
Zoya berjalan mondar mandir di balkon. Beberapa kali dia mencoba menghubungi ponsel suaminya tapi ternyata tidak aktif. Tangan mungilnya mengelus kedua bahu lengan yang terasa dingin karena terpaan angin yang begitu kencang.
"Ya Allah, ada apa ini? Tidak ada hujan tapi anginnya begitu kencang. Mana Mas Hans tidak bisa di hubungi." keluh Zoya, hatinya sedang di landa rasa cemas yang begitu hebat. Takut terjadi sesuatu dengan suaminya.
Malam semakin larut. Bahkan, Ale pun sudah terlelap sejak tadi. Zoya terjingkat saat suara ramai terdengar bersamaan dengan deru beberapa mobil memasuki halaman rumahnya. Dengan langkah tergesa dia melihat keadaan dari atas balkon. Nampak banyak orang keluar dari mobil masing masing dan kini tatapannya fokus pada mobil suaminya.
"Mas Hans..." lirihnya dengan penuh rasa penasaran saat melihat Hans keluar dari mobil dengan tampilan acak acakan. Penampakan Hans yang tidak biasanya membuat Zoya memutuskan untuk menyusulnya ke bawah.
Semua tamu langsung memasuki rumah mewah dengan ornamen elegan yang melengkapi ruangan. Hans langsung berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua untuk segera menemui Zoya sebelum Zoya turun ke bawah.
"Zoya." panggil Hans dengan suara bergetar jelas raut wajah cemas menggantikan kegantengan wajah yang biasa Zoya kagumi.
"Mas, ada apa? Kenapa Mas Hans seperti ini? " cecar Zoya dengan banyak pertanyaan. Dia begitu mencemaskan keadaan suaminya.
"Ada yang ingin aku bicarakan, Zoy! "
"Apa, Mas?" Zoya semakin dibuat bingung. Tapi Hans membawanya duduk di sofa. Hans mendekap tubuh istrinya untuk beberapa saat. Matanya pun mengembun menahan nyeri di ulu hatinya.
Hening sejenak...
Keduanya menikmati pelukan yang tidak biasanya. Ada rasa rindu, sayang dan takut kehilangan melebur membaur menjadi satu.
"Maafkan, aku! " lirih Hans masih dengan memeluk tubuh mungil yang ingin dia dekap selamanya.
"Mas." balas Zoya yang masih penasaran dengan apa yang terjadi. Berlahan, Hans meregangkan pelukannya. Membingkai wajah yang selalu melekat dalam ingatannya. Hans menatap ke dalam bola mata indah yang selalu dia damba, seolah ingin mengatakan jika dirinya hanya mencintai Zoya seorang.
"Zoy, ijinkan aku menikah lagi! " lirihnya, tatapan mengunci ke arah sorot mata yang menatapnya penuh heran. Senyum kecut pun terlihat antara tidak percaya dan menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Jangan becanda, Mas! " jawabnya setengah berbisik tidak yakin.
"Maafkan aku, Zoya! Aku harus melakukannya. Mereka tidak memberiku pilihan." Mendengar kalimat Hans, Zoya hanya menggeleng pelan dengan air mata yang mulak menetes berlahan. Langkahnya berlahan mundur menjauh hingga kakinya membentur sofa. Dia tidak percaya jika ini harus terjadi padanya.
"Mas Hans ngerjain aku, kan? " tanya Zoya sekali lagi untuk meyakinkan kenyataan yang sebenarnya.
"Maafkan aku, Zoy! " Mendengar jawaban yang sama keluar dari mulut Hans, membuat tubuhnya terasa lemas kepalanya sedikit berdenyut hingga berlahan dia terduduk di sofa. Semua seperti badai yang menghantamnya begitu hebat.
"Zoy." panggil Hans semakin cemas saat Zoya memegang kepalanya yang terasa berputar putar. Tangisnya pecah dengan air mata yang sudah menganak sungai.
"Ceraikan aku, Mas! " pintanya masih dengan menangis, sekuat tenaga dia berusaha menatap suaminya. Meskipun, hatinya sudah luluh lantak mendengar permintaan suaminya.
"Tidak, Zoy! Kita tidak bisa bercerai, kamu hamil anakku." hal yang ditakutkan Hans pun terjadi, dia tidak isa menerima jika Zoya meminta berpisah darinya.
"Bisa! " Hans terhenyak kaget mendengar jawaban Zoya.
"Tidak bisa wanita hamil diceraikan, Zoy." ujar Hans berusaha menahan Zoya.
"Tidak akan! Aku mencintaimu, Zoya. Aku terpaksa menikahinya. Semua bukan kemauanku. " Hans masih kekeh menolak permintaan Zoya untuk berpisah.
"Aku tidak sanggup dipoligami. Aku tidak bisa berbagi suami dengan perempuan mana pun! " isakan tangisnya pun terdengar sangat keras, kedua telapak tangannya pun menutup rapat wajahnya, meskipun begitu suara tangisnya tetep terdengar miris di telinga Hans.
Hans menekuk kakinya, dia berjongkok di hadapan istrinya. Hatinya berdenyut nyeri saat mendengar isakan tangis Zoya.
"Beri aku waktu, Zoy. Bertahanlah untukku." Hans memeluk Zoya yang masih terisak. Pertama kalinya lelaki itu memohon sesuatu pada seseorang, tentu orang yang sudah menguasai hatinya untuk saat ini.
"Aku tidak yakin aku bisa. Itu hanya akan mengulur waktu dan itu terlalu menyakitkan untukku, Mas!"
__ADS_1
"Aku mohon! Setidaknya sampai anak kita lahir. Anggap saja ini permintaan terakhirku." Hans tidak tahu lagi cara membujuk Zoya membujuk Zoya.
"Mas Hans menahanku sama juga membuatkan terjatuh di lubang Dosa. Aku sudah tidak sanggup menjalankan kewajibanku, saat hubungan pernikahan ini digantung hingga aku melahirkan." Hal yang di takutkan Zoya adalah hubungan suami istri yang menggantung akan menjadikan sebuah dosa. Mereka tidak lagi memenuhi kewajiban satu sama lain, bertahan dengan pernikahan yang hanya sebatas status justru akan menorehkan luka dan kecewa satu sama lain, dan itu tanpa sengaja membangun sebuah dosa yang tanpa dia sadari.
"Aku membebaskan kewajibanmu, Zoy. Mengizinkan apapun yang ingin kamu lakukan, tapi bertahanlah sejenak untukku. Aku akan membuktikan cintaku. " Zoya hanya menangis tak mampu lagi dia berkata kata, dadanya berdesir nyeri seolah membekukan pusat syarafnya.
"Aku mencintaimu, Zoya Kamila." ucapnya dengan memeluk tubuh kaku istrinya sejenak, kemudian meninggalkan Zoya yang masih terisak. Dia tidak kuat lagi melihat tangisan lirih Zoya yang terasa miris di hatinya.
Pernyataan perasaan cinta di saat yang sangat menyakitkan. Iya, sudah lama Zoya mengharapkan Hans menyatakan cinta tapi bukan dengan situasi yang seperti ini. Baginya ini percuma, cinta yang hanya akan dibagi dengan perempuan lain.
Beberapa saat kemudian Zoya berusaha beranjak dari tempat duduknya, langkahnya mendekati di dinding di dekat tangga. Tatapannya nanar tertuju pada seseorang yang sedang mengucapkan sebuah ijab kabul. Tidak tahan melihatnya dia berlari ke kamar, menutup pintu kamar dengan tubuh bersandar di daun pintu. Tangisnya begitu histeris, bersamaan dengan tubuhnya yang meluruh di lantai. Dengan masih tergugu, dia memukul lantai dengan kepalan tangannya seolah ingin melampiaskan rasa sakit di hatinya. Seperti ribuan sembilu yang telah menancap di hatinya. Kepala berdenyut dengan dada yang terasa nyeri membuat seluruh tubuhnya berlahan terkulai lemas.
Entah berapa jam dia tidak sadarkan diri. Sebuah genggaman tangan besar bertaut diantara jari jari dinginnya. Matanya mengerjap bersamaan suara adzan subuh berkumandang. Berlahan Zoya menarik tangan Hans yang tertidur di dekatnya.
"Zoy, kamu sudah bangun! " ucap Hans saat merasakan pergerakan jari-jari kecil itu dari genggamannya.
"Kenapa tidur di sini? Bukankah, ini malam pertama kalian? " ucap Zoya. Matanya kembali berkaca kaca membayangkan suaminya akan menghabiskan malam bersama wanita lain.
"Arum mengerti, Zoy. Kamu sedang sakit. Aku menemukanmu pingsan di depan pintu! " jawab Hans.
'Arum' mendengar nama itu disebut oleh suaminya hatinya sudah terasa sakit. Apalagi jika dia harus berbagi hati. Berapa lama dia bisa bertahan dengan situasi seperti ini? Zoya memang belum bisa menerima semua ini. Sebenarnya, dia belum siap bergelut dengan rasa cemburu di setiap saat dalam hidupnya.
"Berhenti menyentuhku, Mas! " tegas Zoya dengan menarik tangannya dari genggaman Hans.
"Zoy... " lirih Hans penuh permohonan.
"Aku memilih mundur sampai kapanpun. Saat ini dirimu sudah terasa asing bagiku. Aku akan berusaha menutup mata jika Mas Hans memintaku untuk bertahan sampai aku melahirkan." jelas Zoya. Dia sudah bertekad untuk berpisah dengan Hans sampai anaknya lahir.
__ADS_1
Hans menatap punggung istrinya hingga menghilang dari balik pintu kamar mandi. Hatinya pun merasa sakit saat mendengar dirinya sudah menjadi asing bagi istrinya.
Bersambung....