
“Hoho,, sepertinya terlihat semakin menarik, apakah aku boleh ikut bergabung.” Sapa seorang pemuda yang muncul dari balik bebatuan yang jaraknya 200 meter dari tempat kelompok Zang Wei berdiri.
“Ka..Kau Bao'er,” teriak Patriak Wen Ju Guang yang kini tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Hemm..??
“Siapa yang kau panggil Bao'er?” Tanya Wen Zi terlihat mengerutkan keningnya.
“Namaku bukan Bao, tapi Zang Zi, kau mungkin salah mengenali orang, karena aku sama sekali tidak mengenali kalian semua.” Sambung Wen Zi yang terlihat acuh.
Sontaj Patriak Wen, Mu Lan Jia yang mendengar itu seketika melototkan mata mereka.
“Ka..Kau bocah sialan tak tahu diri, berani sekali kau tidak mengenalku dan Tuan mu,” teriak Mu Lan Jia yang mulai tersulut emosi.
Terlihat Mu Lan Jia bahkan ingin melesat ke arah Wen Zi, tapi langsung di hentikan oleh Patriak Wen.
“Apa benar kau tidak mengenali ayahmu ini?” Tanya Patriak Wen terlihat menatap putranya dengan tatapan mata berkaca-kaca.
Wen Zi pun membalas dengan kerutan di keningnya.
“Apa kau mengenalnya Yu?” Tanya Wen Zi berpura-pura bertanya kepada Assasint bertopeng.
“Hem..!! Dia orang idiot yang paling lama di tahan oleh Tuanku,” jawab Assasint bertopeng dengan santai.
“Hoo,, pantas saja dia mengakui mengenalku, ternyata dia orang idiot ya,” ejek Wen Zi yang kini terlihat duduk di sebuah kursi yang telah di siapkan oleh beberapa Assasint yang mengenakan jubah hitam.
Bruk..!!
Tangan Wen Zi pun terangkat.
“Baiklah, ayo kita lihat sampai mana mereka semua bertahan, apakah mereka mampu bertahan lebih lama dari para idiot sebelumnya atau malah langsung mati.” Ucap Wen Zi yang kini terlihat menyeringai lebar.
Mendengar itu, Patriak Wen pun sadar jika memang benar Putranya telah mengkhianati dirinya, Zang Wei dan yang lainnya.
Ia bahkan saat ini tidak bisa menahan emosinya. Tapi ia sadar jika bergerak saat terbawa emosi, maka akan merugikan dirinya sendiri bersama rekan yang mencoba membantunya nanti.
...
Sementara Mu Lan Jia yang baru sadar jika Wen Zi berkhianat, kini melirik ke arah Zang Wei.
Di saat ia melihat wajah Zang Wei datar, ia pun tahu jika Zang Wei sedang marah saat ini.
“Semuanya bentuk formasi, jangan ada yang bergerak di luar kendali, karena itu akan menghancurkan kita secara perlahan.” Teriak Zang Wei dengan nada dingin.
Mendengar suara Zang Wei, mereka pun tahu jika Wen Zi sudah benar-benar berkhianat.
__ADS_1
Sret..!!
Di saat kelompok Zang Wei membentuk formasi, terlihat Wen Zi kembali mengangkat tangannya.
“Bentuk formasi serangan seperti biasa, jangan biarkan mereka kesempatan untuk menyerang balik maupun menyembuhkan luka mereka.” Teriak Wen Zi.
Dret..!!
Tanpa basa basi 4 Assasint yang dekat dengan kelompok Zang Wei, terlihat langsung melesat ke arah target mereka.
Wuss wuss..!!
Tidak tinggal diam Assasint bertopeng juga langsung melesat ke arah Tetua Yi Zian dan Patriak Wen.
Wung..!!
Bam..!!
Patriak Wen dan Tetua Yu Zian yang berada di formasi paling depan, tentu saja langsung mengerahkan kekuatan mereka untuk memukul mundur Assasint bertopeng.
Sret..!!
Terlihat Assasint bertopeng di pukul mundur sejauh 5 meter, sementara Patriak Wen dan tetua Yu Zian terseret sejauh 10 meter.
“Kekuatan bertarung dan pondasinya semakin kuat, dia berbeda dari yang dulu. Jadi berhati-hatilah saudara Wen.” Ucap Tetua Yu Zian memperingati Patriak Wen.
“Kita hadapi dia sesuai rencana Tuan muda.” Sambung patriak Wen yang terlihat bergerak maju dan di susul Tetua Yu Zian.
Dret..!! Wuss wuss..!!
Slash..!!
Tepat di saat jarak Patriak Wen dengan Assasint bertopeng sudah 2 meter, ia langsung mengayunkan pedangnya secara Horizontal.
Assasint bertopeng terlihat diam selama beberapa detik, tapi tepat di saat bilah pedang Patriak Wen akan mengenai perutnya, barulah ia melakukan manuver dengan salto ke arah depan.
Wuss..!!
Bersamaan dengan itu, Tetua Yu yang melompat dari belakang terlihat terkecut saat melihat Assasint bertopeng kini tepat berada di depannya, atau di atas kepala Patriak Wen.
“Strategi yang basi,” ejek Assasint bertopeng terlihat mengayunkan lutut kananya ke kepala Tetua Yu Zian.
Tetua Yu Zian yang terkejut pun langsung tersadar dan ikut mengayunkan kakinya.
Bam..!!
__ADS_1
Wuss..!!
Tap tap..!!
“Sekarang,” teriak tetua Yu Zian yang terlihat mendarat setelah bentrok dengan Assasint bertopeng.
Patriak Wen yang mendengar teriakan tetua Yu Zian pun langsung memasang kuda-kuda siap menyerang Assasint bertopeng yang masih melayang tepat di atasnya.
“Teknik Tarian Pedang Awan, Tebasan Pembelah Awan,” teriak Patriak Wen mengayunkan pedangnya secara Vertikal.
Slash..!!
Assasint bertopeng yang akan mendarat pun terlihat begitu tenang melihat bilah pedang milik Patriak Wen melesat ke arahnya.
“Hemm..!! Kau pikir aku tidak akan bisa menghindar saat masih di udara,” ejek Assasint bertopeng yang terlihat menyelimuti kakinya dengan energi dan mengangkatnya ke atas, agar bisa melakukan manuver di udara.
Wuss..!!
Crash..!!
Bomm..!!
Terlihat bilah serangan Patriak Wen hanya bisa mengenai udara lalu meledak.
Assasint bertopeng yang berhasil menghindar pun terlihat akan mendaratkan kakinya ke tanah.
Wung..!!
Bamm..!!
Namun sebelum kaki Assasint bertopeng menyentuh tanah, Assasint bertopeng langsung terhempas ke depan di saat punggungnya terkena hantaman batu.
Duar..!!
Assasint bertopeng yang terhempas keras, terlihat menabrak gundukan tanah, saking kerasnya tubuh Assasint bertopeng membentur gundukan tersebut, terdengar suara ledakan yang besar.
“Tepat sasaran,” teriak Yan Zhao dan Yan Chao terdengar bahagia.
Terlihat mereka berdualah yang melempar batu tersebut dengan alasan menyerang 3 Assasint kematian yang kebetulan berhadapan sejajar dengan Assasint bertopeng.
Sesuai dugaan Zang Wei, jika ingin menyerang Assasint bertopeng, usahakan jangan membidiknya secara langsung, pura-puralah bidik target lain, namun secara kebetulan target utama berada di tempat sejajar dengan target tidak langsung. Dan secara kebetulan ke 3 Assasint yang menjadi target tidak langsung mereka saat itu sedang berdiri sejajar dengan target utama yang tak lain Assasint bertopeng.
Blush..!!
Bomm..!!
__ADS_1
“Sialan, seharusnya ku bunuh kalian saat di tambang waktu itu,” teriak Assasint bertopeng terlihat di penuhi amarah. Terlihat tatapannya sangat dingin di arahkan ke Yan Zhao dan Yan Chao.