
“Tapi, sepertinya mereka berdua mengenal Klan Lu, artinya kedua Assasint ini memang berasal dari Benua Tengah dan satu Organisasi dengan Penetua ke 3. Maka dengan begitu kita juga sudah tahu mereka ini musuh yang harus di bunuh sampai ke akar-akarnya.” Sambung Zang Wei sambil melirik ke arah atap, dimana ada seseorang yang sedang mengawasi mereka juga saat ini.
***
Di atas atap, terlihat sosok bayangan putih berdiri sambil menatap ke arah dimana Wen Zi berada, sosok tersebut juga, sama sekali tidak menyadari keberadaan Zang Wei dan Mu Lan Jia yang sedang duduk tidak jauh dari lokasi Wen Zi dan para berandalan berada.
“Hemm..!! Aku yakin pemuda inilah orang yang ada di puncak Gunung sebelumnya, auranya juga terasa familiar,” gumam sosok yang tak lain Zu Hao.
Zu Hao yakin jika Wen Zi adalah orang yang di cari-cari oleh Pangeran Ming di puncak Gunung Hutan Kematian. Hal tersebut membuat Zu Hao yakin adalah, karena ia sama sekali tidak mampu mendeteksi Tingkat kultivasi Wen Zi, dan mengartikan jika Wen Zi ini lebih kuat darinya.
Setelah cukup lama melihat Wen Zi, kini pandangan Zu Hao teralih ke 2 Assasint yang bersembunyi di balik bayangan para berandalan.
“Hemm..!! Jadi ini alasan kenapa pemuda tersebut meminta Pangeran hanya mengawasi dirinya sebelum bertemu. Aura membunuh ke 2 Assasint itu sangat kuat, mereka mirip dengan para Assasint yang menyerang Kota Han beberapa bulan lalu,” gumam Zu Hao, yang terlihat langsung paham maksud Zang Wei menuntunnya kesini dan mendukungnya jika terjadi sesuatu.
Setelah cukup lama mengawasi, terlihat Zu Hao mulai bergerak meninggalkan tempatnya.
...
Sementara di tempat Zang Wei dan Mu Lan Jia.
“Aku tak menyangka jika dia sama sekali tidak menyadari keberadaan kita, padahal aku merasa ilusi yang kau pasang ini adalah ilusi tingkat dasar,” ucap Mu Lan Jia yang kagum terhadap Zang Wei.
__ADS_1
Bahkan kini Mu Lan Jia memegang kedua pipinya sambil melihat Zang Wei dengan tatapan mesra.
Tapi Zang Wei hanya membalas dengan dengusan kecil. “Huh,, jangan terlalu berharap, aku ini masih kecil dan kau juga harus sadar akan usiamu. Jadi carilah yang sepantaran dengan usiamu,” ucap Zang Wei ketus dan tahu jika Mu Lan Jia sangat ingin menikahi dirinya.
Tapi Mu Lan Jia menanggapi ucapan Zang Wei dengan senyuman semakin lebar.
“Hihi,, inilah yang aku suka darimu, aku yakin jika aku memilikimu, maka kau akan setia dengaku. Sifatmu yang dingin terhadap wanita dan juga terkadang licik jika ada maunya. Kau ini adalah laki-laki idaman yang selama ini aku cari,” ucap Mu Lan Jia dengan nada mesra.
Hoekk..!!
Mendengar itu, Zang Wei seketika berpura-pura muntah.
“Kau ini tidak tidak pantas mengeluarkan kata-kata mutiara, karena wajahmu tidak pantas, jadi ku mohon sadar dirilah, sadar diri kau ini seorang nenek-nenek,” dengus Zang Wei yang sedikit merinding saat mendengar ucapan terahir Mu Lan Jia.
Bukannya tersinggung, Mu Lan Jia tanpa malu menarik lengan kanan Zang Wei dan memeluknya.
Zang Wei hanya bisa melongo tak percaya dengan Mu Lan Jia yang urat malunya mungkin sudah putus.
...
Di saat Zang Wei di ganggu oleh Mu Lan Jia dan selalu membuat Zang Wei risih.
__ADS_1
Sementara di tempat Wen Zi, terlihat Wen Zi semakin pandai menarik minat para berandalan ini dengan kata-kata manisnya.
“Haha,, kau ini sangat pandai merayu, aku yakin Pemimpin Kota akan semakin menyukaimu cara bicaramu ini, bahkan mungkin pemimpin kota akan menarikmu menjadi penasehatnya, karena saat ini ia sangat butuh orang pintar dalam berbagai hal seperti dirimu,” teriak ketua berandalan yang sudah mulai mabuk.
“Hehe,, terimakasih akan pujianmu Tuan, aku ini hanya seorang pedagang kecil, aku tidak pantas menjadi seorang Penasehat dari klan Bangsawan Besar seperti Pemimpin Kota,” ucap Wen Zi merendah.
Tap tap..!!
“Sudah cukup, kau tidak perlu merendah lagi Tuan muda Lu Naozi,” ucap ketua berandalan mulai bangkit.
“Karena kau sudah menjamuku dengan sepenuh hati, maka aku akan membalasmu dengan kembali secepatnya menemui Pemimpin Kota, jadi kau tunggu saja di sini, tak lama lagi kau pasti akan di panggil oleh Tuanku,” sambung ketua berandalan dengan senyuman percaya diri.
“Ayo anak-anak kita harus kembali memberitahu kabar gembira ini kepada Tuan,” teriak ketua berandalan melirik bawahannya yang mulai bangkit dan melangkah mengikuti ketua mereka.
Tap tap..!!
Tepat saat ketua para berandalan akan keluar dari pintu, langkahnya terhenti, ia pun membalik badan dab melihat Wen Zi yang tepat berdiri di belakangnya.
“Oh ya, aku juga lupa, kau tidak perlu membayar pajak lagi mulai saat ini dan seterusnya, jadi aku kembalikan semua uang yang kau berikan ini,” ucap ketua berandalan mengulurkan kantong penyimpanan berisi koin emas.
Wen Zi pun mengeluarkan senyuman ramah sambil menjulurkan tangannya untuk mendorong tangan ketua berandalan.
__ADS_1
“Tidak perlu Tuan, anggap saja ini tips dariku dan gunakan saja untuk berpesta dengan bawahan anda nanti malam,” ucap Wen Zi dengan nada ramah. “Karena nanti malam adalah pesta terahir sekaligus perpisahan kalian dengan dunia ini,” gumam Wen Zi dalam hati sambil mengeluarkan senyuman menyeringai jahat dan senyuman tersebut sangat mirip dengan senyuman milik Zang Wei.