Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Bicara Cinta


__ADS_3

Kali ini, Kyara mengantar Rey sampai di apartemen. Dia baru mengerti dengan jelas, jika perempuan itu adalah Zoya.


Di sebuah ruangan dengan interior yang cukup artistik, beberapa lukisan tergantung indah di salah satu dinding ruang utama apartemen milik Rey.


"Ya ampun, Bang. Kok bisa? Otak Abang udah geser, ya?" Kali ini Kyara berceramah dengan mengompres lebam di sudut bibir lelaki yang saat ini menyimpan emosinya. Padahal dia sendiri merasakan sebuah rasa kecewa yang masih dia tutup rapat.


"Aku mencintai Zoya sejak pertama kali melihatnya. Yang aku sesalkan, kenapa Tuhan terlambat mempertemukan aku dengannya." lirih Rey, kali ini wajah yang biasa menyimpulkan senyum itu terlihat murung dan nampak meringis menahan sakit.


"Mungkin, Bang Rey akan dipertemukan dengan seseorang yang jauh lebih baik. Akan menyakiti diri sendiri Bang jika kita mencintai milik orang lain." Kyara berusaha untuk menjadi sosok teman bagi Rey.


"Entahlah, tidak ada yang bisa merebut hatiku seperti Zoya. Rasanya, perasaanku sudah tidak tersisa." sambung Rey. Lelaki itu terlihat putus asa.


Kyara hanya menghela nafasnya, hatinya begitu gusar saat mendengar curhatan orang yang sudah mengambil sebagian rasa di hatinya.


"Kenapa harus istri orang, Bang. Banyak wanita diluar sana." lirih Kyara, tenggorokannya terasa tercekat. Dia sendiri mengumpulkan kekuatan untuk bisa mengendalikan perasaannya.


" Jika bisa mengelak aku akan mengelak dari perasaanku. Tapi, semakin aku mengenal, merasa perasanku semakin kuat. Aku suka melihat wajahnya yang lembut, sifatnya yang keibuan. Dia sosok yang aku impikan selama ini." kalimat Rey membuat Kyara terdiam, dia masih menganalisa banyak hal tentang Rey. Benarkah, itu cinta? Obsesi? Atau rasa lain yang tidak Rey kenali.


"Bang, aku masih lapar. Ada sesuatu di dapur?" tanya Kyara mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin merasa lebih kecewa karena pengakuan Rey. Dia juga tidak punya solusi untuk diberikan pada lelaki tersebut.


"Cuma ada mie spageti dan sarden." ucap Rey yang menyandarkan tubuhnya di sofa. Sementara itu, Kyara berjalan menuju dapur mencari sesuatu yang bisa di masak.


Sesekali Rey melirik Kyara di dapur, dia ragu gadis itu mampu untuk melakukannya. Tidak lama aroma wangi gurih tercium sampai di hidung Rey. Dia beranjak untuk mendekati kondisi dapur yang membuatnya penasaran.


"Wah ... pinter juga kamu." ucap Rey, seraya melihat lebih dekat apa yang dilakukan gadis itu. Senyumnya tergambar jelas di wajah Rey di ikuti tatapan penuh kekaguman.


"Bukan Kyara kalau tidak bisa melakukan apa yang diinginkan."


" Dasar! " sahut Rey dengan mengacak rambut Kyara hingga membuat gadis itu protes karena takut rambutnya akan jatuh ke dalam makanan yang masih di atas kompor.


Rey tidak pernah menyangka, putri seorang pengacara senior itu bisa melakukan kegiatan di dapur. Lelaki berhidung mancung itu tidak berhenti berdecak kagum, karena anggapannya selamat ini salah.


"Temani aku dulu, Ra! Nanti aku yang akan mengantarmu pulang." pinta Rey, dia memang merasa cocok jika berbicara dengan Kyara. Pemikiran yang cukup fleksible untuk diajak berbagi.


###


Hans masih menatap suasana pantai sejauh jarak pandang dari atas balkon kamarnya. Hanya nampak taburan bintang yang menggantung di langit gelap, diiringi deburan riuh deburan ombak yang bernyanyi mengiringi suasana malam yang tenang.

__ADS_1


Sesekali dia mengepulkan asap rokok ke udara. Seolah berharap, asap yang membumbung tinggi itu mampu menjawab pertanyaan dalam pikirannya. Rencana apa yang akan di lakukan Rey untuk istrinya? Dan bisakah Zoya bertahan dengannya?


Reynaldy punya segalanya untuk bisa mengatur banyak hal. Bagi Hans, terlintas kemungkinan juga sesuatu hal yang bisa dilakukan Rey di luar pemikirannya. Bagaimanapun itu, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika itu cukup memberi kecemasan dalam hatinya.


Dari dalam kamar, Zoya masih saja memperhatikan suaminya. Dia tahu jika Hans sedang banyak pikiran. "Aku ingin berhenti merokok, Zoy. Aku tidak ingin terlihat tua hanya karena barang beracun itu." selorohnya kala itu dengan mencari kerutan di wajah gantengnya. Hans memang tidak ingin terlihat ketara perbedaan usia diantara dia dan Zoya.


Langkah kecil itu berlahan mendekati Hans. Dengan rasa yang tak kalah resah, Zoya menyentuh bahu bidang lelaki yang tengah duduk di balkon.


Masih menikmati suasana di teras kamar yang menggantung, Hans mendongak ke arah pemilik tangan kecil yang mendarat di bahunya. Saat ini Zoya sudah berdiri di belakang Hans.


"Sayang..." sapa Hans dengan menarik tangan kecil itu agar pemiliknya berpindah di depannya. Dia pun menurunkan kaki panjangnya yang semula naik di atas meja.


"Maafkan aku! Aku sudah menjadi beban pikiran Mas Hans." Kebiasaan perempuan perasa itu selalu meminta maaf kala dia merasa sudah menjadi beban orang lain.


Tak membalas kalimat istrinya, Hans menarik tubuh mungil itu untuk lebih mendekat. Tangannya pun melingkar menguasai pinggang kecil Zoya dengan penuh posesif.


"Sampai kapanpun, kamu milikku dan hanya milikku." gumam Hans dengan menyandarkan kepalanya di perut rata Zoya yang masih berdiri mematung. Tubuh atletis itu mengunci tubuh istrinya dengan lengan yang melingkar di pinggang.


"Drt... drt... drt... " Keduanya menatap ponsel Hans yang bergetar. Mama Shanti, nama itu tertera jelas sedang memanggil.


Satu tangannya masih memeluk pinggang Zoya dan satu tangannya menjulur, meraih ponsel yang tergeletak di meja.


"Walaikum salam..." jawab Hans. Wajah sebagian dari keduanya kini terlihat oleh Ale.


"Ale, Mama kangen." suara lembut itu membuat putrinya tersenyum. Wajah bahagia tidak bisa disembunyikan bocah itu saat mendengar kata kangen dari mamanya.


"Mama sama Papa di mana? Bukan di rumah, kan?" cecar Ale, saat melihat suasana berbeda, bukan rumah atau pun apartemen.


"Mama lagi di pantai dengan Papa." jawab Zoya.


"Ih...Papa curang, Ale ditinggal!" bocah itu terlihat cemberut.


"Ale, mau adek tidak?" goda Hans agar bocah itu tidak merajuk lagi.


"Mau. Tapi, harus dibuatin dua karena Ale tidak diajak liburan."


"Dua apa empat?" lanjut Hans terus saja membuat Ale berfikir. Biar bagaimanapun dia juga merindukan putrinya. Menggoda Ale baginya adalah sebuah hiburan yang paling menyenangkan.

__ADS_1


"Dua saja!" Jawaban Ale membuat Hans tergelak. Putrinya pikir 'Adek' itu barang yang bisa dibuat semaunya sendiri.


Hanya beberapa menit saja mereka saling melepas kangen, hingga terdengar suara Niar memanggil Ale untuk makan Malam. Ale pun menutup panggilannya, padahal Zoya masih merindukan putrinya.


Masih duduk di atas paha suaminya Zoya kini berganti menatap dalam sorot mata tajam orang di dekatnya.


"Kenapa?" tanya Hans dengan mendaratkan ciuman di bahu kecil yang masih terbungkus kemeja miliknya. Setelah mandi Zoya mengenakan kemeja Hans karena dia tidak membawa baju ganti.


"Mas, bagaimana jika Mas Hans dilaporkan Bang Rey dengan tuduhan penganiayaan?" Sedari tadi itu yang dicemaskan Zoya. Dia tidak ingin karena dirinya suaminya bermasalah.


"Emang berani dia? Dia tidak akan mengambil resiko dengan mencemarkan nama baiknya sendiri." jawab Hans.


"Apa itu yang kamu pikirkan sejak tadi?" sambung Hans membuat Zoya mengangguk pelan.


"Mas Hans sendiri? Aku tahu, Mas Hans sedang banyak pikiran." Melihat mata Zoya yang menatap ke asbak membuat Hans mengerti jika istrinya sedari tadi sudah memperhatikannya.


Angin yang berhembus kencang di atas balkon, membuat udara terasa dingin menyapu wajah. Melihat istrinya kedinginan, Hans menarik tubuh kecil istrinya untuk bersandar dalam dada bidangnya. Tidak lupa dia juga mengeratkan pelukannya membuat tubuh mungil dambaannya itu pun sedikit menghangat.


"Zoy... " panggil Hans.


"Hmmm.. " jawab Zoya dengan deheman. Tangannya memainkan kancing kemeja Hans.


"Reynaldy itu lebih kaya dari aku. Dia tidak hanya punya satu perusahaan. Dan Asetnya tidak akan habis di makan tujuan turunan." Mendengar kalimat suaminya Zoya pun bangkit dari sandarannya. Tatapan selidik dia layangkan ke arah Hans.


"Kenapa membicarakan orang lain, Mas?"


"Dia menyukaimu. Bahkan, dia mungkin bisa memberikan fasilitas yang lebih dari yang aku berikan." Zoya sudah tidak peduli dengan kalimat Hans. Perempuan itu kembali menyandarkan tubuhnya di dada Hans dengan sendirinya.


"Aku istrimu, Mas. Aku mencintaimu. Dan aku cukup bersyukur dengan apa yang sudah Mas Hans berikan. Bahkan aku bahagia dengan keluarga kita. Lalu apa yang aku cari?" Dengan lembut suara itu terdengar menghangatkan hati lelaki yang di landa kecemasan. Dia cemas Zoya akan memilih lelaki yang cukup menarik perhatian bagi banyak kaum Hawa.


"Masak kamu cinta aku? Sejak kapan? kenapa tidak pernah merayuku?" Hans merasa bahagia sungguh kepastian dari Zoya membuatnya kembali merasa jatuh cinta kembali.


"Tidak aku rayu aja sudah tidak tahan. Bagiamana jika aku mengeluarkan rayuan mautku?" Mendengar jawaban Zoya Hans sedikit memberi jarak diantara mereka. tangannya membingkai wajah tanpa jilbab itu, mendaratkan ciuman yang niatnya hanya sesaat tapi ternyata mendapat sambutan di luar dugaannya.


"Kita lanjut babak berikutnya ya?" Kali ini Zoya malah terkesan menggoda Hans dengan mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya kala Hans membawanya masuk ke dalam kamar.


Hans sendiri merasa cukup heran, malam ini Zoya terlihat berbeda. Bawelnya yang bikin gemas, dan sikapnya yang menyambut sentuhan suaminya membuat Hans memulai babak selanjutnya. Babak yang berujung dengan pergulatan panas dan penuh cinta diantara keduanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2