
“Hais, masalah internal keluarga anda juga sedikit menyusahkan Yang Mulia, sungguh beruntung klan ku tidak seperti itu,” ucap Long Ji tersenyum masam saat mengingat Klan Ming saat ini terjadi perang saudara.
Raja Ming Lian Ji hanya bisa tersenyum saat menanggapi ucapan Long Ji, namun di dalam hatinya, ia sangat kecewa dan juga khawatir akan perang saudara di klannya.
Entah kenapa Raja Ming Lian Ji ingin mengahiri semua yang terjadi di dalam klannya, tapi apa daya, ia sama sekali tidak mampu melakukannya, lantaran ia masih lemah.
Jika Raja Ming Lian Ji ingin mengahiri semuanya, ia harus menghadapi para saudaranya yang memiliki kekuatan setara dengannya, belum lagi para tetua klan yang mana banyak di antara mereka lebih kuat darinya, lalu ayahnya Kaisar Ming yang tidak mampu ia sentuh sama sekali. Terahir, para leluhurnya yang kini menjadi pertapa di tempat yang tidak ia ketahui.
Para leluhurnya tidak pernah keluar bahkan saat perang antar Benua di masa lalu, mereka hanya akan keluar di saat klan Ming di ambang kehancuran saja.
Para leluhur ini adalah mantan Patriak klan Ming dan juga mantan Kaisar di masa lalu. Hanya itu yang Raja Ming Lian Ji ketahui dari Buku di perpustakaan klannya.
Tapi Raja Ming Lian Ji yakin jika ada dua dari mereka yang bukan berasal dari klan Ming yang pernah menjadi Kaisar di masa lalu. Tapi kedua pendahulu tersebut berteman baik dengan para leluhurnya.
...
Cukup lama Raja Ming Lian Ji dan Long Ji berbincang-bincang sambil memancing.
Hingga terlihat Long Ji bangkit dari tempat duduknya.
“Tolong bawa anak yang kau maksud untuk kesini jika kau memiliki kesini kakak, aku sangat penasaran tentang pemuda yang kau ceritakan ini.” Ucap Raja Ming Lian Ji melirik ke arah Long Ji.
“Selama 90 tahun kita bersama, baru kali ini aku mendengar kau sangat bangga dan meninggikan seseorang secara berlebihan seperti ini. Bahkan semua keturunanmu, termasuk cucumu yang sangat berbakat pun, tidak kau banggakan dan puji.” Sambung Raja Ming Lian Ji yang terlihat sangat penasaran dengan pemuda yang bernama Zang Wei.
Raja Ming Lian Ji juga sedikit tidak percaya tentang cerita Long Ji, jika Zang Wei masih berusia 15 tahun dan sudah berada di Prajurit Tingkat 2 Menengah.
Karena ia sendiri yang kedua paling jenius di klannya bisa mencapai Prajurit Tingkat 2 Menengah di usia 19 tahun, lalu ayahnya Kaisar Ming yang paling jenius di Benua Barat bisa mencapai Prajurit Tingkat 2 Menengah di usia 17 tahun.
Jika apa yang Long Ji ceritakan benar, maka ia berencana mengangkat Zang Wei menjadi Jendral Utamanya, walau Zang Wei masih muda. Raja Ming juga berencana untuk menikahkan putrinya pertamanya dengan Zang Wei jika memiliki kecocokan.
Long Ji yang melihat ketertarikan Rajanya terhadap Zang Wei, hanya bisa tersenyum kecil.
“Belum saatnya anda bertemu dengannya Yang Mulia, karena ia saat ini masih sibuk mencari obat untuk mengobati Ibunya yang sedang sakit.” Ucap Long Ji.
“Tapi jika Yang Mulia ingin cepat-cepat bertemu dengannya, maka akan lebih baik Yang Mulia mengundang Tabib Kekaisaran untuk membantu mengobati Ibunya, dengan begitu anda bisa menemuinya.” Sambung Long Ji sembari membungkukkan badan dan bersiap pergi.
__ADS_1
Wuss wuss..!!
Setelah membungkukkan badannya, Long Ji pun langsung melesat ke udara dan terbang ke utara.
Tap tap..!!
Setelah keluar dari Istana Kerajaan, terlihat Long Ji mendarat di depan sebuah Penginapan yang bertulis Penginapan Bunga Putih.
“Hemm..!! Yang Mulia sungguh licik juga, tak akan ku biarkan calon menantuku di rebut olehnya,” gumam Long Ji terlihat merencanakan sesuatu dengan mendatangi cucu perempuannya.
Tap tap..!!
Long Ji pun melangkah masuk ke penginapan milik Klan Ji, dimana cucung Xing Ji saat ini berada.
***
Tap tap..!!
Pagi hari sekitar pukul 05.00
“Kau sudah datang Tuan Zang,” sapa Topeng Harimau menyapa Zang Wei.
“Hemm..!! Apakah para bandit sudah bergerak duluan?” Tanya Zang Wei melirik Topeng Harimau atau Zhao Hu.
Zhao Hu pun mengangguk ringan. “Hemm..!! Mereka bergerak 1 jam yang lalu, jika tidak salah tebak, saat ini mereka pasti sudah sampai tebing Hongguan,” jawab Zhao Hu.
“Jika begitu tunggu apa lagi, ayo kita berangkat,” ajak Zang Wei dan langsung di angguki Zhao Hu.
Dret..!!
Zang Wei dan Zhao Hu pun langsung melesat menuju Gunung Naga Api, dimana tempat Topeng Emas di kurung.
Di saat Zang Wei dan Zhao Hu melesat, terlihat Wen Zi mengikuti dari jarak yang cukup jauh, terlihat di punggung Wen Zi saat ini ada anak berusia 1 tahun ia bawa, anak tersebut tak lain Zang Tian.
Zang Tian sengaja di bawa, karena tidak ada yang menjaganya di Rumah Obat. Zang Wei juga tidak enak menitipkan adiknya kepada Sin Zia, jadi ia menitipkan adiknya kepada Wen Zi.
__ADS_1
...
Wuss wuss..!!
Tap tap..!!
1 Jam telah berlalu, kini Zang Wei dan Zhao Hu menghentikan langkah mereka di saat sudah mencapai tebing Hongguan.
Terlihat ada 100 sosok pria paruh baya berbagai usia sudah menunggu kedatangan mereka.
100 pria tersebut adalah para bandit yang Zhao Hu sewa dengan harga yang lumayan tinggi.
Tap tap..!!
Di saat ketua bandit melihat Zhao Hu dan Zang Wei muncul, ia langsung menghampirinya.
“Langsung saja, beritahu tugas kami Tuan, karena kami tidak bisa terlalu lama di sini, kami masih perlu merampok para pedatang siang ini di jalan Selatan,” ucap ketua bandit dengan nada sedikit sopan terhadap Zhao Hu. Karena ia mengenal siapa Zhao Hu ini, serta kekuatannya. Jadi menipu atau merampoknya akan membuat dirinya menemui Dewa Kematian.
Zhao Hu tidak langsung menjawab, ia kini melirik Zang Wei.
“Hemm..!! Tugas kalian cukup mudah, kalian lihat gunung di balik tebing ini bukan?” Tanya Zang Wei melirik ke arah Gunung Naga Api.
Ketua Bandit pun melirik ke arah Gunung Naga Api. “Tentu saja aku lihat, bahkan aku tahu gunung tersebut. Memang ada apa dengan gunung tersebut?” Jawab Ketua bandit dan bertanya balik.
Zang Wei pun tersenyum kecil. “Bagus jika kalian tahu, tugas kalian adalah mengelilingi area terluar Gunung tersebut dan membuat sedikit keributan, terserah kalian membuat keributan seperti apa, yang penting keributannya mampu di dengar oleh orang-orang yang tinggal di puncak gunung tersebut.” Ucap Zang Wei sembari mengangkat tangannya.
“Singkatnya, kalian juga boleh menjarah orang-orang yang mendatangi kalian nanti, karena setahuku, orang yang tinggal di puncak gunung tersebut rata-rata Tuan muda kaya raya,” sambung Zang Wei sambil menyeringai kecil.
Mendengar itu, mata ketua Bandit dan kelompoknya langsung bersinar cerah.
“Khehe,, tidak akan ada bagi hasil bukan, semua yang kami dapat akan menjadi hak kami dan semua yang kalian dapat akan menjadi hak kalian.” Kekeh ketua bandit sembari menggosok kedua telapak tangannya.
“Kena kau idiot serakah,” gumam Zang Wei yang terlihat mengangguk untuk menanggapi ucapan ketua Bandit.
“Jadi tunggu apa lagi, kami akan berangkat sekarang,” ucap ketua bandit yang kini membalik badannya ke arah bawahannya. “Ayo anak-anak, kita punya santapan bagus hari ini,” teriak Ketua Bandit dan di sambut teriakan bahagia.
__ADS_1
Woahh..!!