
Di antara rasa lelah, Hans menyandarkan tubuh di kursi kebesarannya. Di ruang kerja yang hampir mirip perpustakaan, hanya saja terlihat sedikit mewah, lelaki yang menatap menerawang ke segala arah itu, memikirkan sikap janggal istrinya. Hamil. Terus saja kata itu yang selalu berputar-putar di otaknya, meski logikanya tak meyakini, karena Zoya bilang jika sepekan yang lalu dia masih ada tamu bulanan.
Hans meraih benda pipih yang tergeletak di atas mejanya. Dia berniat menghubungi istrinya. Pagi tadi, Zoya memang mengatakan jika akan mencari kemeja putih untuk persiapan orientasi mahasiswa baru minggu depan.
Beberapa kali, Hans mencoba menghubungi ponsel Zoya tapi tidak juga bisa tersambung. Lelaki yang berniat mengajak Zoya untuk periksa pun kemudian mencari keberadaan istrinya lewat GPS yang memang sengaja dia aktifkan.
"Masih di daerah pertokoan." gumam Hans serasa membereskan sisa pekerjaannya, kemudian menyambar kunci mobil berniat menyusul Zoya.
Hans merasa, ada hal yang berbeda dalam dirinya. Hampir setiap detik dia merindukan istrinya. Zoya Kamila yang semakin hari semakin menyebalkan, tapi satu sisi dari hatinya tidak bisa mengendalikan rasa rindunya.
###
Setelah membawa baju yang barusan dia beli, Zoya keluar dari sebuah toko baju dengan level biasa. Itulah perbedaan kecil dia dengan suaminya. Jika Hans sedikit-sedikit butik, Zoya sendiri cukup dengan blus yang dibandrol dengan harga tiga ratusan ribu.
Langkah kecilnya diikuti angin yang bertiup menyapu debu jalanan. Sesekali dia menyipitkan mata agar debu tersebut tidak masuk ke dalam. Mendung yang menyelimuti kota membuat sore kali ini terlihat semakin gelap.
Nafasnya mulai terengah-engah saat beberapa meter langkah kakinya mengayun cepat. Dia memutuskan untuk duduk sebentar di kursi panjang berbahan besi yang ada dipinggir jalan.
"Ya Allah, masih dua meter, kenapa lelah sekali." ujarnya dengan mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya. Biasanya dia biasa melaluinya dengan jalan kaki, tapi kali ini dia merasa cepat sekali lelah.
"Minum dulu!" seseorang menyodorkan sebuah botol air mineral. Zoya yang mendapati seseorang yang berdiri di depannya dengan tiba tiba, membuatnya mendongak kaget.
Reynaldy menyodorkan sebuah botol air mineral ke arahnya. Senyum lelaki itu membuat Zoya membalas dengan anggukan. Kaget dan merasa sungkan. Itu yang saat ini memenuhi hati Zoya.
"Aku tidak meracuninya, kok." ucap Rey dengan mendudukkan bobotnya di sebelah Zoya. Masih dengan tangan terulur menggenggam botol, Rey menatap wanita yang saat ini menggeser tubuhnya sedikit menjauh.
Dengan ragu Zoya mengambilnya, "terima kasih." ucap Zoya lirih, kemudian di balas dengan senyum tipis lelaki yang saat ini menatapnya begitu dalam.
Tidak lagi memberi jeda, Rey mengulurkan satu tangkai mawar putih, membuat Zoya mengernyitkan dahi kemudian menatap Rey yang masih tersenyum padanya.
"Maksudnya apa, Bang?" tanya Zoya dengan nada lirih.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Zoy." Zoya terhenyak kaget, seketika itu pula dia berdiri. Bukan karena dia tidak tahu ini semua, tapi seberani itukah lelaki di depannya, menyatakan perasaan cinta pada seorang wanita yang masih menyandang status istri dari pria lain.
"Ini tidak benar, Bang." Zoya meletakkan kembali botol air mineral di kursi. Wajahnya terlihat menegang.
"Aku serius, Zoy." Dengan sigap Zoya mengibaskan tangannya saat lelaki itu akan mengambilnya.
"Jangan melakukan sesuatu yang menimbulkan fitnah, Bang." Tidak ingin berbuntut panjang Zoya segera berbalik.
"Buuuugh... " Tubuh mungil itu seolah-olah terpental saat membentur dada bidang seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Arrrrghh.... " Untung saja, tangan Hans langsung menahan tubuh Zoya, jika tidak mungkin Zoya sudah terjatuh.
"Mas Hans." Lirih Zoya saat melihat suaminya sudah berdiri menatap lawannya. Sorot mata tajam dan rahang yang sudah mengeras sudah tergaris, sedangkan tangannya menarik Zoya untuk berpindah ke belakangnya.
"Apa yang kemarin masih kurang? Dasar tidak tahu malu!" Hans berlahan maju ke depan dengan melipat lengan kemejanya. Sorot matanya tidak lepas dari sosok yang masih sempat berdecih dengan memalingkan muka.
"Aku tidak akan berhenti sampai kau melepaskan, Zoy! Aku akan memperlakukannya lebih baik dari pada bersamamu. sahut Rey tak kalah menantang.
"Bughhh... " Tidak menjawab ucapan Rey, Hans langsung melayangkan pukulannya ke wajah Rey. Begitu juga Rey yang tidak tinggal diam. Mereka saling membalas hingga gerimis mulai membasahi bumi dan tubuh mereka. Baku hantam tidak dapat dihentikan, bahkan teriakan Zoya yang meminta mereka untuk berhenti pun tidak terdengar oleh keduanya.
"Zoya... " Teriak Hans saat melihat tubuh istrinya meluruh ke bawah. Dengan panik, Hans mendekati zoya, beberapa kali dia berusaha membangunkan istrinya tapi hasilnya nihil.
"Kita bawa ke klinik." ucap Rey. Hans mengangkat tubuh Zoya dalam gendongannya, "Pakai mobilku saja!" lanjut Rey. Kali ini, Hans menurut saja pada Rey, hanya kondisi Zoya yang dia pikirkan saat ini.
"Cepatan! nyetir lelet banget." Cecar Hans dengan sewot, wajah datarnya kini menampilkan emosi yang sangat panik. Bahkan, beberapa kali dia mencoba membangunkan istrinya meskipun masih gagal.
Dengan langkah berlari, Hans menggendong Zoya ke ruang UGD. Wajah Zoya yang terlihat pucat membuat rasa cemas menguasai seluruh pikiran Hans.
Sepanjang pemeriksaan Hans terus saja mondar-mandir tidak jelas. Rey yang menyandarkan tubuhnya di tembok merasa heran. Benarnya semua yang dia lihat? Secemas itukah Hans terhadap Zoya? Yang dia tahu Hans adalah seorang yang arogan dengan beberapa skandal yang dia yakini pasti sangat melukai Zoya. Rey juga tahu jika karena sikap arogan Hans membuat Zoya beberapa kali ingin pergi dari lelaki itu termasuk saat pulang kampung atas perintah Mama Shanti.
"Kita akan membawa pasien ke ruang dokter Obgyn." ucap salah satu perawat dengan mendorong Zoya di kursi roda.
__ADS_1
Kedua lelaki itu terhenyak, tapi keduanya sama sama lega saat melihat Zoya sudah sadarkan diri. Keduanya berjalan mengikuti kemana Zoya akan dibawa. Hans masih penasaran kenapa harus ke ruang obgyn. Sedangkan Rey lebih terlihat kecewa. Lelaki berambut gondrong yang saat ini memelankan langkahnya pun mulai berfikir Zoya hamil. Berlahan-lahan denyut jantungnya terasa sangat ngilu. Belum mendengar kejelasannya saja hatinya merasa sakit. Rey memilih meninggalkan rumah sakit, dia belum siap mendengarkan kebenaran kabar jika Zoya hamil saat ini. Dia merasa, rasa sakit yang diam diam menelisik dalam hatinya saat ini, membuat Rey membutuhkan waktu untuk mendengarnya.
Sementara Hans langsung masuk ke ruangan mengiringi pemeriksaan istrinya. Wajahnya terlihat kaku karena rasa penasaran yang tertahan. Hans sendiri yang memindahkan Zoya dari kursi roda ke atas bed untuk persiapan USG. Lelaki itu memilih untuk berada di dekat istrinya saat dokter mulai memeriksa Zoya.
"Selamat ibu, Bapak. Ada dua kehidupan di perut ibu Zoya. Lihat!" Seketika Zoya langsung tersenyum merasakan rasa bahagia yang membuncah dalam hatinya saat dokter memfokuskan alat USG.
"Tapi lebih dari sepekan yang lalu istri saya masih menstruasi, Dok?" Hans kembali meyakinkan dirinya, meski hatinya sudah ingin bersorak bahagia.
"Flek atau menstruasinya banyak?" tanya Dokter Hastuti kepada Zoya.
"Flek, Dok. Tapi sampai empat hari." jawab Zoya dengan mengulum senyum di bibirnya.
"Oh, itu biasa terjadi diawal kehamilan." jawab Dokter Hastuti dengan tersenyum menatap Hans.
"Berarti istri saya jadi hamil, Dok?" Kali ini lelaki yang biasa memberi kesan smart itu pun terlihat bodoh dengan pertanyaannya.
Dua Hans junior yang masih sebesar biji kacang di perut istrinya membuat Hans tidak lagi menyurutkan senyum dari bibirnya. Beberapa kali, dia menciumi Zoya tanpa peduli di mana mereka berada. Bahkan, dokter Hastuti sempat tersenyum tipis. Saat melihat kelakukan lelaki yang masih keponakan jauhnya itu.
Betapa rasa bahagia yang luar biasa hingga membuat Hans tidak dapat lagi menggambarkannya. Dia memilih untuk langsung ke rumah Mama Shanti. Dia tidak sabar lagi ingin membagikan kabar bahagia ini pada Mama Shanti dan Ale. Sebelum berangkat ke kantor, Hans memang membawa Ale ke rumah mama Shanti karena tidak ingin membebani Zoya saat belanja.
"Terima kasih, Zoy." sudah kesekian kalinya Hans mengucapkan kalimat itu sambil menciuminya, membuat Zoya merasa geli sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Zoya menyandarkan tubuh di dada bidang suaminya. Merasa ada yang membuatnya sangat terikat dengan lelaki tersebut. Hans hanya meliriknya istrinya yang terlihat manja. Mungkin, inilah jawaban tentang sikap aneh istrinya. Bahkan, sikap Zoya sering membuatnya kasal karena mengatai dirinya bau. Dua Hans junior. Satu sangat manja dan satunya pasti mulutnya tidak jauh beda darinya. Lelaki itu kembali lagi tersenyum membayangkan kedua titisan Satrya Jagad itu sedang on the way ke dunia.
"Sepertinya ada kabar gembira ya, Mas?" Kalimat Pak Bagus (supir Mama Shanti) memecahkan keheningan di dalam mobil. Lelaki yang sudah lebih dari dua puluh lima tahun ikut Mama Shanti itu pun begitu penasaran saat melihat dua orang di jok belakang terlihat sumringah seperti pasangan yang lagi kasmaran.
"Iya, nanti saja saat di rumah saya kasih tahu." jawab Hans membuat lelaki paruh baya itu mengerti.
Bersambung...
Hae hae.... maafkeun ya jika nunggu lama. Nggak nyangka saja masih ditunggu dan ditanyain kabarnya Zoyanya. Duch seneng banget lo gaes tulisan recehku masih di nanti.
__ADS_1
Untuk kakak author yang bersedia menjawab komen readers thanks u... sukses dan semangat.
Happy reading gaes... Sehat selalu dan selalu happy....