
Wen Zi yang emosional pun mulai tenang, auranya yang tadi meledak, mulai meredup. Entah kenapa Wen Zi merasa semenjak adanya keberadaan Zang Wei, ia merasakan Zang Wei ini adalah sosok ayah, ibu, dan kakak baginya, karena mampu membuatnya yang berawal dari berandalan menjadi sosok seperti sekarang ini, yang mampu berpikir jernih demi masa depan.
Kini Wen Zi juga sudah mulai berpikir ini demi kebaikan adiknya, jika ia memaksakan kehendaknya, maka ia akan menjadi semakin bersalah dan Wen Zi juga tidak ingin adiknya mengalami hal buruk lagi dari saat ini hingga kedepannya.
...
Di saat Wen Zi sudah mulai tenang dan terlihat mulai terbuka kepada Zang Wei dengan menceritakan masa lalunya.
Di ruang VVIP terlihat Wen Yu Ning yang di bawa oleh Bai Xin, kini terlihat mulai sedikit baikan.
Ia tidak terlalu ketakutan lagi seperti sebelumya, setelah di peluk oleh Mu Lan Jia.
Walau Mu Lan Jia sedikit bingung dengan apa yang terjadi, lantaran Bai Xin secara tiba-tiba membawa seorang budak yang tadinya ingin di jual.
Mu Lan Jia tidak bertanya lebih lanjut, setelah ia mendapat pesan telepati dari Zang Wei jika gadis tersebut adalah adik Wen Zi yang mengalami trauma berat setelah menghadapi berbagai cobaan.
...
Hiks hiks..!!
“A..Apa aku tidak akan di pukuli lagi Nyonya?” Terdengar suara Wen Yu Ning bertanya dengan suara tersendu-sendu di sertai tubuh terus bergetar hebat.
Sstt..!!
__ADS_1
“Tenanglah nak, Bibi mu ada di sini, tidak akan ada lagi yang berani memukulmu, atau menyentuhmu, jika mereka berani menyentuhmu, maka Bibimu ini yang akan meledakkan tangannya karena begitu berani ingin menyentuhmu.” Ucap Mu Lan Jia dengan nada lembut dan memeluk Wen Yu Ning dengan pelukan hangat, agar Wen Yu Ning bisa semakin tenang.
Terlihat jelas wajah Mu Lan Jia dan Ratu Jing Ling saat ini sedikit memerah di penuhi amarah.
Mereka marah karena bisa merasakan apa yang Wen Yu Ning rasakan selama ini, mulai dari tubuhnya yang di penuhi luka, keperawanannya yang telah hilang, tubuh yang selalu bergetar hebat, karena terlalu takut mendekati orang dan terahir, Mu Lan Jia yakin jika Wen Yu Ning saat ini mengalami trauma berat.
...
“Aku tak menyangka jika gadis ini memiliki mental yang begitu kuat, jika aku yang menjalani hal ini, mungkin aku sudah bunuh diri.” Ucap Ratu Jing Ling terdengar sedih bercampur kagum.
Mu Lan Jia melirik ke arah saudarinya. “Hemm..!! Aku kagum dengannya yang bisa bertahan sampai sejauh ini, sungguh wanita yang kuat, walau begitu, jika kita tidak menemukannya sekarang, aku tidak tahu sampai mana batasnya akan bisa bertahan lagi.” Sambung Mu Lan Jia sambil mengusap rambut Wen Yu Ning yang kini terlihat sudah terlelap di pangkuannya.
“Tubuhnya juga sudah begitu kurus, entah apa yang membuat gadis kecil ini bisa bertahan sampai detik ini.” Ucap Mu Lan Jia melirik ke arah tubuh mungil Wen Yu Ning.
Tapi dengan cepat Mu Lan Jia mengubah pikiran jelek Ratu Jing Ling akan sosok Wen Zi.
“Dia tidak seperti itu, jika kau mengenalnya cukup lama, mungkin kau tidak akan berpikir seperti ini. Walau aku tidak tahu asal usulnya, dan ia terlihat menyembunyikan sesuatu. Aku melihat Wen Zi ini adalah sosok yang baik dan lemah lembut.” Ucap Mu Lan Jia menjelaskan tentang Wen Zi.
...
Blush..!!
Tap tap..!!
__ADS_1
Tepat setelah Mu Lan Jia selesai bicara, terlihat muncul lubang teleportasi dan dari lubang tersebut keluar Zang Wei, Bai Xin dan terahir Wen Zi.
Mu Lan Jia yang tadinya membela Wen Zi, kini terlihat memasang wajah mengerikan di saat ia melihat Wen Zi.
“Kenapa kau malah menangis hah, apa kau mau aku kebiri hidup-hidup,” dengus Mu Lan Jia dengan nada dingin.
“Bagaimana bisa kau membiarkan adikmu ini begitu lama menderita hah.” Teriak Mu Lan Jia meluapkan amarahnya kepada Wen Zi.
Wen Zi yang di marahi oleh Mu Lan Jia, hanya bisa diam saja sambil menundukkan kepalannya.
Tentu saja ia sadar mengapa Mu Lan Jia ini begitu marah, ia juga sudah pasrah jika Mu Lan Jia menyerangnya saat ini. Karena ia merasa Mu Lan Jia adalah sosok kakak baginya yang selama ini bersamanya di rumah Zang Wei beberapa waktu lalu.
“Jika kau tidak menjelaskan aku dari awal, aku sendiri yang akan memotong kedua kakimu itu, agar selamanya kau tidak bisa berjalan,” pada akhirnya, terlihat Mu Lan Jia mulai tenang, tapi terdengar suaranya yang bertanya dengan nada penuh ancaman.
...
Zang Wei yang hanya diam setelah ia sampai, kini hanya bisa membeku dengan tatapan tidak percaya akan sisi lain Mu Lan Jia layaknya seorang wanita normal yang mirip seperti ibunya, karena biasanya sisi yang Zang Wei lihat adalah sosok Mu Lan Jia yang bar-bar dan gila.
“Aku tak menyangka jika ia bisa lembut dan tegas seperti ini.” Gumam Zang Wei dalam hati.
“Seperti kata Ibu, sepintar-pintarnya dirimu, wanita itu adalah makhluk yang sulit di tebak dan selalu berubah-ubah di saat tertentu. Kini aku memahami maksud dari ucapan Ibu.” Sambung Zang Wei dan tanpa sadar ia tersenyum hangat ke arah Mu Lan Jia.
Blush..!!
__ADS_1