Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Panik ( Extra Part)


__ADS_3

Sore, sepulang dari kantor Kyara melajukan mobilnya ke sebuah kafe. Beberapa hari ini waktunya sudah tersita karena tumpukan pekerjaan. Belum lagi, Papa Indrawan yang terus mendesak Kyara untuk menerima pinangan dokter Daniel.


"Kurang apalagi Daniel, Ra? Usiamu juga lebih dari cukup untuk menikah." Kalimat Papa Indrawan terus saja terngiang di telinga gadis yang saat ini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lebih dari cukup, karena usia Kyara yang mulai menginjak dua puluh delapan tahun tapi gadis itu belum menggandeng calon teman hidupnya.


"Chiiittt..... " Kyara mendadak menginjak pedal remnya. Tubuhnya langsung terasa lemas memeluk setir, hampir saja dia menabrak lelaki yang sedang menyebrang jalan.


Lelaki itu, gegas dia bangkit dan mencari keberadaan lelaki bertopi itu. Bahkan dia sampai keluar mobil untuk keberadaan lelaki yang punya perawakan seperti Rey. Ah bukan, dia pikir itu hanya karena beberapa hari ini pikirannya berkutat tentang lelaki itu. Rey begitu sulit ditepi dari hatinya dengan beberapa alasan yang tepat untuk membenci lelaki itu.


Kyara kembali masuk ke dalam mobil. Kali dia melajukan mobilnya dengan begitu tenang, hingga mobil sedan itu membelok di sebuah cafe.


Sejenak dia memijat keningnya sebelum keluar mobil. Hari yang melelahkan ini awalnya dimulai dari kesepakatan dengan papanya, jika dia tidak bisa menerima lamaran Daniel tapi tidak boleh menutup diri saat lelaki itu mendekatinya. Dan sore ini Daniel mengajaknya bertemu di sebuah kafe.


Daniel melambaikan tangannya saat melihat Kyara di depan pintu dengan pandangan mencari keberadaan seseorang. Kyara hanya tersenyum dan berjalan menghampiri meja lelaki berahang tegas itu.


"Mau pesan apa?" tanya Daniel kemudian memanggil pelayanan.


"Kopi saja." jawab Kyara, yang kemudian ditulis oleh pelayan.


Gadis yang cantik dengan sejuta pesona dan karakter yang begitu kuat. Puji Daniel dengan menatap gadis di depannya tanpa berkedip.


"Jangan memandangku seperti itu, Dok! Make up ku mungkin sudah luntur karena keringat." ucap Kyara yang mulai salah tingkah. Daniel hanya tersenyum saat gadis itu membenarkan posisi duduknya. Tanpa polesan make up gadis itu sudah terlihat sangat cantik.


"Aku jatuh hati padamu, Ra. Sejak kita bertemu hingga saat ini." ucap Daniel tanpa basa basi. Tapi, Kyara tidak langsung menanggapi karena pelayan saat ini sudah datang membawa dia cangkir kopi.


"Aku bukan tipe orang yang pinter basa basi, Ra." ucap Daniel.


"Beri aku waktu satu minggu, Dok untuk menjawabnya." pinta Kyara. Dia hanya perlu memantapkan keputusannya. Sejak kemarin dia pun ingin melanjutkan hidupnya tidak berkutat dengan bayangan semua seseorang.


"Oh ya, sebenarnya sore ini aku visit. Tapi, kamu bisa bertemu hari ini jadi aku berusaha mengikuti jadwalmu. Tapi, saat ini ada jadwal operasi, jadi aku tidak bisa menemanimu lebih lama." jelas Daniel dengan mengenakan kembali jaketnya.


"Santai saja, Dok. Tugas tetap yang utama." jawab Kyara dengan tersenyum memperhatikan lelaki itu.


"Mas, Ra. Jangan dak dok saja." protes Daniel. Sebelum meninggalkan kafe. Kyara hanya menatap punggung lelaki itu hingga menghilang dari pandangannya.


###

__ADS_1


Seharian penuh Wildan mencari keberadaan Nilla. Bahkan, dia sempat datang ke rumah Zoya yang ternyata, Zoya berada di klinik bersalin.


Perutnya pun mulai berbunyi karena sudah melewatkan makan siangnya. Terus terus saja mencari keberadaan istrinya. Hari ini dia mengkosongkan jadwal mengajarnya.


Nilla. Perasaannya semakin gelisah memikirkan Nilla. Apa istrinya sudah makan apa belum? Bahkan, bagaimana keadaannya saat ini? Dimana dia berada? Apalagi jika teringat Nilla sempat pingsan. Hatinya semakin berkecamuk dengan rasa cemas yang begitu hebat.


Kos Hesti.


Wildan sempat menelpon Hesti, teman terdekat Nilla di kampus, dia memang mengatakan jika dia belum bertemu Nilla. Tapi, Wildan akan mencoba untuk menemui gadis itu di kosnya.


Wildan melajukan mobilnya ke kos khusus putri itu. Dia berharap bisa menemukan Nilla di sana.


Lelaki yang sudah terlihat kusut itu memarkir mobilnya di tepi jalan depan kos Anyelir. Kosan Hesti.


Bisa terlihat guratan rasa cemas terlihat di wajah Wildan. Mungkin jika ada mahasiswa yang melihatnya seakan tidak percaya jika itu dosen ganteng yang selalu tampil rapi dengan wajah yang selalu terlihat sumringah.


Beberapa kali dia memencet bel yang ada di luar gerbang. Terlihat Hesti berjalan tergopoh- gopoh mendekati pintu gerbang. Kamar Hesti memang yang paling dekat dengan pintu gerbang.


"Assalamu'alaikum, Pak." Sapa Hesti terlihat gugup. Dia sudah bisa membaca maksut kedatangan Wildan.


"Waalaikum salam." jawab Wildan.


"Ehh... tid.... "


"Jangan bohong!" Sergah Wildan dengan tegas. Dia sudah tidak ingin berbelit belit saat melihat sepatu Nilla di depan. Dia sangat hafal flat dengan warna kulit merah hati yang pernah dia belikan saat pergi ke Bandung.


"Iya, Pak. Tapi saya mohon jangan temui Nilla saat ini!" jawab Hesti yang sudah diminta Nilla merahasiakan keberadaannya.


"Nilla sepertinya belum siap bertemu Bapak. Seharian, dia menangis terus." jelas Hesti membuat Wildan terdiam. Hatinya kembali merasa bersalah saat mendengar istrinya tidak ingin menemuinya lagi.


"Nilla sepertinya sangat kecewa." lanjut Hesti kembali meyakinkan jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Nilla.


"Apa dia sudah makan? Bagaimana keadaannya? Tadi aku sempat datang ke PMI, tapi dia sudah tidak ada." Wildan tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya, membuat Hesti begitu dilema.


"Dia hanya makan roti dan minum jus."

__ADS_1


"Aku pesankan nasi padang sekarang, ya? Biasanya dia paling suka dengan nasi padang." tawar Wildan dengan mengeluarkan ponselnya.


"Maaf, Pak. Sepertinya Nilla belum bisa makan nasi, tadi dia sempat muntah setelah makan nasi pecel. Dan saya tawari nasi padang dianya menolak." jelas Hesti tentang keadaan Nilla.


"Tolong bujuk dia untuk periksa, saya takut di sakit lambung." Wildan teringat dari semalam Nilla tidak makan nasi. Dan pikiran stress pun bisa memicu asam lambung yang naik.


"Oh ya, tolong berikan ponsel ini pada Nilla." Wildan menyerahkan ponsel milik istrinya pada Hesti.


Mereka yang sedari tadi berdiri di depan gerbang kos pun mengundang perhatian anak kos lainnya. Setelah meminta no ponsel Hesti, Wildan pun pamit. Raut kecewa terlihat di wajah lelaki itu.


###


Hans terlihat tegang saat melajukan mobilnya menuju klinik. Usia kandungan Zoya baru tiga puluh lima minggu. Bagaimana dia akan melahirkan? Tapi Zoya sudah mengeluhkan rasa mulas pinggangnya yang terasa pegal sekali.


"Hati hati, Hans. Jangan panik!" Mama Shanti mengingatkan putranya saat wajah Hans terlihat tegang dengan sesekali menoleh ke arah Zoya.


Sampai di klinik Zoya langsung di tangani Dokter, " Pembukaan dua, masih harus bersabar ya!" ucap Dokter Diah pembukaan demi pembukaan sedikit memberikan rasa mulas dan sedikit nyeri.


Zoya langsung di tempatkan di ruangan. Setelah Infus dipasang dan dipastikan kondisi Zoya masih stabil meski dengan tekanan darahnya yang masih dalam tahap pengawasan.


"Biar tidak terasa bisa nonton TV Atau buat jalan jalan di luar, Bu." saran bidan yang mewakili dokter kandungan.


" Kalau ada sesuatu panggil kami saja, Pak. Nanti kami akan mengecek lagi kondisi Bu Zoya." ujar salah bidan tersebut sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Baru pembukaan dua, itu artinya masih lumayan lama. Mama Shanti langsung memutuskan pulang terlebih dahulu. Ale butuh istirahat.


"Ambil nafas buang pelan pelan ya!" ucap Hans saat menemani Zoya.


"Mas Hans, sakit! Punggungku pegal sekali." keluh Zoya lirih saat perutnya terasa mengejang. Hans terus saja mengenggam tangan istrinya. Satu tangannya mengusap punggung istrinya. Saat istrinya menahan sakit, keringat mengucur di wajah Zoya, sesekali Zoya merasakan lega seperti itu terus membuat Hans rasanya tidak tega melihat istrinya sedang berjuang.


Satu jam kemudian dokter datang untuk memeriksa kembali kondisi Zoya. Dokter menyatakan baru pembukaan empat, padahal bagi Zoya itu sudah terasa lama sekali.


"Kalau mau makan makan saja, Bu. Nanti kalau mengejan saat lahiran biar punya tenaga." saran Dokter. Mereka kembali meninggalkan ruangan.


Zoya memilih turun dari tempat tempat tidur dibantu Hans, tapi dia tak mampu untuk berjalan saat perutnya kembali mulas.

__ADS_1


"Mas, sakit." lirih Zoya. Sambil berdiri, Hans menyandarkan tubuh Zoya di dada bidangnya. Tangannya terus mengelus punggung istrinya yang menurut Zoya sedikit memberi rasa lega. Sesekali Zoya mencengkeram kemeja bagian punggung suaminya untuk menahan rasa sakit di perutnya."Atur pernafasanmu, sayang." bisik Hans, saat merasakan Zoya kesakitan. Masih dengan posisi berdiri dia terus saja menjadi sandaran tubuh Zoya. Rasanya tidak tega melihat istrinya seperti itu. Tapi, Zoya memang ingin melahirkan secara normal.


TBC


__ADS_2