Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Hasrat Cinta Alexander (1)


__ADS_3

"Aku tidak tahu lagi bagaimana cara berterima kasih dan meminta maaf pada Mas Alex." ujar Aina dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya begitu mengiba di depan lelaki yang masih mendapat perawatan karena tusukan pisau.


"Aku tidak apa-apa, Aina. Setidaknya kamu baik-baik saja. Terus kenapa kamu sampai berada di tempat itu?" jawab Alex dengan kalimat lirihnya.


Sepasang mata yang berada di balik jendela itu pun mengembun. Ada yang menyesakkan dada saat senyum Alex tertuju pada gadis berwajah polos yang saat ini menemaninya.


Kirey mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruang rawat inap Alexander putra dari Hans Satria Jagad. Gadis berkerudung ungu itu pun menyandarkan tubuhnya yang terasa lemah di dinding.


Apa yang dia lihat baru saja membuatnya menyadari, sekuat apa pun dia mencoba menarik perhatian Kak Alex tetap saja tidak berpengaruh pada lelaki pendiam itu. Bahkan, sampai saat ini, dia merasa Alexander begitu enggan hanya untuk menatapnya.


"Seharusnya aku tidak heran dengan ini. Seharusnya hatiku berhenti berharap akan cinta lelaki yang tidak pernah menganggapku." Kirey bermonolog pada hatinya. Bibirnya tersenyum sinis menertawakan kebodohannya selama ini. Bertahun-tahun dia mencintai Alexander tapi lelaki itu tidaklah peduli.


Gadis yang mengusap air dari sudut matanya itu kemudian menghela nafas panjang, seolah ingin melenyapkan rasa sesak di dalam dadanya. Dengan menguatkan hati, Kirey kembali berjalan meninggalkan ruangan yang menjadi niat awal dari tujuannya.


Dengan pikiran menerawang dan langkah gontai, Kirey menyusuri koridor rumah sakit yang cukup sepi. Seharusnya dia memupuskan semua harapan atas rasa cintanya pada sosok Alexander sejak dari dulu.


"Hey... " benturan seseorang pada lengannya membuat Kirey tersadar.


"Kak Ale, Tante Zoya." sapa Kirey sambil tersenyum dan kemudian menyalami kedua wanita yang sudah dekat dengannya.


"Siapa yang sakit, Key?" tanya Alexa. Ini memang rumah sakit milik Gayatri wanita sepuh itu sudah mengambil alih kepemilikannya atas nama menantunya Alexa Salma Aqilla.


"Teman, Kak. Kebetulan di rawat di sini." jawab Kirey berbohong.


"Maaf, Kak, Tante Kirey duluan. Soalnya ada janji sama klien." lanjut Kirey, dia berusaha menghindar dari cecaran pertanyaan yang mungkin sulit dia jawab dengan jujur.


"Hati- hati, Sayang." jawab Zoya dengan lembut. Wanita itu memeluk sayang putri temannya itu.


Keduanya, Zoya dan Alexa memandang Kirey yang berlahan menghilang sebelum mereka kembali melangkah menuju ruangan Alex. Zoya sangat khawatir ketika mendengar kabar dari Hanum jika, Alex terkena tusuk di perut.


Ruangan VIP no. 17, Alexa membuka pintunya. Terlihat Alex berbaring nyaman. Lelaki yang mendapatkan perban di bagian perutnya itu berlahan bergerak ketika melihat wanita yang paling dia sayangi datang mendekat.

__ADS_1


"Mama, dari mana Mama tahu Alex di sini?" tanya Alex saat dia sudah pada posisi duduk.


"Hanum tadi menelpon, Mama." jawab Zoya kemudian memeluk putranya dan mencium kening Alex.


Alex mendengus kesal. Dia sudah mengatakan pada Hanum untuk merahasiakan ini dari mamanya. Dia tidak ingin Zoya khawatir dengan keadaannya.


"Bagaimana ceritanya, Lex? Untung saja orang- orangnya Kak Arkha banyak di daerah sana." gerutu Alexa. Alexa memang mengenal adiknya itu adalah sosok yang pendiam dan tidak suka membuat masalah.


"Teman Alex diganggu preman di sana, Kak. Kebetulan Alex lewat sana." jawab Alex. Dia memang tidak bisa terlalu terbuka.


"Hati-hati, Nak. Mama tidak bisa, jika terjadi sesuatu sama kamu." timpal Zoya dengan wajah cemas yang tidak bisa disembunyikan. Wanita itu memang begitu posesif jika menyangkut anak- anak.


"Alex, sudah lebih baik, Ma. kata dokter besok bisa langsung pulang." lanjut Alex.


Zoya menatap putranya yang begitu tampan. Rasanya, Alexander begitu cepat tumbuh menjadi sosok dewasa. Secara fisik lelaki pendiam itu begitu mirip dengan papanya, Hans Satria Jagad.


"Oh ya, tadi Kakak bertemu Kirey di lorong ini. Tidak menyangka, gadis manja itu berubah menjadi begitu dewasa dan lebih kalem." lanjut Alexa menceritakan pertemuannya pada gadis yang sudah banyak berubah itu.


Cukup lama Alexa dan Zoya menemani Alexander. Hingga akhirnya, Alexa harus pulang karena Bima mulai rewel dan menanyakannya terus.


Alex tertegun menatap keluar jendela. Hari ini dia boleh pulang tapi harus menunggu Hans menjemputnya.


Hans sempat telpon untuk menunggunya sejenak karena masih ada urusan. Di sela-sela waktunya, ponsel Alexa berdering. Nama Aina tertera pada layar.


"Halo, Assalamu'alaikum, Na." ujar Alex saat mengangkat panggilan Aina.


"Bagaimana keadaan, Mas Alex?" tanya Aina. Gadis itu masih merasa bersalah pada Alexander.


"Aku sudah baikan. Hari ini aku sudah pulang." jawab Alexander.


"Syukurlah kalau begitu, Aina iku lega mendengarnya."ujar Aina. Kemudian mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Alexander memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul empat sore.


" Assalamu'alaikum." Suara bariton itu terdengar bersamaan pintu ruangan terbuka.


Terlihat Hans dengan kharisma berjalan masuk menghampiri putranya.


"Bagaimana?" tanya Hans.


"Pulang sekarang saja, Pa." sambut Alexander dengan beranjak dari duduknya.


"Papa terlambat karena ada urusan bersama Kirey." lanjut Hans saat mereka berjalan keluar ruangan.


"Gadis itu begitu ngotot ingin membuka kasus pemerko*aan yang sudah lama di tutup." Hans sedikit bercerita, agar tidak terjadi kesunyian diantara mereka.


Alexander putranya yang paling tertutup dari keluarga, hanya Zoya yang begitu telaten memancing putranya untuk bisa bercerita tentang dirinya.


"Papa keberatan?" sambung Alexander membuat Hans menoleh ke arah putranya. Dia tidak menyangka Alex akan menyahut ceritanya.


"Menurut Papa kasus itu berbahaya. Apalagi, Kirey seorang gadis." lanjut Hans.


Ketika membaca situasi kasus Hans merasa kasus yang ingin ditangani Kirey itu berantai.


Alexander terdiam, dia tahu terkadang seorang lawyer bisa saja menjadi sasaran dari kasus yang sedang tangani. Saat Alex menghela nafas panjang, Hans kembali menoleh dan menatap putranya.


"Kamu mengkhawatirkannya?" tanya Hans begitu antusias. Alexander memang sosok yang begitu misterius.


"Tidak. Aku hanya berfikir berapa bodohnya gadis itu." jawab Alex dengan wajah datar. Tetapi, pemuda yang cukup gagah dan tampan itu sedang mentralkan kegusaran hatinya akan gadis yang terus saja mengganggunya.


Mentari mulai bergeser ke ufuk barat, dua pria berwajah mirip itu pun berjalan di parkiran untuk menghampiri mobil Mercy berwarna hitam.


"Tapi, Papa menyukai gadis itu." ujar Hans sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Alex menoleh dan menatap Hans yang menyadari kalimatnya masih terdengar ambigu.


"Maksud Papa, Papa ingin punya putri atau menantu seperti Kirey." jawab Hans sambil terkekeh. Iya, lelaki paruh baya itu melirik putranya yang tanpa ekspresi sama sekali. Rasanya Hans begitu gatal ingin tahu apa yang dipikirkan putra satu-satunya pada gadis yang sedang mereka bicarakan.


__ADS_2