
Jangan melukai istrimu karena pada hakekatnya istrimu adalah tulang rusukmu, patah satu ruas saja itu bisa melukai hatimu, jantungmu dan paru-parumu. (Seharusnya yang baca bab ini bapak bapak ya.. hehehehe😃)
Zoya's Pov
Aku bisa menyadari posisiku. Dan yang dikatakan Mas Hans tidaklah salah, aku memang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan. Tapi entah kenapa hatiku rasanya sakit mendengarnya. Perkataan Mas Hans membuat mataku terbuka lebar. Dulu aku pikir sebuah pengabdian sudah cukup untuk keluargaku, tapi ternyata tidak dengan pasanganku.
Semua itu membukakan mataku pada sebuah kebenaran jika kita harus menjadi seseorang yang berilmu, punya wawasan sesuai dengan perkembangan jaman yang ada, bukan untuk mengikuti budaya yang tidak seharusnya, tapi untuk memfilter dan menjaga diri.
Zoya mengerjapkan pelupuk matanya mencoba menahan tangis yang tidak seharusnya.
"Zoy, mama Minta tolong dong! " ujar Shanti membuyarkan lamunan Zoya. Perempuan itu pun menoleh dan tersenyum saat mama mertuanya duduk di dekatnya. Suasana memang terlihat sedikit canggung setelah ketegangan saat sarapan pagi tadi.
"Iya, Ma. Apa yang bisa Zoy bantu? " jawab Zoya. Mereka kini duduk berdua di gazebo yang ada di dekat kolam renang.
"Mama ingin kamu nganterin gudeg dan kue bakpia ke rumah Nurma. Kamu juga bisa refreshing, bawa Ale sekalian mumpung ada libur tiga hari."
"Maksud Mama? " Zoya tidak mengerti maksud mama mertuanya.
"Iya aku ingin kamu mengantarkan makanan dan beberapa barang buat Nurma. Kamu juga bisa liburan bersama Ale, tidak usah bilang Hans. Nanti Mama yang akan bilang." jelas Shanti, semua sudah Shanti pikirkan dengan sangat matang.
"Tapi, Ma... "
"Jangan lagi ada tapi-tapian. Manut saja sama Mama. Nanti kamu sama Ale biar diantar Pak Bagus." Pak Bagus sopir pribadi Mama Shanti.
"Ale pasti seneng ketemu Zahra dan eyangnya. Sana kamu bersiap! Sebentar lagi Ale pulang sekolah. Dan kalian bisa langsung berangkat. " titah Shanti yang sengaja mengatur waktu berlibur untuk Zoya dan Ale. Beliau pikir, bertemu Adik dan Ibunya akan membuat Zoya jauh lebih baik. Sementara itu Mama Shanti juga sudah menyiapkan banyak pasal untuk bernegosiasi dengan putranya. Bukannya beliau tidak menyayangi putranya. Justru karena begitu sayangnya dengan Hans, hingga dia tidak ingin suatu saat putranya akan menyesali akibat dari kelakuannya.
Zoya serba salah lagi, bagaimana dia bisa meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan suaminya. Tapi, dia juga tidak bisa menolak permintaan mama mertuanya yang sudah seperti ibunya sendiri.
Kali ini Zoya memilih untuk memenangkan egonya, dia akan menuruti apa kata mama mertuanya karena dia juga sudah merindukan ibu dan adiknya. Perempuan mungil yang sudah bulat dengan keputusannya itu pun mulai berkemas, mengepak beberapa barang miliknya dan barang Ale. Sebentar lagi putrinya juga akan pulang.
"Mama, katanya kita akan ke rumah Eyang?" Ale yang tiba tiba nyelonong masuk ke kamar dengan tas di punggungnya itu menghampiri mamanya.
"Sayang kalau masuk kamar, ketuk pintu atau salam dulu, ya! " Zoya kembali mengingatkan putrinya yang memang belum terbiasa, tidak mudah membiasakan sesuatu yang baik tapi dia yakin, meskipun begitu alam bawah sadar anak- anak akan tetap mengolah apa yang pernah di nasihatkan orang tua kepadanya.
"Maaf, Ma! " ujar Ale dengan mengambil punggung tangan mamanya untuk salim.
"Iya kita akan berangkat sekarang, ya! Ayo, Ale mandi terus ganti baju."
__ADS_1
"Asyikkkk kita ke rumah Eyang." bocah gembul itu melompat lompat kegirangan. Kali ini, Zoya hanya menatap putrinya dengan tersenyum.
###
Habis magrib Hans terlihat baru pulang, dia masuk ke dalam rumah mencari seseorang yang biasa menyambutnya. Tapi, kali ini tidak ada seorang pun yang dia cari. Zoya atau pun Ale tidak lagi menampakan diri.
"Bi, kemana Zoya dan Ale? " tanya Hans saat melihat Bi Muna yang sedang menyiapkan Makan malam.
"Zoya pergi! " sela Mama Shanti, seketika pula Hans terperangah kaget.
"Jangan berbohong, Ma. Tidak mungkin Zoya pergi tanpa izin dariku." lelaki itu tersenyum kecut dengan menggelengkan kepala. Dia masih tidak percaya jika Zoya akan melakukannya.
"Kenapa? Kamu percaya Zoya tidak akan melakukan sesuatu tanpa seizinmu tapi, kenapa kamu masih memojokkan posisinya terus. Terus salahnya dia apa jika menghabiskan waktunya untukmu dan putrimu?" Kalimat Shanti memang terdengar datar tapi mata itu pun terlihat berkaca-kaca.
"Ma, aku tidak sengaja jika ucapanku melukainya." ucap Hans.
"Jika semua bisa selesai dengan kata maaf karena tidak sengaja atau kekhilafan tidak ada penjara atau pun neraka! Aku kecewa, tidak hanya sekali atau dua kali kamu menyakiti perasaan perempuan itu." kalimatnya hampir tak terdengar meski setelahnya beliau menelan salivanya dengan kasar.
"Ma, dimana Zoya. Di mana Ale?" kali ini Hans berdiri. Dia terhenyak kaget kalau keseriusan terlihat di wajah mamanya.
"Mama mengusir mereka berdua. Mungkin, itu lebih baik dari pada tidak pernah di hargai sama sekali."
"Dia sudah berusaha menjadi istri yang baik dengan usianya yang sangat mudah. Lalu apa kurangnya dia Hans? Apa karena dia hanya lulusan Aliyah. Apa dia tidak seperti yang kamu inginkan?" kali ini Shanti tidak bisa mengontrol emosinya. Kalimatnya terdengar tajam hingga menghujam ke hati putranya.
"Dimana mereka, Ma?" kali ini Hans memegang bahu yang yang pernah menjadi tempatnya bersandar kala merasa putus asa.
"Sudah Mama bilang, Mama sudah menyuruh mereka pergi. Kamu bebas melakukan apa saja dan bicara apa pun." kali ini Shanti menangis membuat putra kesayangannya jadi serba salah. Hans pikir hanya sebuah kalimat yang tidak sengaja terucap membuat semuanya menjadi kacau.
"Dimana mereka, Ma?" selidik Hans sekali lagi, membuat wanita paruh baya itu tetap tak bergeming.
"Mama tidak tahu. Malam ini Mama akan pulang ke rumah." Shanti kemudian berbalik menuju kamarnya mengambil koper yang sudah beliau siapkan sejak sore. Malam ini juga dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Hans meraup wajahnya kasar kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa. Tangannya mulai merogoh ponsel mencoba menghubungi Zoya. Tapi sayang, tak satu pun panggilannya yang diangkat.
"Sial.... " umpat Hans dengan kaki menendang meja yang ada di depannya.
Dia akhirnya memutuskan untuk mencari Zoya ke kos Nilla. Nilla, satu satunya teman terdekat Istrinya. Dengan pikiran kacau dia mulai melajukan mobilnya menuju kos Nilla yang tidak terlalu jauh rumahnya, hanya butuh lima belas menit untuk sampai di sana.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." ucap Hans saat berada di luar gerbang kos putri tersebut. Nilla yang kebetulan duduk bersama temannya di luar, akhirnya menghampiri lelaki yang saat ini terlihat kacau.
"Waalaikum salam...ada apa, Bang? " tanya Nilla merasa heran dengan kedatangan Hans.
"Zoya di sini? " tanya Hans tanpa basa basi lagi.
"Tidak ada, Bang. Bahkan sudah hampir sebulan kami tidak pernah bertemu." ujar Nila yang hanya di tanggapi Hans dengan helaan nafas berat. Tangannya menyugar rambut klimisnya hingga berkali kali.
"Zoya tidak bilang ke Abang? " melihat kebingungan Hans, Nila pun melanjutkan kalimatnya untuk memutuskan rasa penasaran nya.
"Tidak, dia juga membawa Ale." jawab Hans dengan tatapan menerawang.
"Apa Zoya pulang ke kampung? Tapi, mana mungkin ya? " Nilla juga merasa bingung karena Zoya tidak punya banyak teman di kota ini.
"Ohhh...!" Saat mendengar kalimat Nilla Hans langsung pergi menghampiri mobilnya kembali. Ya, kali ini dia memutuskan akan mencari Zoya ke kampung. Dia berharap Zoya dan putrinya ada di sana.
###
Di sebuah perkampungan yang cukup sunyi saat petang mulai merajai. Mobil sedan milik Mama Shanti yang dibawa Pak Bagus untuk mengantarkan Zoya pun berhenti di sebuah rumah yang sudah terlihat berbeda. Rumah yang terlihat lebih layak dari sebelumnya.
"Ale sayang, kita sudah sampai? " Zoya mulai menepuk pelan pipi gembul putrinya yang sejak tadi terpulas di pangkuannya.
"Mama... hoaaamm. " Bocah itu mulai menggeliat untuk mengumpulkan kembali seluruh kesadarannya.
"Kita sudah sampai!" ujar Zoya membuat Ale langsung duduk untuk meyakinkan ucapan mamanya.
Saat Zoya keluar dari mobil sudah nampak Bu Nurma dan Zahra keluar dari rumah. Mereka menyambut kedatangan Zoya dan Ale. Sementara pakai Bagus segera membawa koper yang berisi barang barang Zoya masuk ke dalam.
Saat mulai tersadar putrinya pulang tanpa menantunya. Nurma mulai menatap Zoya penuh selidik. Tapi beliau masih menyimpan rasa penasarannya hingga Pak Bagus langsung pamit untuk pulang.
Mereka pun langsung masuk ke dalam, sementara Ale langsung menempel pada Zahra.
"Zoy, kenapa suamimu tidak ikut?" tanya Nurma saat masuk ke dalam kamar Zoya yang juga sudah di renovasi.
"Mas Hans sibuk, Bu!" ujar Zoya dengan bersandar di bahu ibunya.
"Rumah tangga memang tidak berjalan mulus, seperi halnya manusia yang punya banyak kekurangan dan kekhilafan. Jadi wanita itu sabar dan kuat hati karena hakikatnya wanitalah yang harus harus kuat untuk bertahan."
__ADS_1
"Sekarang istirahatlah!" ujar Nurma dengan menepuk punggung tangan kecil putrinya. Dia sudah faham pasti ada masalah diantara mereka.Tapi, dia akan membiarkan Zoya menyelesaikannya dengan dewasa.
Bersambung...