Reinkarnasi Naga Iblis

Reinkarnasi Naga Iblis
Berkumpulnya Serta Kebahagiaan Keluarga Kecil Zang Wei


__ADS_3

“Tapi dimana Tian'er, kenapa Wei'er tidak melihatnya dari tadi?” Tanya Zang Wei yang penasaran.


“Ah itu, adik mu saat ini sedang di bawa ke pasar oleh anak dari tabib Yu,” jawab Lu Bei dan kembali menjelaskan jika Zang Tian selalu menangis tepat setelah ia bangun.


Menurut Lu Bei, mungkin Zang Tian menangis karena belum minum susu, karena biasanya setelah bangun, Ibunya selalu menyusuinya dulu dan menghiburnya.


Mendengar itu, Zang Wei pun merasa bersalah, ia juga tidak pernah menemui adik kecilnya.


Tapi tak lama, Zang Wei pun kepikiran sesuatu bagaimana cara untuk tetap membuat adiknya merasakan bahagia, walau tanpa seorang ibu.


“Apa paman tahu dimana tempat menyewa seorang ibu yang masih menyusui?” Tanya Zang Wei melirik pamannya.


“Wei'er ingin Tian'er tetap minum susu sampai ia benar-benar berhenti minum susu dan bisa makan bubur, satu lagi, Wei'er ingin mencari seorang pembantu yang bisa di percaya untuk mengurus keperluan Tian'er. Dan untuk masalah biaya, paman tenang saja,” sambung Zang Wei menjelaskan niatnya.


Zang Wei juga kembali menjelaskan jika ia ingin menyuruh pamannya membuka sebuah Rumah makan sekaligus ada penginapannya. Sementara ketiga kakaknya akan membantu usaha yang pamannya jalankan.


Di samping itu, Zang Wei juga menambahkan jika ia ingin memberikan beberapa metode latihan dan Buku Teknik kepada ketiga kakaknya, agar ketiga kakaknya bisa semakin kuat dan bisa melindungi satu sama lain.


1 jam Zang Wei mengobrol dengan pamannya di Rumah Pengobatan tempat ibunya di rawat.


Sesekali Zang Wei terlihat mengusap wajah ibunya dengan pandangan sedih.


Tapi di saat itu juga, Zang Wei mengalirkan energinya untuk membantu menekan energi hitam yang merusak Dantian Ibunya. Tapi Zang Tian tidak berani mengalirkan energinya terlalu besar, jika terlalu besar atau sedikit kesalahan, maka ibunya akan langsung mati.


...


Tap tap..!!


“Kita sudah sampai.”


Terdengar suara wanita dengan nada sedikit lantang.


Hal tersebut pun membuat Zang Wei mengarahkan pandangannya ke pintu utama Rumah Pengobatan.


Walau saat ini Zang Wei berada di kamar tertutup, tentu saja Zang Wei mampu merasakan siapa yang datang.


Merasakan jika wanita tersebut berjalan menuju ruangan ibunya.

__ADS_1


Zang Wei pun langsung bangkit.


Cklek..!!


“Eeh,, siapa kau?” Tanya wanita terlihat berusia 20 tahunan yang tak lain putri dari pemilik Rumah Obat yang bernama Sin Zia.


Sin Zia sedikit terkejut saat melihat ada pemuda setinggi lebih dari 180cm dengan rambut pirang, berdiri tepat di depan pintu.


“Aku kakaknya yang Tian'er yang saat ini kau gendong,” jawab Zang Wei sembari mengulurkan tangannya ke arah adik kecilnya.


Sontak Zang Wei yang saat ini tersenyum, langsung tertawa girang.


Kii kii..!!


Dengan cepat Zang Tian melompat dari pelukan Sin Zia.


Bruk..!!


Dengan sigap Zang Wei menangkap adiknya.


“Heh,, kau masih saja nakal ya,” ucap Zang Wei tersenyum bahagia sembari mencubit pipi adiknya.


Melihat adiknya yang ngambek, Zang Tian pun menunjukkan permen.


Kii kii..!!


Sontak Zang Tian berteriak kegirangan dengan kedua tangan ingin merebut permen tersebut.


“Ya ya,, pelan anak bandel,” ucap Zang Wei memberikan adiknya permen tersebut dan Zang Tian yang sudah meraihnya pun langsung menghisap permen tersebut dengan wajah berseri-seri.


Entah kenapa, walau saat ini Zang Wei berubah drastis, seorang anak berusia 1 tahun mampu mengenal kakaknya dalam sekali pandang.


...


Sementara Sin Zia yang melihat tingkah Zang Tian di depan kakaknya yang jauh berbeda dan begitu bahagia pun langsung yakin jika pemuda tampan di depannya ini memang kakaknya.


Tapi anehnya, yang ia tahu dari Jian Wu, Du Yuzu, Du Yuze dan paman Lu Bei, kakaknya Zang Tian berumur 15 tahun. Itulah yang membuat Sin Zia bingung.

__ADS_1


Tap tap..!!


“Ehh,, nona Zia, anda telah kembali,” sapa Lu Bei yang baru kembali setelah membeli makanan untuk ia dan keponakannya makan nanti siang.


“Ah ya paman,” “Tapi apakah dia benar kakaknya Tian'er,” jawab Sin Zia lalu mendekati Lu Bei lalu berbisik.


Lu Bei yang mendengar itu pun melirik ke arah keponakannya, tak lama, ia juga baru sadar jika keponakannya semakin tinggi dan kekar.


“Eeh,, kenapa aku tidak memperhatikan perubahan Wei'er tadi?” Gumam Lu Bei sedikit menggaruk kepalanya.


“Hem..!! Dia Wei'er keponakanku sekaligus kakaknya Tian'er, memang ada apa nona?” Tanya Lu Bei.


“Ah,, itu tidak ada paman, jika begitu aku kembali lagi ya, dadah,” dengan wajah sedikit memerah Sin Zia langsung keluar dari ruangan tempat Ibunya Zang Wei di rawat.


Melihat tingkah Sin Zia, sontak Lu Bei sadar jika putri Tabib Yu menyukai keponakannya.


“Wei'er, apa kau tidak menyadari tingkahnya tadi?” Tanya Lu Bei melirik ke arah Zang Wei yang bermain dengan adiknya.


“Saat ini Wei'er tidak ingin memikirkan wanita paman, Wei'er ingin fokus menjadi lebih kuat dan mencari obat buat Ibu terlebih dahulu.” Jawab Zang Wei yang langsung di angguki oleh pamannya.


Tap tap..!!


“Dasar bocah nakal, bagaimana bisa kau menghilang begitu lama hah, apa kau tidak tahu betapa khawatirnya kakakmu ini dalam mencarimu,” teriak Jian Wu yang datang bersama Du Yuzu dan Du Yuze.


Bruk..!!


Walau terdengar sangat marah dan membentak Zang Wei, terlihat Jian Wu langsung memeluk adiknya di sertai tetesan air mata.


Bruk bruk..!!


“Kemana saja kau selama hampir seminggu Wei'er, kakak Zu dan Ze mencarimu ke seluruh Kota Han.” Tanya Yuze yang ikut memeluk Zang Wei bersama Yuzu.


Zang Wei yang di peluk atau dapat di katakan di tindih oleh ketiga kakak yang telah ia anggap kakak kandung, kini hanya bisa merintih.


“Urgh,, kakak kalian berat sekali,” ucap Zang Wei cemberut.


“Benar, kalian ini cepat bangkit, lihat Tian'er sudah mulai kesal, nanti ia bisa menangis saat melihat kakaknya terlalu lama di tindih.” Sambung Lu Bei.

__ADS_1


Sontak Jian Wu, Yuze dan Yuzu langsung bangkit.


“Ehh?? Kenapa bisa kau setampan dan setinggu ini Wei'er?” Teriak Jian Wu dengan nada lantang di saat ia menyadari perubahan adiknya, bahkan Jian Wu sampai mendongak untuk melihat adiknya.


__ADS_2