta Wildan untuk menikah lagi. Ummi Maryam pun juga mengatakan jika Mayra bersedia menjadi istri kedua jika semua untuk Syiar agama. Bagi mayra menikahi Wildan berarti menguatkan dua posisi pondok pesantren untuk menyebarkan ajaran Islam.


TBC

__ADS_1


__ADS_2