
“Apa aku perlu membawanya ke tabib? Aku rasa ia memang terkena penyakit jiwa dari lahir,” gumam Zang Wei dengan polosnya mengangap Mu Lan Jia benar-benar sakit jiwa, dan tidak menyadari jika Mu Lan Jia saat ini sedang salah tingkah.
...
“Zang Wei, kenapa kau malah melamun huh,” teriak Mu Lan Jian terlihat kesal sambil mengguncang tubuh Zang Wei.
Zang Wei yang melamun apakah Mu Lan Jia harus di bawa ke Tabib pun seketika tersadar.
“Tidak ada,” jawab Zang Wei datar dan langsung membalik badannya.
“Oh ya, aku titip lagi tempat ini kepadamu ya, karena saat ini aku akan pergi ke tempat saudara Bai untuk membahas sesuatu yang penting.” Ucap Zang Wei sambil melangkah tanpa melirik Mu Lan Jia.
Mu Lan Jia yang kembali di tinggal oleh Zang Wei, terlihat memasang wajah cemberut dan kesal.
Tapi tak lama, wajahnya seketika mengeluarkan asap saat Zang Wei berhenti di depan pintu dan mendengar Zang Wei mengkhawatirkan dirinya.
“Ah aku lupa, jika kau sakit, pergilah berobat, karena akan sangat mengkhawatirkan jika dirimu sakit.” Ucap Zang Wei yang kini menoleh ke arah Mu Lan Jia.
Maksud dari ucapan Zang Wei adalah Zang Wei ingin Mu Lan Jia mengobati penyakit jiwanya dan jika Mu Lan Jia keterusan sakit seperti ini, tentu saja Zang Wei akan khawatir jika rencananya di ganggu olehnya.
Tapi Mu Lan Jia salah menanggapi ucapan Zang Wei, ia mengira Zang Wei sudah mulai menyukai dirinya.
***
Beberapa menit kemudian.
Tap tap..!!
“Kau lama sekali saudara Wei,” sapa Bai Xin yang terlihat sudah tidak sabar menunggu kedatangan Zang Wei dari tadi.
__ADS_1
Zang Wei pun tersenyum tipis. “Maafkan aku jika terlambat, tadi ada dua bawahanku yang berasal dari kota Han datang, jadi aku harus menemui mereka lebih dulu.” Ucap Zang Wei.
Bai Xin pun langsung mengangguk paham dan tidak lagi menyalahkan Zang Wei yang terlambat, itu karena ia tahu jika di Kota Han ada Ibu, adik, paman dan ketiga kakak angkat Zang Wei tinggal. Tentu saja Zang Wei pasti akan menemui bawahannya yang menjaga keluarganya lebih dulu dan Bai Xin berpikir itu menyangkut menjaga keselamatan keluarganya Zang Wei.
...
Sret..!!
Melihat Zang Wei mengeluarkan beberapa kendi arak yang telah di janjikan, kini membuat Bai Xin meneteskan air liurnya.
“Hehe,, hehe,, inilah yang aku tunggu-tunggu dari tadi,” ucap Bai Xin yang kini tangan kanannya langsung menyambar salah satu kendi paling kecil.
Sret..!!
Glek glek..!!
“Ahh,, segarnya,” ucap Bai Xin sambil mengeluarjan senyum bahagia.
“Mo Mo, cepat bawa hidangannya kesini, bawa juga semua bawahan mu serta ke 10 bawahan saudara Wei, karena kita akan berpesta sepuasnya sampai mabuk.” Teriak Bai Xin.
Cklek..!!
Tap tap..!!
Seperti sudah menunggu dari balik pintu, dalam sekejap Mo Xen Chen membuka pintu lalu masuk bersama beberapa pelayan yang membawa banyak hidangan lezat.
Blush..!!
Terlihat Mo Xen Chen yang sampai ke ruang kosong yang tak jauh dari meja tempat Bai Xin dan Zang Wei berada, setelah berdiri di sana, Mo Xen Chen pun langsung melambaikan tangannya, bersamaan dengan itu, banyak sekali muncul meja dan kursi khusus tempat orang untuk mengadakan pesta minum dan makan.
__ADS_1
“Taruh semua hidangannya di atas meja lalu berbarislah di sana untuk menunggu yang lain datang, karena kalian juga akan ikut berpesta sesuatu ucapan Tuan.” Ucap Mo Xen Chen kepada para pelayan wanita dan pria yang bertugas membawa hidangan tadi.
“Tidak perlu, suruh saja mereka langsung duduk untuk makan, lalu untuk minumannya.” Ucap Zang Wei yang terdiam sesaat.
Wuss..!! Dret..!!
Terlihat Zang Wei melambaikan tanganya untuk memunculkan ratusan kendi arak dan melemparnya ke atas meja.
“Kalian bisa minum sepuasnya, dan di tempat ini kita semua setara, tidak ada yang namanya status level,” sambung Zang Wei melirik ke arah Mo Xen Chen. “Tangkap,” ucap Zang Wei melempar botol arak spesial.
Tap..!!
Dengan sigap Mo Xen Chen menangkapnya lalu tanpa sengaja ia mencium wangi dari arak tersebut. “I..Ini,” gumam Mo Xen Chen melototkan matanya tak percaya.
“Minum saja, kau tak perlu menyimpan atau membuatnya sebagai koleksi, karena saudaraku ini bisa membuatnya lagi.” Celetuk Bai Xin yang kini terlihat akan meneguk arak.
Glek glek..!! Ahh..!!
“Ini baru namanya arak, rasa dan efeknya sangat kuat.” Ucap Bai Xin sambil tersenyum sendiri.
Zang Wei yang melihat Bai Xin mulai ngelantur, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Dia cepat sekali mabuknya,” gumam Zang Wei sambil melirik ke arah para bawahan Bai Xin yang kini mulai berdatangan satu persatu.
Kini ruangan yang tadinya sangat luas, menjadi terasa sempit lantaran ramainya orang.
Bahkan Zang Wei melihat ke 10 bawahannya yang berasal dari Benua Tengah ikut berbaur bersama yang lain.
Lalu kenapa ke 10 bawahan Zang Wei tidak datang menghampiri Zang Wei dan Bai Xin, itu karena Mo Xen Chen lah yang melarang mereka mendekati kursi mereka berdua, alasannya adalah demi kenyamanan. Tapi Zang Wei tahu jika alasan sebenarnya adalah demi keselamatannya dan Bai Xin yang kini dalam keadaan mabuk atau setengah sadar.
__ADS_1
“Dia cukup waspada juga,” gumam Zang Wei melirik Mo Xen Chen yang terlihat tidak ingin terlalu mabuk, karena jika ada serangan dari musuh yang menyamar dan berbaur di kerumunan para bawahan Bai Xin, maka ia bisa langsung sigap menghalanginya.