
“Baiklah, maafkan aku karena tidak bisa membantumu,” ucap Lin Jia mengulurkan tangan kanannya tanda salam perpisahan.
Sontak Zang Wei pun ikut mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
***
Setelah beberapa menit kepergian Lin Jia, kini pandangan Zang Wei kembali mengarah ke kabut hitam.
“Hemm..!! Pasti ada sesuatu yang menyebabkan Kabut hitam ini semakin menebal,” gumam Zang Wei dalam hati sembari memegangi dagunya.
Cukup lama Zang Wei berpikir, ia pun mengeluarkan Liontin Mata Semesta.
“Aku sampai detik ini masih tak menyangka akan menemukan artefak paling beharga selama hidupku,” gumam Zang Wei.
Perlu di ketahui, karena artefak Liontin Mata Semesta inilah yang membuat Zang Wei di masa lalunya bisa terus bertambah kuat.
Dan artefak tersebut juga yang menemani perjalanan Zang Wei selama 650 tahun saat itu.
Kegunaan artefak ini bisa di gunakan untuk melihat tingkatan kekuatan musuh secara akurat. Mulai dari tingkat kultuvasi, tingkat kekuatan bertarung dan pengalaman bertarungnya.
Karena bisa melihat itulah yang membuat Zang Wei mampu menghindari musuh yang tidak mampu ia hadapi dan akan kembali mendatanginya di saat kekuatannya sudah bisa menghadapinya. Dan itu juga yang membuat Zang Wei menamainya Liontin Mata Semesta.
“Sudah saatnya aku menyatukan Liontin ini dengan mata,” gumam Zang Wei dalam hati.
“Walau saat ini kekuatanku masih lemah, setidaknya aku masih memiliki pengalaman cara untuk menahan rasa sakitnya.” Sambung Zang Wei.
Tap tap..!!
Zang Wei pun langsung melangkah ke tempat yang menurutnya cukup aman untuk menggabungkan Liontin tersebut dengan matanya.
Setelah Zang Wei duduk, kini Zang Wei mulai menyegel kultivasinya. Karena menurut Zang Wei, jika ia tidak menyegel kultivasinya dan membuat energinya bocor, maka bisa-bisa tubuh Zang Wei di cabik-cabik lantaran aliran energi di dalam tubuhnya kacau.
Blush..!!
Setelah menyegel kultivasinya, menyegel semua saluran sarafnya, kecuali tangan kanan, agar bisa menggerakkan jarinya. Kini Zang Wei mulai melukai jari tangannya dan meneteskan inti darahnya ke mata Lionton.
Blush..!!
Bersamaan dengan itu, hembusan angin seketika tiba-tiba muncul, dan inti darah Zang Wei langsung terserap habis.
“I..Ini,” gumam Zang Wei saat melihat mata Liontin dengan lahap menyerap darahnya tanpa henti. Padahal di masa lalu, mata Liontin ini tidak seperti ini, ia hanya perlu meneteskan darahnya saja jika ingin mengaktifkannya.
Urgh..!!
__ADS_1
Seketika Zang Wei pun merasakan rasa sakit saat darahnya di sedot dengan cepat.
Wung wung..!!
Tak lama, suara dengungan terdengar dari Liontin tersebut.
Suara dengungan tersebut membuat para Binatang Buas yang tinggal di dalam kabut kekutan, seolah mereka mendengar suara Raja Binatang Buas.
Terlihat para Binatang buas mulai mendekati area kabut hitam paling tebal.
Tapi kejadian aneh kembali terjadi, para Binatang Buas mulai kurus secara perlahan, seolah energi dan darah mereka di serap habis.
Secara samar-samar ada hembusan angin yang di yakini itu adalah energi dan darah yang di serap, kini masuk ke dalam mata Lionton.
...
Kembali ke Zang Wei, ia yang kini berusaha menahan rasa sakit, mulai menggertakkan giginya.
Urgh..!!
Darah Zang Wei yang terus di serap, kini mulai membuat tubuh Zang Wei kurus secara perlahan.
Ingin rasanya Zang Wei melepasnya, tapi Liontin tersebut tak mau di lepas, di sertai tekanan yang Liontin tersebut keluarkan tidak mampu membuat Zang Wei bergerak.
Arghh..!! Arghh..!!
10 jam berlalu.
Kini mata Zang Wei mulai mengeluarkan darah terus menerus, di saat yang sama, bola mata Zang Wei yang bewarna hitam, ikut mulai berubah menjadi warna Biru.
Zang Wei yang masih terdengar berteriak, dan mencoba bertahan, secara perlahan pandangannya menjadi gelap.
Bruk..!!
Ia pun langsung ambruk.
***
Di tempat Wen Naozi, ia yang selesai berlatih teknik Pernafasan Naga tahap pertama dan kedua, kini mulai membuka buku yang sengaja Zang Wei tinggalkan.
Di buku tersebut, ada tulisan 3 teknik Klan Naga.
“Hemm..!! Jadi ini pion paling pentingnya dan bisa membuatku menjadi Ahli bela diri,” gumam Wen Naozi.
__ADS_1
Tap tap..!!
“Baiklah, sambil menunggu Tuan muda datang, aku harus bisa menjadi ahli bela diri, setidaknya menjadi Prajurit Tingkat 1 Awal, agar tidak mengecewakan Tuan muda saat bertemu denganku,” gumam Wen Naozi yang di penuhi tekad.
Terlihat Wen Naozi melangkah mencari tempat yang ia rasa dimana paling padat energi, Wen Naozi mampu merasakannya walau belum menjadi Ahli bela diri, lantaran ia telah menguasai dua Tahap dari Pernafasan Naga, dan hanya Pernafasan Naga Tahap ke 3 saja yang belum.
Setelah merasa udara di tempatnya berdiri semakin sejuk, Wen Naozi pun langsung duduk bersila dan langsung mencoba metode Pernafasan Naga Tahap ke 3.
Blush..!!
Dalam sekali tarikan nafas, terlihat udara di sekitar langsung berputar-putar di sekeliling Wen Naozi.
Bersamaan dengan itu, Wen Naozi kini merasakan adanya sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya melalui saraf atau meridiannya.
“Ja..Jadi, apakah ini yang namanya Energi Qi,” gumam Wen Naozi terlihat sangat bahagia.
Tapi ia tidak ingin terlalu terlena yang membuatnya bisa salah langkah dan menjadi cacat. Dengan cepat Wen Naozi kembali fokus dan terus menyerap Energi alam, lalu menyaringnya menjadi Energi Qi.
Bam bam..!!
Tak lama, terdengar suara ledakan dari dalam tubuh Wen Naozi, tapi itu tidak membuat Wen Naozi terlihat berhenti untuk terus menyerap energi Alam.
Karena seingatnya, kini pondasinya cukup kokoh, kekuatan fisiknya pun sudah bisa di anggap melebihi Alhi bela diri prajurit tingkat 2 Awal pada umumnya. Makanya Wen Naozi terus berniat menyerap energi sampai dimana ia merasakan pondasinya mencapai batas.
***
Sementara jauh sebuah Kota besar, bukan Ibukota.
Kini terlihat Xing Ji dan Long Ji sedang memasuki kota.
Tap tap..!!
“Apa kakek merasakannya jika kita sedang di awasi?” Tanya Xing Ji yang baru masuk ke Kota Yen.
Long Ji yang bersembunyi di balik bayangan Cucunya, tentu saja sudah merasakannya jika banyak mata yang menatap cucunya. Tapi Long Ji hanya diam saja, lantaran merasa itu hanya tikus-tikus kecil.
“Ya,, mereka adalah murid-murid dari Sekte Harimau Hitam. Mungkin mereka ingin balas dendam karena cucu kakek telah menghancurkan rencana mereka dan takut cucu kakek akan melapor ke Kerajaan.” Jawab Long Ji.
Mendengar itu, ekspresi Xing Ji menjadi dingin.
“Awas saja, akan ku balas kematian penduduk desa Hujan,” gumam Xing Ji.
“Heh,, kenapa Desa Hujan saja, bukankah banyak desa yang menjadi korbannya juga. Jangan-jangan cucu kakek ingin-”
__ADS_1
“Kakek ini bicara apa sih, bikin kesal aja,” dengus Xing Ji langsung memotong ucapan kakeknya di sertai wajah sedikit memerah, terlihat juga Xing Ji melangkah dengan cepat menuju penginapan.
Tap tap..!!