Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Kembali Satu Kamar


__ADS_3

"Mas... " panggil Zoya setelah Hans meneguk jusnya.


"Ada apa? " tanya Hans tidak sabar menunggu kelanjutan kalimat Zoya.


"Bolehkah, aku ikut kajian agama di pondoknya Nilla? "


"Seminggu sekali, Mas! " lanjutnya. Hans kini menatap Zoya dengan menautkan kedua alisnya. Dia sedang memikirkan jawaban untuk Zoya, karena ada hal yang tidak dia senangi jika kajian itu berhubungan dengan lelaki yang memberikan istrinya sebuah buku.


"Eehmmm.... kamu mau kuliah? "


"Buk- bukan...bukan, Mas!" Zoya langsung tergagap saat menjawab pertanyaan Hans dengan cepat. Dia tidak ingin merepotkan Hans dengan membiayai uang kuliahnya, meski mungkin untuk Hans itu tidak seberapa.


"Jika kamu ingin kuliah tidak masalah untukku, Zoy! " lanjut Hans saat menatap raut waja sungkan Zoya.


"Tidak Mas, sebentar lagi Ale masuk sekolah. Aku ingin fokus di Ale. Lagian kalau untuk acara kajian agama cuma seminggu sekali dan itu pun kalau ada waktu luang."


"Baiklah kalau mau kamu seperti itu. Oh ya, Kapan Bapak meninggalkan kalian? " tanya Hans yang sudah mulai ingin tahu latar belakang Zoya.


"Saat aku masih SD. Kalau Nggak salah kelas empat SD." Tiba tiba mata Zoya berkabut. Air yang mengembun di pelupuk matanya pun kini berhasil menetes.


"Maaf, Aku hanya ingin tahu sedikit tentang kamu, bukan untuk mengungkit kesedihanmu! " ucap Hans, tangannya menjulur mengenggam jari-jari Zoya.


"Tidak apa-apa, Mas. Setiap orang pasti akan melaluinya. Termasuk Mas Hans juga!" Hans mengeratkan genggamannya , berusaha menguatkan istrinya. Ini pertama kali dia melihat Zoya menangis.


"Aku akan membawa ini ke belakang! " Zoya pun beranjak membawa piring kotor ke dapur. Sementara Hans hanya menatap punggung istrinya.


"Aku tahu kamu seperti wanita pada umumnya, apapun kamu pasti punya rasa sedih, marah dan mungkin cinta. Tapi siapa yang memiliki perasaan cintamu, Zoy? " Hans bermonolog dengan pikirannya. Rasa penasaran terhadap istrinya selalu mengganggu pikirannya.


Suara langkah yang begitu energik menggema, dentuman pantulan sepatu high heels yang sedikit berdecit kini semakin mendekat, membuat Hans menolehi siapa yang datang.


"Mama." dengkus Hans saat melihat mamanya yang sudah tersenyum menuju ke meja makan.

__ADS_1


"Ahh, sayang. Mama belum makan malam! Masih adakah makanan untuk mama? " Bu santhi memilih mendekati Zoya yang ada di pantry, karena dia tahu jika berada di dekat Hans tentu saja anaknya itu hanya akan mencibirnya. Mereka seperti musuh bebuyutan.


"Mama, nasi goreng mau? " tanya Zoya.


"Apa saja yang penting masakanmu, Zoya! " Bu Shanti kini memilih duduk di meja makan. Seperti biasa Hans memang jarang sekali berbicara, lelaki dengan tampang cool itu lebih senang memperhatikan.


"Mana cucu mama, Hans? "


"Sudah tidur, Ma!" jawab Hans kemudian menghabiskan jusnya.


"Oalah kalian bisa berbulan madu, donk? "


"Uhuk.. uhuk... uhuk...! " Hans terbatuk saat mendengar celotehan mamanya.


Nampak Zoya membawakan nasi goreng dan jus untuk mertuanya. Kemudian meletakkannya di depan mertuanya sambil melirik Hans yang terbatuk-batuk.


"Kenapa, Mas?" tanya Zoya kemudian menyodorkan air putih pada suaminya.


"Mama tadi baru dari tempat Mbak Niar? " tanya Hans.


"Iya, ini dari bandara langsung ke sini! " jawab Bu Shanti dengan santai.


"Ya ampun, kenapa keluyuran saja, Ma! Jaga kesehatan Mama. " ucap Hans.


"Iya, ini mama lagi menjaga kesehatan mental Mama!" Mendengar jawaban mamanya Hans langsung terbungkam. Sedang Zoya malah melirik Hans dengan senyum tipis di bibirnya.


Dari pada berdebat dengan Mamanya terus menerus, Hans memilih menyingkir dan memilih pergi ke ruang perpustakaan yang ada di lantai dua rumah mewahnya.


Hanya Zoya yang menemani Bu Shanti menikmati makan malam kali ini. Wanita paruh baya itu sangat senang, dia tidak pernah salah memilih menantu.


###

__ADS_1


Malam ini Zoya kembali ke kamar Hans, itu pun karena Bu Shanti memilih tidur bersama Ale dengan alasan sudah kangen dengan Ale.


Zoya menggantungkan Jilbabnya, sedangkan Hans masih berada di perpustakaan. Lelaki itu sengaja menghabiskan banyak waktunya di perpus karena dia tahu jika Zoya akan kembali ke kamar untuk malam ini.


Wajah putih Zoya terlihat segar setelah di bersihkan, dia mulai menyisir rambut panjang sebelum pergi ke tempat tidur. Sekali lagi matanya tertuju pada foto pernikahan pertama Hans.


"Setiap orang punya garis hidup masing-masing. Beruntung mereka yang menikah dengan penuh cinta dan sebuah moment yang sesuai dengan impian mereka. " Kini hatinya terasa pedih. Bukan karena iri dengan keadaan orang lain tapi di sisi lain dia sudah tidak ada harapan untuk mendapatkan cinta seseorang. Dia sudah menutup rapat tentang sosok wildan, dan setahunya hati suaminya masih milik mendiang istrinya.


Dengan duduk di pinggir tempat tidur, Zoya mengatupkan matanya yang sudah terasa panas. setelah banyak hal yang sudah tersimpan dan bertumpuk, saat ini dia merasa sangat sensitive.


"Zoya... " Panggilan Hans mengagetkannya. Buru-buru, dia menghapus air matanya meski itu percuma karena Hans sudah memergokinya terlebih dahulu. Zoya memang tidak mendengar kedatangan Hans di kamar.


"Kamu menangis? " Hans mendekati zoya, lelaki itu menekuk kakinya, berjongkok tepat di depan istrinya.


"Aku hanya sedikit sensitif saat ini, Mas. "


"Kamu bukan Tuhan, kamu juga bukan Malaikat yang hanya di karuniai satu perasaan dan satu tugas. Kamu bisa membohongi orang lain tatapi tidak dirimu sendiri!" Hans menatap mata bulat yang saat ini berkaca kaca di depannya.


"Aku suamimu, Zoy. Ntah kita terima atau tidak tapi kenyataannya seperti itu. Setidaknya aku bisa menjadi teman yang bisa kamu percaya. " lanjut Hans dengan memegangi bahu kecil Zoya.


"Percayalah padaku, jangan menyimpan semuanya sendiri! itu akan menjadi boom waktu." Hans merengkuh tubuh mungil zoya dalam dekapannya. Seketika itu pula tangis Zoya meledak. Seperti ada tempat untuk menumpahkan segala yang menyesak.


Tangan kecil itu mencengkeram kuat punggung Hans, bahkan isakannya yang menjadi membuat Hans sedikit khawatir, tapi Hans membiarkannya untuk beberapa waktu, mungkin sudah terlalu lama Zoya menyimpan banyak rasa yang membuatnya sedih.


Hampir lima belas menit Zoya menangis dalam pelukan Hans, Zoya sendiri tidak menyadarinya. Hans seperti memberi tempat nyaman, pelukan hangat suaminya membuat Zoya menumpahkan semua yang membawa perasaanya sedih. Kehidupan yang keras setelah kepergiaan bapaknya untuk selamanya. Segala cemoohan, cibiran yang hanya bisa di telan saja tanpa harus bisa memprotes. Bahkan cintanya yang sudah kandas membuat kesedihan tersendiri, status sosial yang kurang mumpuni kadang membuat seseorang merasa terpuruk dalam banyak hal.


"Tenang, Zoya! " Masih dengan menepuk pelan punggung Zoya, Hans berusaha menenangkan isak tangis istrinya.


"Maafkan aku, Mas. Sikapku sangat berlebihan."


"Zoya, dengarkan aku. Jangan membiasakan menyimpan semuanya sendiri. Kamu berhak melakukan apapun yang menurutmu benar. " Hans membingkai pipi cabi itu dengan kedua telapak tangannya. Dia memang ingin Zoya bisa lebih terbuka. Entahlah, rasa memiliki dan berkaitan dengan gadis di depannya itu berlahan muncul tanpa dia tahu kapan datangnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2