
Tanpa sadar Zang Wei meneteskan air matanya saat sadar jika Ibunya sangatlah menyayanginya. Saking sayangnya dan tidak ingin putranya terluka, lebih baik Zang Nian terlihat seperti seorang penjahat di hadapan kedua putranya.
Zang Nian lebih baik menekan kedua putranya menjadi seorang manusia biasa dan hidup sederhana dari pada menjadi ahli bela diri.
Tapi karena tahu putranya sudah menjadi seorang Ahli Bela diri, apa boleh buat. Zang Nian bertujuan untuk melarang putranya berlatih lagi dan menyuruhnya untuk tetap tinggal di Kota Han serta berniat menyuruhnya untuk jangan pernah berani meninggalkan kota Han.
Itulah yang Zang Wei dengar dari perbincangan atau perdebatan Ibunya dengan pamannya saat ini.
Bukan hanya itu saja, masih banyak lagi yang Zang Wei dengar, bahkan hingga detik ini terlihat jelas jika Ibunya masih menceramahi Lu Bei sambil menahan tekanan batin.
Karena tidak tahan melihat ibunya menahan rasa sakit yang telah lama ia pendam selama ini, dengan cepat Zang Wei bangkit.
Bruk..!!
Mendengar suara benda jatuh, sontak Zang Nian dan Lu Bei seketika mengarah ke belakang.
“Wei'er,” ucap Zang Nian langsung panik saat tahu putranya lah yang terjatuh.
Sret..!!
Dengan cepat Zang Nian mengangkat putranya dan membaringkannya kembali ke ranjang.
“Kenapa kau tidak bilang ke ibu kalau kau sudah sadar Wei'er,” ucap Zang Nian yang terlihat langsung memeluk putranya dengan erat.
“Urgh,, bagaimana Wei'er mau bilang, dari tadi Wei'er memanggil kalian, tapi kalian malah sibuk berdebat. Jadi satu-satunya cara adalah menjatuhkan diri Wei'er dari ranjang,” balas Zang Wei terlihat sedikit merintih lantaran pelukan ibunya terlalu erat.
__ADS_1
Ehh..!!
“Jadi kau mendengar apa yang Ibu dan paman mu ucapkan dari tadi?” Tanya Zang Nian melepaskan pelukannya di sertai wajah terkejut.
Hem..!!
Zang Wei hanya membalas dengan anggukan saja.
“Huuff,, maafkan jika Ibumu ini egois nak, Ibu tidak ingin-”
“Apapun keinginan Ibu, Wei'er akan menuruti semuanya.” Ucap Zang Wei langsung memotong ucapan ibunya.
“Jika ibu menginginkan Wei'er untuk tidak membalas dendam kepada Klan Lu, Wei'er akan menurut. Tapi apakah ibu rela melihat Wei'er terus tersiksa tekanan batin karena tidak bisa membalaskan dendam Ayah yang mati tepat di depan mata putranya sendiri,” sambung Zang Wei yang kini meneteskan air matanya.
Perasaan Zang Wei saat ini terlihat benar-benar tulus, perasaannya juga campur aduk, ada rasa amarah, kecewa, tidak bisa melakukan apa-apa, tidak berkutik di saat melihat ayahnya mati.
Krak krak..!!
Tanpa sadar kepalan tangan Zang Wei tercengkram erat hingga menyebabkan bunyi seperti tulang patah.
“A..Andai saja pada saat Ibu pingsan setelah di serang Serigala tersebut, dan Wei'er langsung kembali ke Desa, mungkin Wei'er bisa menyelamatkan ayah yang masih hidup pada saat itu.” Ucap Zang Wei terdengar menangis di sertai nada terbata-bata.
“Andai saja pada saat Wei'er merasakan kehadiran paman waktu itu, Wei'er langsung memberikan ibu dan Tian'er. Wei'er pasti bisa kembali lebih cepat.” Sambung Zang Wei.
“Andai saja-”
__ADS_1
Sttt..!!
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri nak, ini bukan salahmu, ini salah Ibu yang sangat egois karena memaksa ayahmu hidup di desa.” Ucap Zang Nian langsung memotong ucapan putranya sambil memeluknya di sertai air mata mengalir desar, karena merasa dirinya paling bersalah.
“Tidak,, paman mu lah yang paling bersalah, jika saat itu paman lebih cepat kembali, mungkin kejadian seperti itu tidak pernah terjadi kepada ayahmu dan penduduk desa.” Sambung Lu Bei terdengar ikut menyalahkan dirinya sendiri.
Terlihat juga Lu Bei ikut memeluk Zang Wei dengan air mata ikut menetes.
***
Sementara di balik pintu, terlihat Mu Lan Jia dan Wen Zi menguping pembicaraan Zang Wei, Ibu dan pamannya.
Srett sret..!!
Sstt..!!
“Apa kau tidak bisa diam, jika kau tidak bisa diam akan ku hajar kau,” dengus Mu Lan Jia melotot ke arah Wen Zi yang tanpa sengaja menyenggol lengan kiri Mu Lan Jia menggunakan kepalanya.
Wen Zi hanya bisa diam melihat tingkah serta sifat Mu Lan Jia. Terlebih lagi, saat ini Mu Lan Jia seperti anak kecil, ia menempelkan telinganya ke pintu sambil meremas rambutnya yang tepat berada di bawah pinggang Mu Lan Jia.
Di saat Zang Nian dan Lu Bei berdebat, tangan Mu Lan Jia selalu meremas rambutnya lebih erat, seolah ia ikut terbawa emosi.
Dan pada saat Wen Zi mendengar suara Zang Wei, ia melihat Mu Lan Jia cengar cengir tidak jelas.
“Hais,, Tuan muda, semoga saja kau tidak jatuh ke tangan nenek tua ini,” gumam Wen Zi dalam hati dan merasa iba kepada calon suami Mu Lan Jia di masa depan.
__ADS_1
Karena Mu Lan Jia terlihat tidak bisa diam, tanpa sadar tangan kanan Mu Lan Jia menyentuh gagang pintu.
Cklek..!! Bruk..!!