
Wildan Pov
Aku membuka pintu kamar dengan sangat pelan. Pemandangan pertama yang aku lihat adalah dia, Nilla yang hanya duduk menatap keluar jendela. Tidak ada apapun di halaman sempit rumah milik kami, hanya beberapa bunga anggrek bulan dan di bawahnya kolam ikan kecil yang gemericiknya terdengar adem.
Hatiku yang tadinya emosi pun, mulai luluh saat mendapati istriku yang hanya terdiam membisu. Aku bisa melihat dia menahan tangis. Saat itulah, aku kembali merasa bersalah. Aku merasa terlalu jahat karena memaksanya untuk menikah denganku. Dengan alasan, semua warga kampung sudah tahu kabar aku dan dia akan menikah, hal itulah yang membuat Nilla tidak bisa menolak lagi. Dia memikirkan nama baik keluarganya dan keluargaku, dan aku memang sudah memperhitungkan itu sebelumnya.
Nilla, bukanlah gadis yang buruk. Aku sangat mengenalnya. Tapi, dia memang sangat keras kepala. Aku yakin, dia juga ada rasa padaku. Awalnya hubungan kami baik baik saja. Tapi, entah kenapa sikapnya jadi berubah drastis padaku. Dimana letak salahku, dia hanya membungkam membuatku semakin bingung.
Sejak kami menikah, dia seolah mengambil jarak padaku. Meskipun kami satu kamar tapi menatapku saja Nilla terlihat enggan. Kami, masuk kamar seperti terjadwal bergantian, kecuali saat kami sudah terlelap tidur. Aku belum pernah menyentuhnya sama sekali, bahkan dia masih mengenakan jilbabnya saat tidur.
Wildan mencoba mendekati Nilla yang masih tidak bergeming. Lelaki itu memilih duduk di dekat istrinya yang terus saja menatap ke arah jendela.
"Maafkan aku, Jika aku harus memaksamu. Tapi aku tidak ingin pernikahan kita punya cerita yang seperti ini." Nilla masih membisu mendengarkannya. Dia terus saja menatap ke depan dengan tangan saling menggenggam di atas pangkuan.
"Seharusnya pernikahan ini adalah sebuah ladang untuk mencari pahala bukan untuk bermusuhan." lanjut Wildan. Dia ingin sekali mengemas rasa kecewanya dalam sebuah kesabaran, karena dia imam dalam keluarganya. Baik buruk keluarganya kini ada di tangannya.
"Apa yang harus aku katakan?" gumam Nilla dalam hati. Dia sendiri menjadi gamang dengan hatinya. Tidak mungkin, dia mengatakan jika dia cemburu dengan Zoya, sahabatnya sendiri. Lebih tepatnya dia cemburu dengan cinta masa lalu Wildan yang masih memantikkan rasa cemburu di hatinya.
Nilla menghela nafas panjang, di luar hujan terdengar sangat deras membuat Wildan meraih remot AC untuk menaikkan suhunya, cuaca masih terasa gerah.
"Aku akan mandi terlebih dahulu! Jika ingin makan, di lemari pendingin ada mangut lele, tinggal menghangatkan saja." Dengan mengelus kepala Nila, Wildan pun berlalu menuju ke kamar mandi. Bukannya tidak bisa memasak Nilla memang sengaja tidak mau melakukan apapun agar Wildan tahu jika pernikahan ini tidaklah benar.
Nilla memejamkan matanya hingga beberapa butir air menetes dari kedua sudut matanya. sebenarnya, ada rasa bersalah saat membiarkan Wildan melakukan semuanya. Istri macam apa aku ini? Pertanyaan akan jati dirinya terus menerus berkelana di dalam kepala.
"Tapi aku bukanlah pelarian dari perasaan patah hatinya. Dia masih menyimpan rasa untuk Zoya." Satu sisi pikirannya pun tidak mau kalah untuk mengurai sebuah pemikiran dan prasangka yang membenarkan tindakannya selama ini.
Gadis yang mengenakan longdress warna pastel yang di padu jilbab segitiga warna merah hati itu pun beranjak ke dapur. Udara yang awalnya terasa gerah pun berlahan berganti dingin. Hujan saat ini mulai bercampur dengan angin. Nilla bermaksud membuat teh hangat.
"Buatin nggak, ya?" Hati kecilnya ingin membuatkan Wildan sekalian. Tapi, satu sisi hatinya menolak. Sejenak dia termenung, hingga akhirnya air yang dia rebus pun mendidih, membuatnya kembali tersadar.
Nilla mulai mematikan kompor, kemudian bermaksud menuangkan air mendidih ke dalam dua gelas yang udah dia siapkan.
__ADS_1
"Duaaarrr.....! "
"Payarrr... "
"Aaarrgghhh... " Suara petir dan pecahan gelas yang terjatuh terdengar bersamaan dengan teriakan Nila yang nyaring.
Wildan yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan handuk di pinggangnya itu pun terkaget, mendengar jeritan Nilla. Bergegas dia berlari mencari asal muasal terdengarnya suara yang membuat dirinya panik.
"Nil..." teriak Wildan saat melihat tangan Nilla bertumpu pada meja dapur berbahan keramik itu. Gadis itu sudah mengeluarkan air mata menahan sakit dan perih di kakinya yang sudah telihat memerah.
Kakinya kejatuhan gelas yang berisikan air panas. Tangannya tidak dengannya menyenggolnya saat terkaget karena suara petir yang menggelegar.
"Hati-hati Nil." Wildan memperingatkan Nilla karena pecahan kaca gelas yang bercecer di mana-mana. Tapi, gadis itu masih mengerang menahan sakit di kakinya.
Dengan hati-hati, Wildan mendekat ke arah Nilla dengan menyapu sebagian yang kaca yang sudan menjadi kepingan kecil.
"Ayo, aku bantu!" Wildan merengkuh tubuh kecil Nilla dan menggendongnya ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membasuh kakinya yang terkena tumpahan teh panas.
"Tahan, ya!" lirih Wildan. Lelaki yang masih mengenal handuk itu meletakkan Istrinya di closset. Berlahan dia menyiram kaki Nilla dengan air dingin. Kulit putih itu seketika menjadi memerah.
"Keluar dulu! Aku mau ganti." ucap Nilla saat menerima uluran baju yang baru saja diambil Wildan untuknya.
"Kenapa? Kamu istriku. Kita sudah halal, kan?" ucap Wildan dengan senyum di bibirnya. Dia merasa lucu saat melihat wajah kesal Nilla yang sedang menyuruhnya keluar.
"Kamu yang memaksaku melakukannya, kan?" jawab Nilla dengan tatapan kesal.
"Bang Wildan, cantiknya Abang." nada lembut itu membuat Nilla tidak lagi bergeming lagi. Wildan yang seperti tidak pernah marah menanggapi pemberontakkannya.
"Cepatan, keluar!" suara Nilla yang meninggi membuat Wildan kembali tersenyum. Tapi dia hanya membalikkan tubuh." kalau sudah, bilang saja! " ujar Wildan, masih dengan wajah tersenyum. Baru kali ini dia merasakan istrinya memeluknya dan memegang bahu bidangnya dengan sangat erat meski itu karena rasa sakit di kakinya.
"Sudah." lirih Nilla, membuat Wildan membalikkan tubuhnya, dia terkaget meski langsung diredamnya rasa kaget itu saat melihat Nilla melepas jilbabnya. Ini pertama kali dia melihat rambut hitam yang berkilau indah milik istrinya.
__ADS_1
"Mau dibantu, apa nggak?" Suara Nilla menyadarkan Wildan dari rasa kagum pada ciptaan Tuhan yang saat ini sudah jadi miliknya.
"Iya, cantik." Wildan langsung menggendong Nilla keluar dari kamar mandi. Saat kulit wajahnya bersentuhan dengan dada telanjang Wildan membuat degupan jantung Nila tak terkendali. Bahkan, desiran rasa aneh itu pun tidak luput menjalar di tubuh lelaki yang meletakkan tubuh istrinya di tempat tidur.
"Cepat pakai baju!" Ketus Nilla membuat Wildan yang akan berniat berganti baju pun mengurungkan niatnya. Dia malah kembali mendekat ke arah istrinya.
"Kenapa, Nil? "
"Kamu kesetrum ya, lihat ini?" Wildan tidak tanggung tanggung menggoda Nilla. Dia menarik tangan mungil itu untuk menyentuhkan roti sobek di perutnya yang masih terlihat samar.
"Apa apaan, Ini. Aku tidak tertarik." Dengan cepat Nilla menarik tangannya. Wajah merahnya tidak bisa berbohong lagi, membuat wildan tersenyum melihat kelakuan istrinya.
"Aku akan mengobati kakimu, setelah berganti baju, jangan kemana mana! " ucap Wildan, Nilla yang memang sulit dikendalikan memang harus selalu membuatnya untuk memberi peringatan.
###
Hans Menarik buku yang sedang dibaca Zoya. Sejak tadi dia merasa istrinya tidak memperhatikan kehadirannya sama sekali.
"Mas Hans, besok aku ada kuis." Keluh Zoya, dia baru bisa membaca materi kuis untuk besok setelah menemani Ale belajar dan mengantarkan putrinya sebelum tidur dengan dongeng.
"Sejak Kuliah kamu tidak perhatian lagi sama aku." Hans benar-benar menyingkirkan buku istrinya dengan melemparnya ke atas meja yang ada di pojokan ruangan. Tindakan Hans membuat Zoya kesal. Dilayangkan tatapan tajam ke arah suaminya yang kini memilih duduk di dekatnya.
"Nggak merayu Pak Bos nggak bayar kuliah, lo!" ancam Hans dengan mendekatkan wajahnya di ke arah Zoya. Wajah mereka hanya berjarak tipis saja.
"Kan, tabunganku masih banyak, malah bisa bayar sampai lulus!" jawab Zoya yang memang pemegang financial terbesar di keluarga.
"Sayang, aku kan, juga ingin dirayu!" Sudah tidak punya pasal untuk mengancam Zoya, Hans langsung merayu Zoya dengan mengunci tubuh mungil itu dengan kedua tangannya yang melingkar. Bibirnya menyentuh pipi cabi yang sedikit mengembang sejak Zoya hamil. Rengekan Hans memang mirip anak kecil yang meminta permen.
"Besok aku ada kuis, Mas. Aku ingin mendapatkan nilai yang bagus agar Mas Hans dan Mama tidak kecewa." jawab Zoya dengan tersenyum ke arah lelaki yang menjelma seperti anak kecil itu.
"Tapi, aku juga butuh perhatian, biar nggak kecewa." Masih dengan meletakkan dagunya di bahu mungil istrinya, Hans masih merengek. Wangi parfum vanila membuat imajinasi lelaki itu semakin liar. Dia tidak lahan untuk tidak mencium tengkuk putih yang menjadi salah satu bagian tempat favorit di tubuh istrinya.
__ADS_1
Zoya menanggapi Hans dengan mengulas senyum di bibir ranumnya. Kelembutan itu semakin membuat Hans berimajinasi liar. Tidak bisa menahannya, dia kemudian menggendong istrinya ke tempat tidur.
TBC