Reinkarnasi Naga Iblis

Reinkarnasi Naga Iblis
Perbincangan Hangat Antara Ibu dan Anak


__ADS_3

“Mulai saat ini, kau idolaku Zang Wei, karena kau lebih mengutamakan seorang Ibu, lebih dari kau mengutamakan dirimu sendiri.”


Bruk..!!


***


Sehari telah berlalu dengan begitu cepat. Pagi harinya, terlihat Zang Nian menggendong putra terkecilnya Zang Tian.


Sesekali Zang Nian tersenyum lepas saat Ibunya menghiburnya. Hal tersebut membuat gelak tawa bagi Zang Wei yang melihat itu.


Tap tap..!!


“Nak, apa benar cerita semalam itu nyata?” Tanya Zang Nian mendekati putra tertua.


Zang Nian kembali bertanya, karena ia merasa itu seperti mimpi baginya. Walau mimpi tersebut nyata dan buktinya adalah perubahan putranya saat ini.


Tapi tetap saja Zang Nian merasa perlu memastikannya kembali, bagaimana bisa putranya bisa secepat ini menjadi Ahli Bela Diri yang sangat kuat dan bagaimana ceritanya Zang Wei bisa mengenal sosok Ahli kuat seperti Mu Lan Jia.


Zang Wei yang mendengar pertanyaan ibunya lagi, hanya bisa tersenyum, karena semalam ibunya sudah puluhan kali bertanya hal yang sama. Tapi dengan sabar dan tenang Zang Wei menjelaskannya. Kini ingatan Zang Wei pun kembali ke semalam.


Semalam, di saat Zang Wei dan Mu Lan Jia tersadar di waktu yang sama.

__ADS_1


Di malam itu juga Zang Wei menjelaskan semua yang telah terjadi kepada ibunya, dari awal Ibunya pingsan, sampai ia berusaha menyembuhkan ibunya dengan bantuan Mu Lan Jia.


Mu Lan Jia juga langsung membenarkan, walau ada beberapa yang Zang Wei tutupi. Mu Lan Jia tentu saja sangat cerdas mengapa Zang Wei menutupinya, itu karena ia tidak ingin Ibunya khawatir.


...


Kembali ke Zang Wei.


Zang Wei yang terdengar menjelaskan ibunya lagi, kini menatap ibunya yang duduk sambil memegangi dagunya.


“Hemm..!! Jadi saat ini paman mu sedang berusaha memulihkan lukanya serta berusaha meningkatkan tingkat kultivasinya lagi?” Tanya Zang Nian.


“Hemm..!! Semakin mencurigakan, bagaimana bisa paman mu bisa sembuh dari lukanya yang begitu parah. Bahkan untuk bertahan hidup saja adalah sebuah keberuntungan, apalagi sembuh dan memiliki kekuatannya kembali.” Sambung Zang Nian menanggapi ucapan putranya dengan wajah serius di sertai berusaha berpikir keras.


Bruk..!!


“Aish,, Ibu, jangan terlalu di pikirkan, ini bukan mimpi dan juga bukan di Surga. Bukti pertamanya ada di depan mu Bu.” Ucap Zang Wei langsung memeluk Ibunya dengan manja.


Zang Nian pun langsung mengangguk dan langsung mengusap rambut putranya.


Apa yang Zang Wei katakan benar, semakin Zang Nian memikirkannya, ia semakin tidak percaya dengan apa yang ia lihat, terutama kekuatan putranya. Karena hal tersebutlah yang membuat Zang Nian berpikir dirinya saat ini sedang di Surga atau sedang bermimpi indah.

__ADS_1


...


Sementara tidak jauh di depan Zang Wei bersama ibunya, terlihat Mu Lan Jia ikut duduk dengan wajah cemberut dan cemberu.


Mu Lan Jia juga sangat ingin ikut memeluk Ibunya Zang Wei saat ini, dan ia cemberut karena tidak di ajak bicara dari awal duduk.


Entah apa yang ada di dalam isi otak Mu Lan Jia saat ini, ia terlihat sesekali membayangkan dirinya menjadi menantu Zang Nian.


Sesekali Mu Lan Jia tersenyum-senyum sendiri, hingga tidak sadar jika Zang Nian dan Zang Wei memperhatikan tingkahnya.


“Apa kepala Nona Lan terbentur terlalu keras saat menolong Ibu sehingga ia menjadi kurang sehat Wei'er?” Tanya Zang Nian dengan nada berbisik.


“Tidak bu, ia memang selalu seperti itu, jadi abaikan saja orang gila itu,” jawab Zang Wei yang terlihat sudah terbiasa tingkah Mu Lan Jia.


“Eeh,, sudah terbiasa begini?” Tanya Zang Nian terkejut.


“Hemm..!! Ia malah marah-marah tak jelas kemarin saat Wei'er mencari obat, tak ada hujan tak ada angin, ia tiba-tiba mengatakan awas saja kau, setelah marah seperti itu, ia langsung pergi,” jawab Zang Wei dengan nada polos dan suaranya kini di dengar jelas oleh Mu Lan Jia.


Terlihat saat ini Mu Lan Jia yang mendengar itu, wajahnya memerah lantaran malu, bahkan wajahnya sampai ia tutup dengan kedua tangannya.


“Dasar Zang Wei sialan, bisa-bisanya kau mengarang cerita ke Ibumu dan merusak namaku,” umpat Mu Lan Jia yang terlihat sangat ingin membenamkan kepalanya di suatu tempat, lantaran malu.

__ADS_1


__ADS_2