
“Ehh?? Kenapa bisa kau setampan dan setinggi ini Wei'er?” Teriak Jian Wu dengan nada lantang di saat ia baru menyadari perubahan adiknya, bahkan Jian Wu sampai mendongak hanya untuk melihat adiknya.
“Hem hem..!! Kau sangat tinggi Wei'er, bahkan kau jauh lebih tampan dengan kulit layaknya seorang wanita Bangsawan,” sambung dua bersaudara Yuze dan Yuzu.
Zang Wei hanya bisa tersenyum saja saat di tanyai sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hehe,, itu karena aku berlatih dengan keras kakak, makanya aku bisa sampai seperti ini,” balas Zang Wei sembari teringat akan sesuatu dan langsung merogoh kantong penyimpanannya.
“Oh ya kak, aku ada beberapa herbal yang bisa meningkatkan kekuatan kalian, kebetulan aku menemukan banyak harta karun di salah satu puncak gunung, bersamaan dengan berbagai sumberdaya dan beberapa pil.” Ucap Zang Wei memperlihatkan beberapa herbal dan pil yang akan di berikan kepada ketiga kakaknya.
Tap..!!
Melihat adanya Gingseng merah untuk memperkuat tulang dan tubuh, wajah Jian Wu terbelalak kaget.
“I..Ini, bukankah ini Gingseng merah berusia ratusan tahun,” teriak Jian Wu. “Lalu ini juga ada Akar merah ratusan tahun, dan” terdengar Jian Wu berteriak menyebut nama-nama herbal yang sulit di dapatkan dengan wajah shok.
Sementara Yuze dan Yuzu tak kalah kaget, keduanya juga berteriak menyebut beberapa Pil yang mereka ketahui saja, ada beberapa yang asing menurut mereka.
Lu Bei yang melihat itu hanya bisa tersenyum, tentu saja ia sudah mengetahui ini lebih dulu dari keponakannya, walau ia tidak melihatnya secara langsung dan hanya di jelaskan apa saja yang Zang Wei dapatkan. Lu Bei juga terkejut di awalnya.
“Ehem..!! Jadi tujuan Wei'er mengeluarkan ini adalah, karena Wei'er ingin kalian meningkatkan kekuatan kalian.” Ucap Zang Wei dengan nada hangat.
“Eeh,, tapi inikan adalah semua benda berharga dan jika di jual akan sangat mahal Wei'er, kami tidak bisa menerimanya, ini terlalu berharga buat kami.” Ucap Jian Wu yang merasa ia tidak layak mendapatkan ini semua.
“Benar Wei'er, lebih baik kau saja yang menggunakannya dan sebagian kau jual untuk membeli obat buat Bibi Nian,” sambung Yuze dan Yuzu.
Zang Wei yang sudah menebak itu semua, langsung melirik ke arah pamannya.
Sadar maksud tatapan keponakannya, Lu Bei pun langsung melangkah untuk menutup pintu.
Bersamaan dengan itu, Zang Wei langsung membuat sebuah perisai untuk membuat kedap suara.
Blush..!!
Bruk bruk bruk..!!
Tak lama kemudian, Zang Wei langsung mengeluarkan semua harta yang ia dapat, termasuk ribuan kion emas yang di berikan oleh Menara Informasi.
“Aku berencana untuk membuat sebuah Rumah makan yang menyambung dengan penginapan kecil di kota ini, lalu paman yang akan mengelolanya.” Ucap Zang Wei.
__ADS_1
“Tapi di saat membuat sebuah bisnis atau usaha, pasti akan ada gangguan, maka dari itu aku ingin kakak Wu, Yuzu dan Yuze harus meningkatkan kekuatan kalian, agar bisa menjaga usaha paman tetap lancar.” Sambung Zang Wei.
Mendengar itu, Jian Wu, Du Yuze dan Du Yuzu pun saling melirik.
Jian Wu yang ingin mengatakan sesuatu, kini terhenti di saat Zang Wei kembali mengeluarkan sebuah Buku Teknik Bertarung dan Buku Pernafasan Naga.
“Wei'er tahu, kalian pasti mengatakan jika kalian tidak berbakat bukan.” Ucap Zang Wei tersenyum kecil.
“Perlu kakak tahu, tidak ada yang namanya tidak berbakat jika tanpa usaha. Buktinya adalah Wei'er sendiri, Wei'er selalu berusaha sekuat tenaga, hingga bisa sekuat ini.”
“Jika kita selalu mengeluh, maka seorang jenius pun pasti tidak akan mengalami peningkatan, karena mereka selalu mengeluh sebelum mencoba, hal tersebut lah yang membuat mereka mulai malas,” sambung Zang Wei memberikan sedikit motivasi dan pencerahan kepada ketiga kakaknya.
Blush..!!
Tidak sampai di sana saja, Zang Wei juga mengeluarkan auranya saat ini, agar kekuatan aslinya dapat di rasakan oleh kakaknya dan pamannya.
Merasakan aura Zang Wei, mata semua orang melotot tak percaya.
“I..Ini, apakah benar kau ada di Prajurit Tingkat 3 Ahir Wei'er?” Tanya Lu Bei dengan nada terkejut, lantaran ia tidak tahu jika keponakannya akan meningkat lagi begitu cepat.
Setahunya keponakannya ada di Prajurit Tingkat 2 Menengah beberapa hari yang selalu.
“Hemm..!! Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil paman,” jawab Zang Wei.
“Jadi apakah kalian akan berhenti mengeluh lagi kakak?” Tanya Zang Wei kembali melirik ke tiga kakaknya.
Jian Wu, Du Yuzu dan Du Yuze pun langsung mengangguk penuh keyakinan.
“Tentu, jika kami bisa sekuat dirimu, siapa yang ingin menolak Wei'er, terlebih lagi jika kami kuat, maka kami bisa melindungi Tian'er, bibi Nian dan paman Lu Bei,” ucap ketiga kakaknya Zang Wei dengan nada bersemangat.
***
Keesokan harinya.
Setelah Zang Wei menyuruh ketiga kakaknya untuk berkultivasi dan berlatih di Bukit Phoenix.
Kini hanya Zang Wei, Zang Tian dan Lu Bei saja yang ada di Rumah Obat, tempat Zang Nian di rawat.
“Paman, kapan rencana paman ingin membuka rumah makan dan penginapan?” Tanya Zang Wei yang duduk di samping ibunya sambil menggendong adiknya.
__ADS_1
“Hemm..!! Aku juga tidak tahu Wei'er, jika bisa, aku menyerahkan keputusan ini kepadamu. Tapi, mencari lokasi bangunan kosong di Kota Han cukup sulit, rata-rata semuanya telah memiliki pemilik.” Jawab Lu Bei.
“Jika begitu, serahkan saja pada Wei'er, karena Wei'er memiliki teman yang cocok untuk masalah mencari tempat yang cocok.” Sambung Zang Wei dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
Tap tap..!!
“Paman tunggu saja di sini jaga Ibu, Wei'er akan menemui teman Wei'er dulu.” Ucap Zang Wei.
***
Tap tap..!!
Zang Wei terlihat muncul di dalam hutan bersama adiknya.
“Hemm..!! Lumayan, kau cukup bekerja keras juga,” ucap Zang Wei melihat Wen Naozi yang kini pondasinya sangat kokoh.
Wen Naozi yang sedang berlatih teknik dasar Cakar Naga dan Tinju Naga pun langsung menghentikan latihannya dan membungkukkan badannya.
“Salam Tuan muda,” sapa Wen Naozi.
“Hentikan pormalitas, ayo kita kembali Wen Zi, dan mulai saat ini namamu adalah Wen Zi,” ucap Zang Wei sembari membalik badan dan melangkah menuju kota.
Tap tap..!!
Dengan cepat Wen Zi mengejar Tuan mudanya dan bertanya. “Apakah dia putra anda Tuan muda?”
“Bukan, dia adik kecil ku,” jawab Zang Wei dengan nada sedikit kesal, lantaran di anggap tua, padahal ia baru berusia 15 tahun.
Sampai saat ini pun Wen Zi tidak tahu usia Zang Wei yang sesungguhnya.
***
Sementara di pintu gerbang Kota Han sebelah Selatan, arah yang berbeda dengan pintu Gerbang yang akan di lalui Zang Wei dan Wen Zi, terlihat sosok pemuda mengenakan tudung dengan jubah merah melangkah masuk.
Di belakang pemuda tersebut, ada sekitar 5 yang mengikuti dengan pakaian yang sama.
Tap tap..!!
“Jadi kota kumuh ini tempat pemuda bernama Zang Wei ini tinggal.” Ucap Dan Jiansen dengan nada mencemoh dan jijik di saat melihat Kota Dan.
__ADS_1