
“Hoo,, jika begitu ayo, kebetulan arah yang akan kita tuju sama dengan arah target yang berhasil lolos,” ajak Wen Zi yang langsung bangkit dari tempat duduknya dan melesat ke arah Barat.
Dret..!! Wuss wuss..!!
***
Sementara di arah yang menuju perbatasan Benua Barat, terlihat beberapa orang yang sedang melarikan diri menuju ke benteng milik Kekaisaran Ming.
Huh huh..!!
Dari sekian banyak orang yang berhasil melarikan diri dari pembantaian kelompok yang di pimpin Wen Zi, salah satunya sedang mengendong seorang anak berusia 5 tahun.
“Ibu, kenapa kita harus lari seperti ini? Dan kenapa ayah tidak bersama kita?” Tanya seorang anak perempuan berusia 5 tahun.
Sang Ibu yang mendengar itu pun hanya bisa mengeluarkan seutas senyum hangat.
“Oh itu, saat ini kita harus pindah lagi nak, dan tujuan kita adalah ke tanah yang jauh lebih aman dari serangan para Iblis jahat, sementara untuk ayahmu, ayah saat ini sedang mencoba menahan mereka, agar kita bisa selamat sampai tujuan,” jawab sang Ibu sambil mengusap rambut putri kecilnya.
“Nanti ayah pasti akan menyusul kita setelah kita sampai dengan aman, jadi Ni'er tidak perlu khawatir ya,” sambung sang Ibu yang terlihat terus berlari bersama beberapa penduduk Benua Tengah yang ingin menyelamatkan diri juga.
Tap tap..!!
Tapi tak berselang lama, langkah perempuan berusia 30 tahun itu terhenti di saat ia merasakan bahaya di depannya.
Wanita yang bernama Zang Su terlihat memasang wajah serius di sertai detak jantung berdegub kencang.
“I..Ini, bagaimana bisa mereka sudah ada di depan,” gumam Zang Su terdengar gugup.
__ADS_1
Sang putri yang merakan tubuh ibunya bergetar di saat menggendongnya pun terlihat ikut takut.
“I..Ibu, apa para Iblis jahat itu ada di depan sana?” Tanya Ni'er.
“Apakah kita akan di tangkap dan di bunuh seperti yang ayah pernah katakan?” Sambung Ni'er bertanya sambil memeluk erat Ibunya lebih erat.
Melihat putrinya yang ketakutan, Zang Su pun tersadar.
Karena insting seorang Ibu yang ingin menyelamatkan putrinya, ia pun langsung melirik ke segala arah.
Saat pandangannya mengarah ke sebuah lembah kecil, dan kebetulan lembah kecil tersebut ada sebuah lubang yang mampu di masuki anak kecil, sontak Zang Su melesat ke arah sana.
Wuss wuss..!!
...
Zang Su malah mengambil langkah berbeda.
Tap tap..!!
“Ni'er, kau harus diam di dalam sini, jangan pernah keluar dari lubang ini selama 1 hari penuh, apapun yang terjadi, bahkan jika ada orang yang memanggilmu, jangan menyahut atau keluar oke,” ucap Zang Su mengusap rambut putrinya.
Hiks hiks..!!
“Apakah Ibu akan meninggalkan Ni'er seorang diri? Apakah Ibu akan meninggalkan Ni'er sama seperti ayah?” Tanya Ni'er yang sebenarnya terlihat sadar jika ibunya akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Ni'er juga terlihat sangat di paksa untuk dewasa akan keadaan, makanya ia langsung paham. Namun Ni'er selalu mencoba untuk bersifat seperti usianya yang sebenarnya.
__ADS_1
Melihat putrinya menangis, Zang Su pun ikut meneteskan air matanya.
“Ibu berjanji akan kembali, tunggulah di sini selama 1 hari, ini demi keselamatanmu oke,” ucap Zang Su yang langsung memasukkan putrinya ke dalam lubang dan menggerakkan tangannya untuk membuat sebuah formasi.
Sret..!! Blush..!!
Melihat lubang tersebut sudah tertutup oleh formasi yang ia buat, Zang Su pun langsung melesat pergi ke arah yang yang cukup jauh dari arah para penduduk Benua Tengah.
Dret..!! Wuss wuss..!!
Arah yang Zang Su tuju tetap sama, yaitu Benteng Benua Barat, namun jarak yang di lalui lebih jauh dari para penduduk Benua Tengah.
...
Bom bom bom..!!
Tak sampai 5 menit setelah Zang Su melesat, terdengar sebuah ledakan yang langsung membuat Zang Su semakin gugup.
“I..Ini, semoga saja mereka semua bisa memperlambat para Iblis sialan itu untuk mengejarku,” umpat Zang Su yang sadar jika para penduduk Benua Tengah mati, maka tak lama ia pasti akan di kejar dan bunuh juga.
Dan di saat Zang Su terus melesat, sebuah ingatan pun terlintas di kepalanya, itu adalah ingatan di saat ia berumur 5 tahun dimana ada seorang wanita dewasa sedang bersamanya.
“Ayah, Ibu, Jie-jie, apakah pada akhirnya kita akan bertemu di tempat yang sama?” Gumam Zang Su dalam hati.
“Jika memang memang saat ini sudah di takdirkan, maka semoga aku bisa di pertemukan oleh kalian di Surga sana.” Sambung Zang Su yang menganggap Jie-Jie'nya telah mati.
Wung...!! Bomm..!!
__ADS_1