
Di lantai dua kantor dosen, Wildan menatap Nilla yang lagi asyik mengobrol dengan temannya. Terlihat manis senyum yang tersemat di antara wajar cantik istrinya, Wildan pun tersenyum.
Dia baru teringat Jika sekarang Nilla sudah tidak ada kelas. Gegas, dia langsung berjalan dengan langkah panjang untuk menemui istrinya. Di kampus mereka sengaja menjaga jarak, bukan bermaksud untuk menutupi pernikahan mereka dari publik. Tapi, mereka hanya ingin profesional saja.
Wildan masih berlari kecil dengan melewati beberapa mahasiswi yang masih menatapnya heran. Dosen terganteng, julukan itu terdengar dengan sangat familiar di kalangan mahasiswi.
Wildan berusaha mengejar Nilla, bukan tanpa alasan. Dia hanya tidak ingin istrinya pulang sendiri karena mendung yang semakin terlihat petang.
"Nilla...!" panggil Wildan, beberapa orang yang mendengarnya pun terlihat heran akan kedekatan mereka. Nilla adalah mahasiswa fakultas tarbiyah, sementara Wildan Dosen Fakultas Ilmu Dakwah. Rasanya mustahil mereka saling mengenal dengan begitu akrab.
"Nil..." ulang Wildan dengan menarik tangan Nilla. Tentu saja itu sudah menimbulkan rasa curiga yang cukup besar bagi mahasiswa yang melihat mereka. Seolah, lelaki yang dikenal sangat religius itu sudah berani memegang tangan mahasiswinya
"Ada apa, Bang." suaranya lirih, bahkan sebisa mungkin dia ingin menyembunyikan wajahnya dari mata yang kini tertuju pada mereka.
"Kita akan pulang bersama." ucap Wildan tanpa basa basi. Wildan langsung menarik lengan Nilla untuk masuk ke mobilnya.
"Bang, kita dilihat banyak orang." ucap Nilla ketika Wildan sudah duduk di balik kemudi.
"Nil, kita tidak melakukan dosa. Kita nikah resmi secara agama dan negara." jawab Wildan dengan menghidupkan mesin mobilnya.
Nilla terdiam, memang benar apa yang dikatakan suaminya. Tapi, entah kenapa rasa hatinya seperti ada yang mengganjal.
"Bang, kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang." tanya Nilla saat menyadari arah laju mobil Wildan yang berlawanan dengan arah jalan pulang.
"Kita akan belanja terlebih dahulu. Bahan makanan di rumah sudah habis." jawab Wildan, tatapannya masih memperhatikan jalan di depan. Audio mobil yang memutar lagu romantis itu pun terdengar begitu dalam.
Air gerimis yang mulai berjatuhan membuat pandangan mata sedikit terganggu, padahal saat ini jalanan sudah terlihat lenggang. Sesekali Wildan masih melirik Nilla yang masih terdiam. Bagi Wildan, Nilla sudah banyak berubah.
"Kruk... kruk... kruk... " Mata Nilla semakin membulat dengan tangan memegang perutnya yang bersuara. Ih, dia sangat malu, apalagi saat diliriknya Wildan tersenyum ketika mendengar cacing di perutnya mulai berisik.
Tanpa bertanya lagi Wildan mencari tempat makan yang nyaman dan sekaligus sambil menunggu hujan gerimis mereda.
"Bang, ini resto mahal!" ujar Nilla. Dia masih terlihat enggan keluar dari mobil. Baginya sangat berlebihan jika mereka harus makan siang di tempat semahal ini.
__ADS_1
"Tenang, Nil. Kata orang orang yang berpengalaman, menyenangkan istri katanya rejeki akan terus mengalir." jelas Wildan. Padahal, lelaki itu punya banyak job di luar menjadi dosen. Punya percetakan buku dan menjadi translator bahasa Arab di salah satu stasion televisi swasta.
"Ayo, kita masuk!" ajak Wildan lagi.
Nilla memang keluar dari mobil. Tapi, masih terdiam di tempat karena dia masih merasa ragu.
"Nil, ayo!" Wildan menghampiri Nilla, kemudian dia merengkuh pinggang kecil istrinya dan membawanya masuk ke dalam. Hati Nilla berdetak lebih cepat seolah jantungnya ingin meledak saat tangan besar itu menyentuh pinggangnya. Tentu saja itu tangan pertama laki laki.
Nilla memang tak bisa menyembunyikan rasa nervous dan salah tingkahnya hingga lelaki yang sedari tadi sengaja memperhatikan reaksinya pun tersenyum. Wildan bisa membacanya.
"Nil, apa kamu tidak bahagia hidup bersamaku?" pertanyaan Wildan meluncur di tengah makan siang mereka.
"Kenapa, Bang?" Nilla balik bertanya dengan wajah menunduk, bukan karena tidak suka. Tapi, dia masih berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak.
"Kamu menyesal menikah dengan, Abang?" ucap Wildan dengan menggenggam tangan Nilla yang berada di atas meja.
"Aku melihatmu berubah. Jujurlah pada Abang! Apa yang membuatmu menjadi pendiam. Apa abang sudah menyakiti perasaanmu?" lirih Wildan tapi tatapan mata sayu itu begitu kuat hingga membuat Nilla terbungkam sejenak.
"Bang, aku merasa tidak pantas jadi istri Abang. Banyak wanita yang jauh lebih baik dari aku." Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Nilla. Sebelumnya banyak yang ingin dia utarakan tapi otaknya hanya mampu mengolah kalimat tersebut.
"Tapi kenapa, Bang? Abang tahu aku judes, aku juga kasar sama Abang." Nilla kembali meyakinkan Wildan akan sifat buruknya, tapi kenyataannya lelaki itu hanya tertawa kecil.
"Abang sudah faham tanpa kami kasih tahu."
"Abang ingin kita memulainya dengan baik. Belajar untuk bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing." Kalimat Wildan memberi rasa lega yang luar biasa. Seolah semua beban Nilla runtuh seketika.
"Iya, Bang." ucap Nilla malu-malu. Perempuan berwatak keras itu pun seolah meleleh dengan kelembutan dan kesabaran suaminya. Dia berfikir bagaimanapun dia sudah menikah. Pernikahan bukanlah sebuah permainan.
Mereka menyelesaikan makan siang penuh dengan makna. Setelah itu mereka melanjutkan dengan pergi ke swalayan untuk berbelanja bulanan.
Wajah lesu Nilla selama beberapa hari, kini sudah terhapuskan. Bahkan, senyum samar tidak luput dari wajah ganteng itu, karena melihat wajah ceria istrinya. Pada dasarnya Nilla memang periang dan tegas.
"Bang, mulai besok aku yang masak, ya!" pinta Nilla sambil memasukkan beberapa sayur dan buah ke keranjang.
__ADS_1
"Abang, ingin makan apa? " lanjut Nilla. Bisa terlihat jika Nila mulai kembali seperti dulu.
"Aku ingin makan jengkol!" celetuk Wildan.
"What?" Nilla melotot ke arah Wildan, Dia tidak menyangka jika suaminya penyuka jengkol.
"Sudah, biasa saja ekspresinya!" protes Wildan dengan nada datar. Tangannya mengusap kepala Nilla membuat gadis berhidung mungil itu hanya tertawa kecil.
Sore hari mereka baru saja sampai di rumah. Udara begitu lembab dan gerah akibat gerimis yang bercampur panas.
"Kamu yang buka pintunya, biar Abang yang bawa masuk belanjaannya." titah Wildan. Nilla segera membuka pintu rumah dan masuk ke dalamnya. Disusul, Wildan yang berjalan mengekor dengan kedua tangan membawa belanjaan dan menaruhnya di dapur.
Masih berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan membuka kancing kemejanya. Saat melihat remot AC, Wildan menaikkan suhu AC kamarnya dan kemudian membuka kemejanya.
"Bang... " langkah Nilla yang masuk ke kamar terhenti seketika saat melihat tubuh Wildan telanjang dada di depan lemari pakaian. Dia yang akan menawarkan teh hangat pada suaminya pun mendadak hilang fokus saat melihat tubuh kekar itu telanjang dada.
Dada bidang, dengan gelombang samar, roti sobek yang terlihat di bagian perut suaminya membuatnya semakin gugup. Ini pertama kalinya dia melihat tubuh Wildan yang sebenarnya.
"Ada apa, Nil?" Wildan mengurungkan niat mengambil baju yang akan dia bawa ke kamar mandi. Langkahnya malah tertuju pada Nilla yang terlihat gugup di depan pintu kamar.
"I- itu, Bang... " Ah, lagi lagi dia kesulitan untuk mengatakan tujuannya.
"Apa?" Wildan mengikis jarak diantara mereka. Tangannya mulai merengkuh pinggang Nilla agar menghapus jarak diantara mereka.
"Bang... " Lirih Nilla dengan menahan dada bidang Wildan. Hingga kulit tangannya kini menyentuh kulit dada suaminya. Tapi tubuh bawah mereka pun sudah tak berjarak.
"Sudah saatnya kamu mengenal semua tentang suamimu, Sayang." bisik Wildan di dekat telinga istrinya. Hembusan nafasnya pun terasa kuat menyapu sebagian wajah cantiknya.
Wildan
Nilla
__ADS_1
Tbc