
Amarah yang mengisi hatinya, membuat Zoya memilih duduk di pinggir tempat tidur. Menunggu Hans keluar dari kamar mandi. Meskipun sudah berusaha menahan marahnya.Tapi, Zoya masih saja tidak bisa meredamnya. Dia sangat kecewa dengan Hans yang mana secara diam diam sudah mengambil buku yang menjadi privacynya.
"Zoy, kenapa tidak tidur? " tanya Hans saat keluar kamar mandi dan mendapati Zoya mematung menatapnya. Dia belum menyadari tatapan tajam istrinya. Hans masih asyik mengacak rambut basahnya. Kilatan tetesan air yang masih melembabkan tubuh kekar itu membuatnya semakin terlihat seksi. Tapi, itu tidak mengurangi rasa kecewa Zoya.
"Kenapa, Sayang? " ulangnya dengan mengusap-usap dagu istrinya dengan lembut. Hans masih belum mengerti jika Zoya menatapnya dengan marah.
"Apa ini, Mas? " Zoya menunjukkan diary usang miliknya di depan Hans dengan mata berkaca kaca.
"Hmmmm.... maaf, Zoy. " ucap Hans gelagapan karena tidak bisa lagi mencari alasan saat ketahuan menyimpan diary milik istrinya.
"Mas Hans keterlaluan, Mas. Mas Hans tidak pernah menghargaiku. " Air mata Zoya sudah meleleh membasahi pipinya. Hans terdiam. Dia merasa bersalah telah mencuri tahu tentang isi diary Zoya.
"Maaf, Zoy. " Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Hans.
"Maaf, maaf hik hik hik..... " Zoya menumpahkan tangisnya.
"Mas Hans tidak pernah menghargaiku. Mas Hans juga tidak pernah menganggapku. Hik hik hik. "
"Zoy, bukan begitu..." Hans tidak mengerti lagi harus menjelaskan apa pada istrinya.
"Apalagi? Dari awal menikah Mas Hans tidak pernah bersikap baik, bahkan lebih mementingkan urusan mantan pacar dan yang membuat aku sakit hati saat wanita itu mencium suamiku di depan mataku dan suamiku menerimanya begitu saja. hik hik hik. " Hans mengusap tengkuknya, dia merasa ini bukan masalah buku diary lagi. Ini lebih ke ungkapan amarah Zoya yang selama ini tertahan. Ya, Hans membiarkan Zoya meluapkan semuanya. Mungkin, itu akan jauh lebih baik.
"Aku salah, Zoy. Aku minta maaf. Jangan menangis lagi, ya! " bujuk Hans, lelaki berbibir tipis itu mendapat penolakan saat akan menyentuh bahu kecil yang bergetar karena tangisnya.
"Belum lagi saat Mas Hans merenggut kegadisanku dengan mem***kosaku. Itu pertama kali dan seharusnya menjadi terindah untukku, bukan malah menyakitiku. hik hik hik." Semarah-marahnya Zoya, suaranya masih saja terdengar lembut. Entahlah semua ini malah membuat Hans ingin tertawa tapi di tahannya. Mungkin, pembawaan ibu hamil yang aneh. Jika seperti ini mendingan istrinya merengek menginginkan suatu makanan dari pada harus melihatnya menangis.
"Zoy, aku minta maaf. Aku memang banyak salah sama kamu. Aku akan berusaha memperbaikinya, Zoy. " Kali ini Hans memaksa perempuan yang duduk dengan menangis di pinggir tempat tidur itu tenggelam dalam pelukannya.
"Kamu boleh memukulku, jika itu bisa membuatmu lebih baik. " ucap Hans dengan mengambil lengan tangan Zoya dan memukulkan di perut datarnya.
"Bugh... bugh....bugh... "
"Auhhh... " ringis Hans saat tangan mungil itu benar benar memukulnya. Hans tidak menyangka jika Zoya benar-benar memukul. Padahal, selama ini marah pun dia hanya terdiam, paling mentok menangis. Berteriak pun belum pernah dan baru kali ini tangan mungil itu bertindak anarkis.
__ADS_1
"Aku kesal, aku marah sama Mas Hans. " racau Zoya membuat Hans menenggelamkan wajah penuh tangis istrinya dalam perut kerasnya. Tangannya mengusap punggung kecil itu dengan lembut.
"Kamu boleh marah, boleh membenciku tapi jangan pernah berfikir meninggalkanku. Aku tidak akan sanggup, Sayang. " ujar Hans membuat rematan tangan istrinya di kaos belakangnya sedikit mengendur.
Hans meregangkan pelukannya kemudian memberi jarak untuk menatap wajah sembab karena tangisan itu.
"Sayang, aku minta maaf. Jangan menangis lagi, kasian adik bayinya ya! " lirih Hans dengan mengusap ke dua pipi lembab Zoya secara bergantian. Lelaki itu menundukkan tubuh dan menekuk kedua kakinya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Zoya.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Tapi, aku mohon jangan menangis lagi. Kasian yang perut. " Hans melingkarkan lengannya di pinggang Zoya. Dia mendaratkan ciuman di perut Zoya yang masih datar.
"Mas..! " Dengan sesenggukkan Zoya memperingatkan Suaminya. Berlahan, tangannya mendorong tubuh Hans karena merasa geli.
"Untuk diary itu aku minta maaf. Aku hanya ingin tahu masa masa remajamu saja, Zoy. Kita sudah menjadi suami istri tidak ada yang perlu di tutupi, Sayang. " Hans masih membujuk Zoya agar lebih tenang.
"Tapi, aku malu. Itu kan isi hatiku jaman dulu. " Zoya memalingkan wajahnya karena dia benar benar marasa malu.
"Kalau sekarang? Siapa yang ada di hatimu? " tanya Hans cukup penasaran.
"Rambutnya dikeringkan dulu, biar tidak masuk angin. "
"Hairdyernya di depan TV, Mas. " ucap Zoya membuat Hans kemudian berjalan keluar kamar.
Sesaat kemudian dia membawa hairdryer dan kemudian membuka gelungan handuk di kepala Zoya.
Dengan telaten Hans mengeringkan rambut Zoya. Rambut yang memang pada dasarnya lurus itu semakin teras lembut saat mengering. Zoya memang tidak terlalu banyak membutuhkan perawatan yang akan membuat Hans semakin menyukai istrinya. Kecantikan alami yang dimilikinya sudah cukup untuk menghipnotisnya dalam pesona gadis belia.
###
Sidang ke dua kasus Antonio baru saja selesai untuk sementara. Kali ini, hakim memberi jeda waktu yang cukup lama. Kasusnya semakin rumit dan berkelit, itulah mengapa Hans mengajak Kyara ikut dalam persidangannya. Agar dia bisa membaca dan belajar beberapa kasus pidana untuk menambah pengalamannya.
Mereka berjalan menuju mobil Hans yang terparkir di depan gedung pengadilan. Hans ingin sekali cepat pulang.
"Pak, kasus Antonio berarti masih termasuk buntu. Semua bukti mengarahkan dan memberatkannya." ucap Kyara saat berada di dalam mobil.
__ADS_1
Hans melajukan mobilnya menuju kantor firmanya. Suasana yang sudah semakin sore membuat jalanan sedikit ramai. Seharian dia tidak mendapat kabar dari Zoya membuatnya ingin segera melakukan panggilan video call untuk bisa melihat anak istrinya.
"Kita harus menemukan bukti baru. Karena, aku yakin bocah itu tidak bersalah." jawab Hans masih menatap ke jalan di depannya.
Sesekali Kyara menatap Hans penuh kekaguman. Kharismatiknya saja sudah sangat menarik, apalagi saat mengenal karakternya yang cukup kuat. Pendiam, emosional, lembut dan smart, sebuah ramuan yang membuat lelaki di sebelahnya itu penuh pesona.
"Jangan menatapku seperti itu. Istriku sedang hamil. " ucap Hans tanpa menoleh ke arah gadis di sebelahnya membuat Kyara tersenyum.
"Coba saja kita bertemu sebelumnya ya! " kelakar gadis itu, membuat Hans menggeleng.
" Belum tentu aku jatuh cinta padamu. Tidak mudah membuat aku jatuh cinta dan tidak mudah pula hidup bersama lelaki emosional sepertiku. Aku juga tidak menyukai tipe gadis sepertimu. " Hans memang tidak ada basa basinya jika berbicara dengan Kyara . Dia tahu Kyara gadis yang cukup welcome karena hidupnya lebih lama di luar negeri.
"Benarkah? Apa perlu aku akan mencobanya? " jawab Kyara. Sejenak mereka terdiam. Hans membelokkan mobilnya ke depan kantornya.
"Jaga batasanmu. Aku bisa melemparmu dari kantorku sekarang juga."
"Maaf, Pak Bos. Aku hanya bercanda. "
"Jangan sampai aku memakimu untuk kedua kalinya, ok. "
"Siap, Pak. " lirih Kyara. Ternyata benar rumor yang beredar. Hans Satrya Jagad adalah sosok dengan karakter yang sangat kuat dan keras.
Kyara kemudian turun dari mobil Hans. Gadis itu pun tersenyum, jika saja masih ada satu lelaki yang seperti itu. Dia pasti tidak akan berhenti untuk mengejarnya.
Langkah panjang Hans membuat Kyara tertinggal. Masih dengan tampang coolnya Hans memasuki kantornya.
"Papa... " Suara yang sangat di hafal kini menggema di seluruh sudut loby kantor papanya.
"Mas. " Zoya mengambil tangan Hans untuk salim kemudian mengalihkan pandangan ke arah Kyara yang baru saja masuk ke dalam.
Hans hanya terkekeh saat tatapan tajam istrinya tertuju ke arah Kyara. Ya, dia hanya berfikir, mungkin anaknya kelak akan banyak mirip ke dia dari pada Zoya. Tatapan tajam Zoya baru dia temukan saat istrinya sedang mengandung anaknya.
Bersambung....
__ADS_1