
Berlahan Nilla membuka matanya. Pertama yang dia lihat adalah langit-langit ruangan dimana dirawat. Sesaat kemudian dia menatap sosok di sampingnya, sosok yang sedari tadi tidak pernah melepaskan genggaman tangannya.
"Kamu sudah sadar, Nil?" ucap Wildan saat mengetahui Nilla sudah membuka matanya. Lelaki itu kemudian bangkit. Nilla masih terdiam, menatap wajah lelaki yang saat ini tersenyum padanya.
"Bang, aku ingin pulang saja." Nilla memaksa bangkit. Dia merasa tidak perlu untuk diinfus.
"Nil, untuk sementara kamu harus diinfus untuk menambah nutrisi dalam tubuhmu." Wildan berusaha menahan gerakan Nilla, tapi perempuan berkarakter keras itu berusaha menampiknya.
"Aku akan baik baik saja." lanjut Nilla masih berusaha bangkit hingga dia terduduk di atas bed.
"Tidak hanya kamu saja yang harus baik baik saja, sayang." ucap Wildan, kemudian ikut bangkit dan duduk di tepi bed dengan arah berlawanan dengan istrinya.
"Dia juga! Dia butuh nutrisi untuk tumbuh sehat." lanjut Wildan dengan meletakkan telapak tangannya di perut istrinya.
"Maksud, Abang?" Seketika Nilla langsung mendongak ke arah wajah yang tidak menyurutkan senyum sedikit pun.
"Iya sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi ibu." Wildan membingkai wajah cantik istrinya. Rasa bahagia tidak bisa ditutupi lagi.
"Benarkah, Bang?" tanya Nilla kembali meyakinkan apa yang telah dia dengar. Dia seolah belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Iya benar, kamu hamil empat minggu, Sayang." lanjut Wildan dengan melabuhkan ciumannya di kening istrinya. Rasa bahagia menyeruak dalam hati perempuan yang saat ini hanya mematung dengan mata yang berkaca kaca. Bagi ini sungguh keajaiban.
"Apa karena ini, Abang bersamaku?" pertanyaan Nilla membuat Wildan memberi jarak, lelaki itu ingin sekali mengerti maksud pertanyaan istrinya dengan menatap matanya.
"Maksudmu apa, Nil? Kamu istri Abang, tentu saja Abang selalu ingin bersamamu." ucap Wildan dengan menatap air mata yang mulai meleleh.
"Kadang aku merasa Abang tidak pernah mencintaiku. Aku masih merasa Abang hanya menjadikan aku sebagai pelarian. Belum lagi, kedatangan Ummi dan gadis itu membuatku yakin jika selama ini ucapan Abang hanya untuk menenangkan hatiku." Saat mengungkap perasaannya Nilla kembali menangis. Memang tidak lagi dengan histeris, tapi kalimatnya mengungkapkan perasaannya yang sudah begitu terluka.
"Sikap Abang kemarin memang salah, Nil. Maafkan Abang! Tapi, percayalah Abang mencintaimu, Zoya hanya perasaan masa lalu Abang. Dan biarlah itu menjadi rahasia kita." Perasaan bersalah Wildan membuat hatinya berdenyut nyeri. Dia tidak pernah menyangka jika Nilla masih meragukan perasaannya.
Sejenak mereka terdiam, hanya isak tangis Nilla yang terdengar lirih. Dan itu membuat Wildan memeluk istrinya. " Maafkan Abang, sudah membuatmu bersedih. Maafkan Abang yang ternyata sudah banyak melukaimu." ucap Wildan kemudian merengkuh kepala istrinya. Sudut matanya pun menitikkan air mata. Perasaan bersalah dan berdosa pun menguasai hatinya.
Nilla hanya bisa menangis, dia ingin mengeluarkan semua rasa kecewanya. Tapi di sisi lain, dia merasakan bahagia karena akan menjadi seorang ibu. Menjadi seorang ibu, diri dan hatinya bukan lagi menjadi prioritas utama, tapi dia akan melakukan apapun untuk bayi yang saat ini tumbuh dalam rahimnya.
"Sayang, maafkan Abang belum bisa menjadi imam yang baik." ucap Wildan dengan mengurai pelukannya dan menatap mata lembab istrinya.
"Beri Abang kesempatan untuk membuktikan jika Abang mencintaimu, Nil. Mencintai kalian." lanjut Wildan, tatapan penuh permohonan membuat Nilla mengangguk. Rasa bersalah membuat Wildan belajar banyak bagaimana memahami perasaan seorang istri.
Dua hari di rumah sakit, Nilla diperbolehkan pulang dengan catatan harus menjaga kondisi dan asupan nutrisi karena semua itu sangat berpengaruh pada perkembangan janin.
"Ting tong... ting tong... " Suara bel membuat Wildan beranjak menemani Nilla yang sedang bersantai dengan menyiapkan potongan buah yang sudah diinginkan istrinya.
__ADS_1
Langkahnya terburu karena dia tahu Ummi dan Abah yang datang berkunjung. Meskipun, begitu dia belum mengatakan pada Nilla tentang kedatangan orang tuanya.
Saat Ummi Maryam menelpon Wildan, Wildan memberitahu jika Nilla sedang opname, jadi mereka belum bisa pulang ke rumah Abah. Ummi merasa sangat bersalah, beliau merasa semua karena ulahnya membuat menantunya stress hingga di rawat di rumah sakit.
"Assalamulaikum... " ucap Ummi saat menghampiri Nilla sedang duduk di dekat kolam ikan. Seketika itu pula Nilla terkaget, dia tidak menyangka ibu mertuanya akan datang saat ini.
"Waalaikum salam." jawabnya kemudian membuat Ummi Maryam Mendekat.
Wanita paruh baya itu, melirik buah di samping menantunya. Kemudian, memilih duduk di dekat Nilla yang masih terlihat kaku.
"Maafkan Ummi sudah membuatmu sakit." ujar Ummi Maryam dengan memeluk Nilla. Nilla masih merasa bingung kenapa tiba tiba ibu mertuanya jadi begitu baik dengannya.
"Bukan karena Ummi." sahut Nilla singkat. Nilla belum mengerti semua rentetan kejadian saat Abah memarahi Ummi habis habisan.
"Ning, maafkan kesalahan Ummi selama ini. Maafkan Ummi yang menuntut hadirnya keturunan." Ummi seperti ingin menangis mengatakan semuanya.
"Sungguh Ummi khilaf, Ummi minta maaf." Ummi Maryam tertunduk dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuknya.
"Jangan seperti itu, Ummi. Mungkin, sikap Nilla juga kasar dengan Ummi. Maafkan Nilla juga." Nilla mengelus punggung tangan yang sudah keriput itu. Dia sendiri masih merasa heran dengan perubahan sikap Ummi yang tiba-tiba.
"Tidak sepantasnya Ummi membuat putri Ummi dipoligami, apapun keadaanmu, seharusnya Ummi tidak bersikap seperti itu. Maafkan Ummi, Ning." ujar Ummi membuat Nilla terenyuh, baru kali ini dia merasakan perasaan sayang dari mertuanya.
"Kamu sakit apa, Ning? Kenapa hanya makan buah saja?" tanya Abah yang berjalan beriringan dengan Wildan.
"Abah dan Ummi akan mendapatkan cucu lagi." sahut Wildan berhasil menarik perhatian kedua orang tuanya.
"Iya Ummi, Abah. Nilla hamil empat minggu." jawab Wildan dengan tenang.
"Alhamdulillah." Abah dan Ummi bahkan berucap syukur hampir bersamaan. Mereka terlihat sangat bahagia mendengarnya.
"Ya Allah, maafkan Ummi yang selalu memojokkan keadaanmu. Padahal Ummi saja yang tidak sabar." Dengan air mata yang sudah meleleh karena rasa bahagia, Ummi Maryam memeluk menantunya.
"Terima kasih Ummi." ucap Nilla singkat, dia sudah tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya lagi kecuali dengan senyum yang tidak surut dari bibirnya.
Wildan merasa bahagia saat melihat senyum ceria istrinya. Abah yang ternyata sudah menyayanginya membuat Ummi pada akhirnya bisa menerima kenyataan jika jodoh itu adalah sudah sesuatu yang ditakdirkan. Wildan kemudian berjalan mendekat ke arah istrinya,, " Aku mencintaimu."ucapnya dengan mencium puncak kepala sang istri. Perlakuan Wildan membuat Nilla tersipu malu karena itu di lakukan di depan Ummi dan Abah.
Abah dan Ummi yang melihatnya pun tersenyum. Pertama kalinya, putranya menunjukkan perasaan cinta. Mereka berharap keluarga mereka akan menjadi keluarga yang sakinah, mawardah, warrahmah.
###
Kyara memang tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Sore ini, baru saja dia bertemu dengan Daniel. Bayangan dan keberadaan Rey yang selalu mengikutinya seolah mendesak Kyara untuk tidak bisa menerima lamaran Daniel.
__ADS_1
Entah apapun komentar papanya, dia sudah tidak peduli lagi. Kali ini, saat pertama dalam hidupnya perasaan mengalahkan logikanya.
Kyara terus menginjak pedal gas mobilnya untuk terus melaju kencang diantara hujan yang mengguyur seluruh kota. Mobil sedan miliknya terus melaju dengan kecepatan tinggi. Dia ingin membuang kegelisahannya dan memikirkan kembali rencana hidupnya di suatu tempat yang lebih tenang.
Kyara terlihat panik ketika mobil yang saat ini dia kemudikan mendadak mogok. Dia sedikit ragu saat akan keluar dari mobil, hujan yang deras lumayan deras dan jalanan sepi. Tapi, jika dia tidak mencoba memperbaikinya sekarang sore akan berganti petang dan itu akan membuat dirinya bertambah sulit.
Saat hujan mulai mereda, Kyara pun keluar dari mobil. Kemudian membuka kap mobil. Tapi, dia tidak tahu, apalagi yang harus dia lakukan. Kyara hanya menatap mesin mobilnya dengan pikiran berkelana mencari cara untuk kembali membuat mesin mobilnya kembali hidup.
"Ciiittt.... " Sebuah decitan rem motor yang berhenti di sampingnya membuat kyara menoleh.
Masih mengenakan helm, si pemilik motor itu turun mendekatinya, membuat Kyara dengan spontan memundurkan langkahnya.
Tanpa bicara, lelaki itu kemudian menunduk meneliti mesin mobil Kyara, membuat Kyara hanya menatapnya heran.
"Makanya jangan suka keluyuran. Cuaca sangat buruk dan jalan ini sangat beresiko untuk dilewati seorang gadis, apalagi sendirian." omel lelaki itu dengan membenarkan beberapa kabel yang terlepas.
Suara itu, dia mengenalnya suara itu mirip dengan suara Rey. Ah, tidak.... Dia kembali berfikir jika itu hanya sebuah prasangka seperti biasanya. Hatinya selalu menghubungkan sesuatu yang akhir akhir ini terjadi dengan Rey.
"Coba nyalakan!" titah lelaki berhelm itu, tapi tak dihiraukan oleh Kyara. Gadis itu masih mencoba berfikir bagaimana cara mengetahui wajah lelaki itu. Jika dilihat dari gaya dan perawakannya dia mirip sekali dengan lelaki yang sudah sangat dia rindukan.
"Hai... Coba nyalakan mesinnya!" ucap lelaki itu sekali lagi. Dia tahu Kyara sedang melamun. Saat Kyara akan berbalik ke arah kemudi.
"Aaauughhh!" pekik Kyara saat hampir terjatuh. Tapi tangannya masih menahan di badan mobil.
"Ra, kamu kenapa?" Refleks lelaki itu berlari menghampiri Kyara yang pura pura meringis kesakitan. Kyara memang pura pura hampir terjatuh untuk melihat reaksi lelaki itu.
Kyara tercengang setelah lelaki itu membuka helmnya." Bang Rey." lirihnya hampir tidak percaya saat melihat lelaki itu tiba tiba muncul.
"Maksudnya, apa?" tanya Kyara dengan memberi penolakan saat Rey akan menyentuh bahunya.
"Ra..." Rey, menatap gadis itu penuh permohonan.
"Pergilah, Bang! Aku tidak butuh dipermainkan." ucap Kyara dengan berdiri tegak.
"Jika ingin pergi jangan setengah setengah itu hanya akan membuatku sekarat." Kyara menangis. Sontak membuat Rey semakin merasa bersalah. Ini pertama kalinya dia melihat gadis tangguh itu menangis.
"Bukan maksutku seperti itu, Ra."
"Terus apa? Aku kira Bang Rey selama ini di Jerman tapi... " Kyara tidak mampu meneruskan kalimatnya. Dia hanya bisa menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Rasa dia sangat kecewa dengan sosok di depannya.
"Aku di Jerman, Ra. Baru sebulan, Aku di Indonesia. Tapi, aku tidak tahu bagaimana aku bisa menemuimu, dengan keadaanku yang sekarang." ucap Rey, tapi Kyara sudah tidak peduli. Dia masih merasa kesal karena dipermainkan.
__ADS_1
TBC