Reinkarnasi Naga Iblis

Reinkarnasi Naga Iblis
Bertemu Ibu, Adik, Serta Paman, dan Keterkejutan Bawahan Zang Wei


__ADS_3

Bersamaan dengan sampainya Zang Wei, terdengar suara teriakan nyaring dari seorang anak kecil berusia hampir 2 tahun yang di gendong oleh wanita awet muda.


Tap tap..!!


Mendengar teriakan anak kecil, sontak Zang Wei langsung mengarah ke asal suara.


“Ibu, Tian'er,” ucap Zang Wei yang langsung berlari ke arah Ibu dan adiknya.


Bruk..!!


Dengan cepat Zang Wei memeluk Ibunya layaknya seorang anak kecil yang merindukan elusan.


“Tidak bertemu selama beberapa minggu, kau menjadi semakin tinggi saja Wei'er,” ucap Zang Nian sambil mengelus rambut putranya.


“Gege,, gege,, mana hadiah untuk Tian'er,” teriak Zang Tian dengan nada suara melengking dan itu membuat suaranya terdengar imut.


Zang Wei yang rambutnya di tarik oleh adiknya pun langsung melepaskan pelukannya, ia pun melirik ke arah adiknya dengan tatapan hangat.


“Tentu saja gege tidak lupa membawakanmu hadiah Tian'er, jadi tenanglah,” ucap Zang Wei yang kini terlihat mengulurkan tangannya dan menarik adiknya dari gendongan ibunya.


Zang Tian yang mendengar itu, langsung bertepuk tangan di sertai memasang wajah bahagia.


“Hore,, Gege yang terbaik,” teriak Zang Tian.


...


Di saat Zang Wei menghibur adiknya, kini pandangan Zang Nian teralih menuju banyak sekali orang asing yang bersama putranya, dan di antara mereka semua, hanya 1 orang saja yang ia kenal.


Tap tap..!!


Bruk...!!


“Ibu, bagaimana kabarmu?” Tanya Mu Lan Jia yang langsung memeluk Zang Nian tanpa malu.


“Aku baik-baik saja nona Lan,” jawab Zang Nian membalas dengan senyuman hangat.


“Lalu bagaimana perjalananmu, apa Wei'er tidak nakal atau tidak melakukan sesuatu yang berbahaya kan?” Tanya Zang Nian dengan nada lembut.

__ADS_1


Glek..!!


Mendengar pertanyaan itu, wajah Zang Wei menjadi tegang, tatapannya pun langsung mengarah ke Mu Lan Jia, seolah Zang Wei menyuruhnya untuk tidak menceritakan yang tidak-tidak.


Mu Lan Jia yang sadar akan tatapan Zang Wei pun hanya tersenyum kecil.


“Tenang saja Bu, Zang Wei tidak melakukan hal yang jahat-jahat kok, ia malah membantu penduduk Kota Janghu dari kediktatoran penguasa di sana, dengan cara menghancurkan mereka menggunakan cara mendatangkan Raja Kerajaan ini.” Jawab Mu Lan Jia dengan senyuman manis.


Zang Nian pun langsung mengangguk bahagia, ia pun kini kembali melirik ke arah para bawahan Zang Wei yang terlihat melongo.


Pangeran Ming, Tetua Yu Zian, tetua Yan Chao, Yan Zhao, Sing Zhao, Fang Du, Ling Mue, Yi Lang dan Shang Liu, hanya bisa melongo saat melihat Tuan mereka memasang wajah polos dan manja, bahkan terlihat jelas jika wajah Zang Wei sangat ketakutan di saat Ibunya bertanya tadi.


“I..Ini, aku baru tahu jika orang selicik dan sekuat dirinya sangat menghormati Ibunya, saking ia menghormati Ibunya, ia tidak ingin membuat Ibunya khawatir.” Gumam Pangeran Ming dan para tetua.


“Dia adalah sosok yang patut di contoh, berbakti kepada Ibu di saat kita memiliki kekuatan dan nama kita di agungkan adalah hal yang sangat jarang. Biasanya orang yang sedang naik Daun atau memiliki kekuatan, rata-rata mereka melupakan sosok Ibu yang telah melahirkan dan merawat mereka sedari kecil. Bahkan kebanyakan dari mereka meninggalkan Ibu mereka dan hidup dalam kemewahan.” Gumam Pangeran Ming dan beberapa tetua yang kini seolah mendapat sebuah pencerahan.


...


Kembali ke Zang Nian.


“Ehem,, perkenalkan, saya adalah Ibunya Zang Wei, mohon maafkan saya jika putra saya sedikit nakal saat bersama para tetua,” ucap Zang Nian yang terlihat mendekati bawahan Zang Wei lalu membungkukkan sedikit badan mereka.


Glek..!!


“Nyo..Nyonya, mohon angkat kepala anda, tidak baik bagi seorang yang lebih tua membungkukkan kepalanya kepada yang lebih muda.” Ucap Pangeran Ming yang pertama sadar dan mendekati Zang Nian serta langsung membantunya mengangkat kepalanya.


“Benar Nyonya, wajah saya terlihat sangat tua, tapi usia saja jauh lebih muda dari penampilan saya saat ini,” sambung Tetua Yan Zhao dan Yan Chao serempak.


...


Wung...!!


Bam..!!


Di saat para bawahan Zang Wei mengerumi Zang Nian, terlihat sosok pria paruh baya mendarat di halaman Desa Hujan.


“Beraninya kalian mengeroyok kakak iparku, kematian terlalu ringan bagi kalian yang ingin menyakiti kakak ku,” teriak Lu Bei yang kini muncul sambil memasang wajah ganas.

__ADS_1


Blush..!!


Urgh..!!


Mata para bawahan Zang Wei seketika melebar saat merasakan tekanan yang luar biasa muncul dari tubuh pria yang tidak mereka kenali.


“I..Ini aura tekanan Ranah Prajurit Tingkat 8 Menengah,” umpat Tetua Yu Zian yang terlihat berusaha untuk bertahan agar dirinya tidak jatuh berlutut.


“Dasar tua bangka, lagi-lagi kau datang dengan amarah tidak jelas huh,” teriak Mu Lan Jia yang sedari awal pertama bertemu tidak pernah akur dengan Lu Bei.


Mendengar teriakan suara familiar, pandangan Lu Bei pun mengarah ke Mu Lan Jia.


“Hehe,, Perawan tua, ternyata itu kau,” dengan santainya Lu Bei tertawa sembari melirik ke berbagai arah, hingga tatapannya terhenti di tempat Zang Wei berdiri yang saat ini sedang asik bermain dengan adiknya.


Blush..!!


Dengan cepat Lu Bei menarik kembali auranya dan muncul di depan Zang Wei.


Melihat Lu Bei yang muncul dalam sekejap, seolah menggunakan teleportasi atau Hukum Ruang, seketika membuat semua bawahan Zang Wei terkejut luar biasa.


“I..Ini, kecepatan yang ngak ngotak,” umpat Yi Lang tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Kau benar, aku merasa kecepatannya sama dengan Penguasa Pasar gelap,” sambung Yan Zhao dan Yan Chao serempak.


Para bawahan Zang Wei pun langsung sedikit ricuh membicarakan kecepatan Lu Bei.


...


Sementara Lu Bei tirlihat tidak terlalu peduli, ia yang muncul di depan keponakannya pun langsung memeluknya.


“Haha,, Wei'er kau akhirnya pulang nak,” ucap Lu Bei dengan nada bahagia.


Zang Wei yang di peluk dari belakang pun langsung cemberut.


“Paman, aku ini laki-laki, jadi jangan memeluk Wei'er layaknya anak perempuan,” dengus Zang Wei.


“Dan juga, setelah kekuatan paman pulih, aku tak menyangka jika paman bisa menembus 1 ranah sekaligus hingga ke Ranah Tingkat 8 Menengah.” Sambung Zang Wei yang sadar jika pamannya pasti berlatih keras, itu ia lakukan agar bisa menjaga Ibunya dan adiknya dan juga terlihat dari tatapan mata Lu Bei, ia tidak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi.

__ADS_1


“Hehe,, bukan hanya pamanmu saja, ketiga kakak mu pun sudah setara dengan tingkat kultivasimu saat ini.” Ucap Lu Bei dengan nada bangga sambil mengacak-acak rambut Zang Wei dan Zang Tian.


__ADS_2