
Hans menatap istrinya yang terlihat lelah, Zoya memang tidak mengalami morning sick seperti kebanyakan wanita hamil. Tapi jika dia tidak akan tahan dengan sesuatu hal tertentu, itu bisa membuatnya langsung mual seketika. Kehamilan juga membuatnya cepat lelah, tidak ketinggalan perasaan sensitif dan cemburuannya sangat luar biasa, meski dia sangat apik mengemasnya tapi Hans masih bisa mengenali perubahan sikapnya.
"Sepertinya si baby akan mirip denganku." gumam Hans dalam hati menyadari jika dia juga pencemburu. Meskipun, baginya laki atau perempuan sama saja, tapi dalam hati kecilnya, dia berharap anaknya laki - laki.
Seusai semua tamunya pulang, Zoya memilih kembali ke kamar, dia ingin rebahan sejenak. Berlahan, langkahnya menaiki satu persatu anak tangga. Sementara dari kejauhan Hans terus saja memperhatikan perempuan yang sejak tadi hanya terdiam.
Hans memilih membiarkan Zoya, seolah sengaja memberi jeda pada situasi yang sensitif, dia hanya memperhatikan segala gerik perempuan mungil yang berhasil menyita sebagian dunianya. Ya, gadis belia yang selalu membuatnya lepas kontrol dan sulit menguasai perasaan. Tapi, dia tidak salah jika menempatkan perasaan cinta untuk perempuan berhati mulia seperti Zoya.
Setelah suasana cukup tenang, dengan gerak sedikit mengendap, Hans memasuki kamar. Terlihat Zoya memang sedang memejamkan mata, tapi dia yakin jika Zoya tidaklah tidur.
Hans berjalan mendekati tempat tidur, dia kemudian merayap dan berbaring di sebelah istrinya membuat Zoya membuka mata.
"Zoy, kamu cemburu? " tanya Hans dengan mengelus pipi halus istrinya.
"Tidak, Mas." jawab Zoya.
"Terus kenapa diam? " desak Hans.
"Aku cuma khawatir, Mas Hans tergoda dengan keseksian Kyara. Apalagi, sebentar lagi perutku membesar, jika selalu disuguhi pemandangan yang seperti itu, mana ada lelaki yang tahan. " jawab Zoya dengan tatapan sendu mengunci ke arah suaminya. Seketika Hans tergelak mendengar jawaban Zoya. Perempuan yang cukup naif.
"Apa bedanya dengan cemburu?" tanya Hans kemudian melingkarkan lengan besarnya ke tubuh Zoya. Dia sangat senang jika Zoya merasa cemburu.
"Aku cuma takut Mas Hans terjerumus ke perzinahan. Biasanya kalau punya istri, tergoda, terus ngumpet-ngumpet dan jatuhnya memilih melakukan zina." jelas Zoya. Mendengar penjelasan Zoya, Hans malah menanggapinya dengan senyum."Bilang cemburu saja susah." pikir lelaki yang masih menatapnya penuh damba. Misi yang selalu gagal saat di apartemen membuatnya tidak berhenti untuk mencoba lagi.
"Mas, jangan melihatku seperti itu!" Zoya kemudian memunggungi Hans. Dia paling tidak tahan dengan tatapan tajam yang di lemparkan Hans ke arahnya. Tersipu dan salah tingkah, hal itu yang terjadi jika tatapan tajam menelisik ke arahnya.
"Aku hanya tergoda denganmu, Zoy." ucapnya dengan sedikit menyingkirkan rambut panjang Zoya agar bibirnya bisa menyentuh kulit tengkuk istrinya.
"Mas!" ujar Zoya dengan berjingkat geli, dia tidak mengira justru Hans akan melancarkan serangannya.
"Ayolah Zoy, dari kemarin misi gagal terus gara gara direcokin Ale." rayu Hans, tangannya mulai bergerilya mengelus perut datar istrinya kemudian naik ke atas memberi sedikit remasan.
"Masih siang, Mas." protes Zoya, tapi malah membuat Hans semakin genacar melakukan serangan. Hans membalikkan tubuh Zoya agar menghadapnya. Tangannya yang sudah aktif ke sana kemari dan bibirnya yang kini mulai bekerja pun membuat Zoya tak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
"Siang satu ronde. Malam satu ronde." racaunya di sela menghayati aksi nikmatnya itu. Zoya tak menjawab lagi, Hans memang berhak atas dirinya. Dosa bagi seorang istri menolak ajakan suaminya.
Nafas keduanya saling memburu kala merasakan kenikmatan yang menagih. mereka terhanyut dalam permainan yang diciptakan oleh lelaki yang sudah dipenuhi gairah itu.
"Ceklek... " suara handle pintu membuat mereka terhenyak kaget dan kelabakan membenarkan posisi pakaian mereka yang sudah sedikit membuka.
"Mama." panggil Ale dengan mengucek matanya saat masuk ke kamar mama papanya.
"Astaga." Hans mengacak rambutnya frustasi kala permainannya terpaksa harus berhenti di tengah jalan.
"Dasar, induk singa!" gerutunya lirih kala Ale berjalan mendekat dengan rambut yang awut awutan. Bocah itu langsung naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring dengan memeluk Zoya.
"Aku akan mandi." Hans beranjak masuk ke kamar wajahnya terlihat kesal dengan kepalanya yang sedikit berdenyut.
"Zoy, bikinkan aku kopi. Tapi mungkin, aku lama di kamar mandi untuk menyelesaikan misi yang failed." kalimat terakhir Hans terlontar sebelum menghilang dari balik pintu kamar mandi.
Zoya hanya tersenyum melihat kekesalan suaminya kemudian memeluk tubuh Ale. Putrinya masih terlihat enggan membuka matanya meskipun Zoya tahu dia tidaklah tidur.
####
Setelah menunaikan solat magrib berjamaah, Zoya mengajari Ale mengaji. Zoya sengaja memilih habis magrib untuk jadwal mengaji putrinya. Zoya memang lembut bahkan marah baginya sangat langka, Hans sendiri melihat kemarahan Zoya hanya cukup diam dan dengan jeda waktu tertentu kemarahannya pun menghilang. Tapi, ketegasan Zoya tidak pernah membuat Ale melewatkan belajar mengaji. Hans memberi jarak pada keduanya yang sedang mengaji dengan duduk di sofa yang ada di depan TV.
Flashback
Ale terlihat malas saat Zoya mengajaknya mengaji. Terkadang anak memang merasa bosan dengan aktifitas yang sama. Tapi, kebiasaan kecil akan membudaya dalam diri seseorang hingga membentuk sebuah jati diri. Karena itu, Zoya memang sedikit memaksa Ale untuk tetap membiasakan diri dengan rutinitas yang positif.
"Ale harus bisa mengaji ya? Mama Renita hanya berharap doa dari Ale. Jadi, anak yang solehah bermanfaat untuk orang lain agar pahalanya juga mengalir kepada kedua orang tua Ale. " ucap Zoya dengan mengecup kening putrinya.
Hans yang tidak sengaja mendengarnya merasakan sebuah kesedihan. Ya, dia tidak bisa fasih membaca Al-Quran. Bahkan, sudah lama tidak mendoakan Papanya. Bagaimana dengan papanya yang sudah tiada? Kesedihan itu tiba tiba menyelinap di hatinya.
flash on
"Papa... " Panggil Ale kemudian naik ke sofa dan memeluk papanya. Wajah Ale terlihat plong saat berjalan bersama Zoya menghampirinya. Zoya duduk di sebelah Hans.
__ADS_1
"Lelah, Zoy?" tanya Hans.
"Sedikit, Mas." jawab zoya.
"Papa, minggir." Ale mengambil tempat di antar keduanya. Memberi jarak, hingga membuat Hans mendengus kesal. Padahal Ale hanya ingin tiduran di pangkuan Zoya. Dia sudah merasa mengantuk.
"Zoy, aku tidak bisa mengaji. Bagaimana dengan Papa di sana? " Zoya menatap sejenak Hans. Menelisik sorot mata yang mengisyaratkan kesedihan.
"Didoakan sebisa Mas Hans. Melakukan amalan yang baik pun pahalanya akan mengalir pada kedua orang tua kita. Allah Maha Mengetahui, Mas. Islam juga selalu memudahkan tapi jangan menggampangkan syariatnya." suara lembut itu menembus kalbu terdalam lelaki yang dikenal keras hati itu.
"Banyak jalan menuju Surga-Nya, tapi juga banyak jebakan yang akan menjerumuskan manusia ke dalam neraka." lanjutan Zoya dengan menggenggam tangan di sebelahnya.
"Aku beruntung memilikimu, Zoy." Hans mencium genggaman tangan Zoya.
"Ih... Papa. " gerutu Ale penuh posesif, tangannya menarik lengan Zoya agar terlepas dari tautan jari jari papanya.
"Ma, lanjutin cerita tentang nama Syayidah Fatimah ya." pinta Ale, matanya sebenarnya sudah menyipit.
Zoya mulai menceritakan tentang kebaikan Sayyidah Fatimah yang hidupnya dipenuhi dengan kilauan amal kebaikan hingga mendapatkan sebutan Az-zahra. Hans melirik Zoya, lelaki itu tersenyum banyak teladan yang selalu di ceritakan kepada putrinya. Berharap Ale bisa menteladhani akhlak mereka.
"Zoy , aku akan memindahkan Ale." ucap Hans saat melihat Ale sudah terpulas. Akhirnya tumbang juga, setelah berjuang untuk menahan kantuk demi cerita yang dia minta. Akhirnya Hans menggendong Ale ke kamar.
Setelah membawa Ale ke kamarnya, Hans menghampiri Zoya yang masih duduk di sofa.
"Saatnya membawa mamanya. Misi kali ini harus berhasil. " ucap Hans kemudian mengangkat tubuh Zoya.
"Mas, aku bisa jalan sendiri." ucap Zoya dengan mengalungkan tangannya di leher suaminya. Tapi dia menyembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang Hans.
Setelah peperangan panas dan cukup menguras energi mereka, Hans memilih untuk memeluk tubuh mungil itu. Dia seperti enggan melepasnya. Rasa cintanya semakin besar pada wanita yang saat ini mengandung anaknya.
"Zoy, aku sebenarnya berat untuk pergi ke tempat terpencil itu. Entahlah, aku enggan meninggalkan kalian." ucap Hans dengan mencium puncak rambut istrinya. Berlahan Zoya pun mendongakkan kepalanya, kemudian mengulas senyum yang selalu meluluhkan hati lelaki yang masih mendekapnya itu. Di bawah selimut, tanpa sehelai benang mereka masih memadu kasih dan saling menguatkan.
"Jika Mas Hans merasa ada kebenaran dan keadilan yang harus ditegakkan. Lakukanlah, Mas! Anggap saja Mas Hans sedang berjuang di jalan Allah. Di sana ada masa depan seseorang yang sedang dipertaruhkan." ucap Zoya dia hanya ingin meyakinkan suaminya untuk melangkah di jalan yang benar.
__ADS_1
"Baiklah jika seperti itu. Besok pagi aku akan berangkat. Kamu dan Ale hati-hati. Kalau butuh apa apa bilang Pak Dino." Pesan Hans pada istrinya. Dia kembali mengeratkan pelukannya.
Tbc