Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
First Kiss(Extra Part)


__ADS_3

Rasa ingin tahu terhadap sekretaris baru suaminya membuat Zoya berniat pergi ke kantor Hans setelah jam kuliah. Lagi pula, dia memang sudah ingin melihat wajah ganteng yang terkadang menggelikan itu. Rindu. Kata itu mungkin akan tepat untuk menyebutkan perasaannya saat ini.


Rintik gerimis yang mengguyur hampir seluruh kota, membuat Zoya mempercepat langkah kecilnya untuk menghampiri taxi yang baru saja dia pesan melalui sebuah aplikasi.


Di bangku belakang, dia menyandarkan tubuhnya untuk melepas sedikit rasa lelah setelah mengikuti kelas dua mata kuliah. Tatapannya menerawang ke luar menatap rintik hujan yang membasahi jendela kaca mobil. Beberapa menit telah berlalu, hingga suara sopir taxi menyadarkannya, "Mbak, kantor pengacara ternama ini, kan?" tanya sopir taxi saat berhenti di luar gerbang.


"Pak, tolong masuk sampai di depan pintu utama, ya! Biar saya tidak basah." pinta Zoya saat melihat gerimis yang masih betah membuat basah kota ini.


Dengan langkah tergesa Zoya masuk ke dalam kantor yang di desain dengan cukup elegant. Semua karyawan lama sudah mengenal jika dia adalah Ny. Hans Satrya Jagad, orang nomer satu di gedung ini.


"Maaf, sudah ada janji dengan Bapak Hans?" ucap perempuan dengan polesan make up yang terlihat cukup kentara saat menghentikan langkah Zoya yang akan masuk ke dalam ruangan suaminya.


"Sudah, Mbak." jawab Zoya, dia juga sempat melihat senyum cemeh perempuan di depannya. Bahkan, Zoya juga memperhatikan kemeja seksi yang dipadu dengan rok sepan pendek yang mencetak bentuk tubuhnya.


"Maaf, kalau boleh tahu siapa nama Mbak ini?" tanya Zuri, sekretaris baru Hans.


"Ceklek..."


"Sayang." sapaan Hans pada Zoya membuat kedua wanita itu menoleh ke arahnya.


"Dia istriku. Lain kali jika dia datang ke sini, langsung suruh masuk ruanganku saja!" titah Hans, Zoya menatap heran suaminya. Aura kharismatik dan ekspresi datar membuat sosok Hans sangat berbeda dengan ketika dia berada di rumah.


"Sayang, ayo masuk! Kenapa hujan-hujanan?" tanya Hans dengan merangkul bahu mungil itu. Tatapan Zuri tidak lepas dari dua sejoli yang berlahan menghilang dari balik pintu berwarna coklat plitur itu.


"Sayang, tunggu sebentar!" Hans bermaksud menyelesaikan pekerjaannya, membuat Zoya langsung duduk di sofa yang ada di dekat jendela.


Hans masih menyeleksi beberapa file yang akan diberikan kepada Zuri untuk diketik ulang karena ada beberapa bagian yang salah. Diantara kesibukannya, lelaki itu tidak pernah luput untuk melirik Zoya yang tengah asyik menatap ponselnya, sesekali dia terlihat mengetik untuk memberi balasan pesan.


Zoya masih tersenyum sendiri karena obrolan WhatsApp di group kelas kuliahnya, hingga dia tidak menyadari jika seseorang sudah berdiri di depannya. Seketika, itu pula Hans menarik ponsel Zoya, membuat istrinya hanya mendongak kaget menatap reaksi tiba tiba Hans.


"Apaan ini, kayak ABG saja!" ujar Hans sekilas membaca obrolan teman group whatsapp istrinya.


"Siapa Andre?" Hans semakin tertarik untuk membacanya. Tapi, Zoya mulai merebut ponsel miliknya dari Hans. Meskipun, itu percuma karena tinggi maksimal tubuh suaminya membuat tangannya pun tidak sampai meraih ponselnya.


"Mas Hans, berikan." jika menggapai ponselnya dia tidak sampai, setidaknya dia tahu kelemahan suaminya. Zoya melingkarkan tangannya memeluk dada bidang itu, Hans yang semula menaikkan tangan membaca isi ponsel istrinya pun menurunkan tangannya. Bahkan, satu tangannya sudah mengelus bahu tubuh yang bersandar di dadanya. Dia tidak akan tahan dengan perlakuan manja istrinya.


"Siapa Andre? Berani sekali dia mengedit foto profilmu. Dan mengirimkannya kembali." Andre memang mengirimkan hasil editan foto profil Zoya.

__ADS_1


"Biasa Mas, Andre suka iseng anaknya." bela Zoya dengan mengurai pelukannya. Tapi, dia sudah tidak ingin merebut ponselnya, membuat Hans memilih duduk di sofa.


"Kemarilah!" Hans menarik pelan lengan istrinya hingga duduk di dekatnya.


Satu tangannya mengalung di bahu Zoya dan merapatkan tubuh Zoya ke dadanya. Dia pun mendekatkan wajahnya di wajah samping Zoya, dengan satu tangan yang menjulur untuk mengambil foto selfi mereka.


Hal konyol yang dilakukan Hans bagi Zoya adalah merubah foto profil WhatsApp dengan selfi mereka barusan. Sungguh sangat berlebihan, bahkan siapa yang layak disebut ABG jika seperti ini. Tapi, dia hanya bisa menggeleng jika sudah seperti itu, bagaimanapun lelaki berahang tegas itu tidak bisa diprotes.


Suara ketukan pintu membuat mereka kembali memberi jarak, bahkan Hans bersuara untuk mempersilahkan Zuri masuk.


Lenggokkan langkah sekretaris suaminya sukses membuat Zoya tidak suka. Entah Kenapa Zoya tidak terlalu menyukai gadis itu atau karena Zoya melihat cara Zuri menatap suaminya sangat berbeda. Padahal dengan Diana, Zoya biasa saja.


"Maaf, Pak. Sabtu depan ada pertemuan Peradi di Bali. Apa Bapak akan menghadirinya?" tanya Zuri yang akan menentukan jadwal kegiatan Hans.


"Belum aku pikirkan, Nanti aku kabari." jawab Hans.


"Oh ya, File di meja tolong kami revisi lagi." lanjut Hans membuat Zuri segera berbalik menghampiri meja bosnya untuk mengikuti perintah bosnya. Setelahnya, gadis itu pun kembali.


"Zoy, tiba tiba saja aku ingin makan kakap asam manis buatanmu." pinta Hans, tadinya dia ingin keluar untuk makan siang, tapi kebetulan saat melihat kedatangan Zoya, dia bisa meminta istrinya membuatkannya. Air liurnya serasa ingin keluar kala membayangkan kakap asam manis buatan istrinya.


Apartemen. Kali ini, Hans membawa Zoya ke apartemen, dia ingin menghabiskan waktu berdua saja sebelum berangkat ke Bali. Zoya segera menuju dapur yang di sangat modern, setelah meletakkan tasnya di sofa depan. Meskipun, dia merasa lelah.


Zoya mendorong berkali kali, tubuh tinggi atletis itu agar sedikit menjauh. Dia merasa gerah saat Hans terus saja merecokinya di dapur.


"Mas Hans, ini kakap asam manisnya tidak akan cepat matang jika seperti ini." Protes Zoya, saat Hans menunduk, menghidu aroma tubuh istrinya membuat Zoya semakin terganggu untuk menyelesaikan masakannya.


"Sama sambal rujak, Zoy." pinta Hans yang banyak maunya. Seperti orang sedang mengidam, Hans rasanya tidak tahan ingin segera menyantapnya. Bahkan, dia pun hanya ingin yang dimasak oleh Zoya sendiri.


"Iya- ya, Tapi tunggu saja di meja makan." pinta Zoya sekali lagi, tapi lelaki itu tidak juga bergeming. Dia malah berdiri di belakang istrinya, meletakkan kedua lengannya di pinggang Zoya. Hal itu membuat Zoya mengeluh berkali kali karena sulit untuk bergerak.


Hans memang tidak tahan saat melihat rambut panjang itu tergelung ke atas menunjukkan leher jenjang dan putih yang menjadi salah satu tempat favorit dirinya meninggalkan bekas ciuman.


"Mas Han, jangan menggodaku!" Keluh Zoya saat lelaki itu mendaratkan ciuman di tengkuknya. Beberapa kali dia harus berjingkat kegelian karena ulah suaminya. Sejak Zoya hamil, tubuhnya yang semakin terlihat berisi membuat lelaki itu merasa gemas untuk selalu menyentuhnya.


###


Sebuah sedan Camry berhenti tepat di depan rumah minimalis yang terlihat sepi. Seorang Wanita yang terlihat hampir enam puluh tahun itu turun dengan membawa sebuah tas dan bingkisan.

__ADS_1


Wildan menggenggam tangan Nilla saat keluar menyambut kedatangan umminya. Lelaki itu tidak ingin umminya mengendus rumah tangganya yang tidak layak seperti pengantin baru lainnya.


"Assalamualaikum Ummi." sapa Wildan dan Nilla bersamaan. Mereka mencium punggung tangan umminya secara bergantian. Wildan segera mengambil Alih bawaan umminya untuk dibawa masuk ke dalam. Sementara, Nilla langsung mengantar ummi Maryam ke kamar yang sudah dia siapkan.


"Nil, tadi kamu masak apa?" tanya Ummi Maryam saat duduk di kursi yang ada di kamarnya.


"Masak Sambal goreng kentang dengan telur bacem, Mi'. " sahut Wildan saat berada di ambang pintu. Dia tidak ingin umminya tahu jika hari ini dia membeli menu itu dari luar.


"Wah kebetulan, tadi Ummi bawa rendang." Ummi Maryam merebahkan tubuh di ranjang. Umur membuat perjalanan keluar kota terasa melelahkan.


"Ummi, Ummi ingin teh atau jahe hangat?" tawar Nilla.


"Nanti saja, ummi ingin tidur sebentar."


"Baiklah, Ummi istirahat saja." Mereka keluar dari kamar tamu.


Nilla melangkah lemah mengekor di belakang Wildan membuat lelaki itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Ada apa, Nil?" tanya Wildan saat melihat wajah lesu istrinya.


"Kenapa Abang berbohong pada Ummi? Selama ini, aku tidak pernah memasak." tanya Nilla, tatapannya begitu dalam pada lelaki yang saat ini tersenyum dan mendekat ke arahnya.


"Cantiknya Abang. Mana mungkin Abang tidak bohong. Kamu istriku, Nil. Sudah seharusnya aku melakukannya." ucap Wildan dengan merengkuh bahu kecil istrinya menuju ke kamar.


Nilla yang terdiam merasa bersalah membuat Wildan mendekatinya.


"Nil... "


"Kenapa Abang memperlakukanku terlalu baik, padahal sikapku terlalu buruk pada Abang." Sela Nilla menghentikan kalimat Wildan. Hal yang yang ada di pikirannya. Kenapa Wildan terlalu baik padanya, padahal hatinya masih untuk wanita lain.


Wildan membingkai wajah cantik Nilla. Dia tahu, istrinya menahan sebuah rasa sedih. Entah karena apa dia tidak tahu. Mata sayu itu menatap begitu dalam mata istrinya. Dia memangkas jarak diantara mereka, "Karena aku mencintaimu, Nil. Aku mencintai istriku." lirih Wilda. Aroma Mint dari hembusan nafas yang menyapu wajahnya pun membuat desiran yang berbeda bagi Nilla. Apalagi tatapan yang menelisik ke dalam hatinya soalah mengambil satu sisi kesadarannya. Jantungnya berdegup begitu kencang, bahkan tangannya pun mulai dingin menahan rasa nervous.


Berlahan Wildan mendaratkan ciuman lembut di bibir Nilla, sangat lembut. Hingga ciuman itu berubah menjadi sebuah ******* yang begitu menggairahkan, hingga saat gadis itu kehilangan nafasnya, mereka baru tersadar kembali. Nilla, menahan nafasnya saat ciuman yang tidak dia perkirakan mendarat di bibirnya. Ini hal pertama baru mereka. Tapi, insting lelaki memang lebih kuat hingga menuntun ciuman itu lebih dalam.


"Maaf, aku keterusan!" ucap Wildan. Nilla tidak menjawab, dia berusaha menyembunyikan wajah merah meronanya, tapi gagal. Gadis itu terlihat salah tingkah menahan malu, membuat Wildan hanya tersenyum. Wildan selalu yakin sekeras apapun Nilla, dia yakin istrinya akan luluh dengan cintanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2