
Glek..!!
“Sialan, kenapa aku mengatakan hal yang salah sebelum masuk kesini sih,” umpat Raja Ming yang mengingat saat ia memberitahu Bai Xin untuk mengutamakan pembagian harta jarahan yang di dapatkan di Klan Jin dan kediaman pemimpin Kota Janghu.
...
“Kenapa kau diam saja nak, ayo cepat beritahu ayahmu, katamu kau ingin pembagian ini cepat selesai,” celetuk Bai Xin yang terdengar masih dalam keadaan di bawah pengaruh minuman keras.
Mendengar itu, Raja Ming semakin berkeringat dingin, ia kini yakin akan langsung mati setelah pulang, bahkan wajah Raja Ming sampai pucat saking takutnya ia dengan ayahnya.
Sementara Patriak Wen yang cukup mengenal sifat Kaisar Ming pun sadar jika saat ini Raja Ming di bawah rasa takut.
“Ehem..!! Kau mungkin sadar mengapa kau di undang kesini bukan,” ucap Patriak Wen melirik ke arah Kaisar Ming.
Kaisar Ming yang sedang melirik putranya pun langsung mengalihkan pandangannya dan mengangguk.
“Tentu saja, ini tentang tambang Kristal Warna warni serta pembagian hasil jarahan yang kalian dapatkan bukan.” Ucap Kaisar Ming yang langsung di benarkan oleh Patriak Wen.
“Nah, apa yang ingin di bahas oleh Tuanku adalah masalah pembagian hasil jarahan ini serta bagaimana caramu mengelola Tambang ini,” ucap Patriak Wen mulai menjelaskan jika hasil jarahan yang mereka dapat sangatlah banyak, dan menjelaskan penemuan Tambang yang berlokasi di wilayah Kerajaan Bintang.
Karena tambang Kristal warna warni di temukan oleh Raja Ming Lian Ji dan di temukan di wilayahnya, maka secara otomatis itu adalah milik Kerajaan Bintang. Tapi Raja Ming Lian Ji takut jika Tambang tersebut akan menjadi pertumpahan darah bagi saudaranya yang lain, makanya ia ingin membahas persoalan ini, yaitu bagaimana caranya agar tidak terjadi pertumpahan darah antar saudara, namun Raja Ming Lian Ji tetap menjadi pemilik Tambang tersebut.
...
Mendengar penjelasan Patriak Wen, Kaisar Ming pun langsung paham jika ini memang masalah yang cukup serius. Itu karena ia tahu sifat-sifat dari putranya yang ingin menjadi paling mendominasi satu sama lain. Seolah-olah mengatakan jika ini menjadi miliknya, karena dirinya yang terkuat dan pantas mendapatkannya.
__ADS_1
Dapat di katakan semua putra Kaisar Ming di didik untuk menjadi seorang Penguasa, dimana yang terkuatlah yang pantas mendapatkan segalanya.
“Huuf,, apa caraku memang salah dalam mendidik mereka ya?” Gumam Kaisar Ming terlihat menghela nafas.
Kini Kaisar Ming baru mengingat jika saat ini sedang terjadi pertarungan antar saudara di klan Ming, pertarungan itu untuk memperebutkan hak untuk menjadi Putra Mahkota, atau penerus Kaisar selanjutnya.
Bahkan beberapa putranya yang telah di angkat menjadi Raja pun ikut memperebutkan hak tersebut, itu yang membuat ketegangan terjadi di klan Ming serta perpecahan antar saudara.
...
Cukup lama Kaisar Ming terdiam, tak lama setelah itu, ia pun mengangkat kepalanya.
“Serahkan masalah Tambang ini kepada ayah, kau tidak perlu khawatir jika para saudaramu merebutnya lagi, karena ayah akan membuat pengumuman saat sampai Istana nantinya. Jika ada para saudaramu yang berani menyentuh area tambang, maka hak mereka dalam menjadi Raja akan ayah cabut dan ayah akan menghukum mereka untuk melakukan perjalanan khusus klan Ming selama 20 tahun.” Ucap Raja Ming dengan nada tegas.
Glek..!!
Yaps beginilah ayahnya yang tegas, dan jika ada yang berani membantah serta melawan, ia tidak akan segan-segan untuk menghukumnya jauh lebih berat lagi, walau orang tersebut adalah putranya.
“Lalu untuk masalah pembagian, sederhana saja, berapa jumlah kalian yang ikut serta, bagilah dengan jumlah yang ikut secara merata, maka dengan begitu tidak ada yang iri atau merasakan ketidakadilan lantaran status mereka yang berada di bawah.” Sambung Kaisar Ming dengan nada tegas.
...
Di saat Kaisar Ming membahas pembagian hasil jarahan.
Sementara di lokasi Zang Wei saat ini, ia terlihat melakukan pesta kecil-kecilan bersama beberapa bawahan yang tak lain Yi Lang, Shang Liu, Mu Lan Jia, Ling Mue, Sing Zhao, Tetua Yu Zian dan para tetua lainnya.
__ADS_1
Tap tap..!!
“Tuan muda, apa tidak apa-apa jika kita tidak menyapa Kaisar Benua ini terlebih dahulu?” Tanya Tetua Yu Zian yang terlihat sedikit khawatir, ia khawatir lantaran tidak datang menyapa Kaisar Ming dan malah membuat sebuah pesta di sini.
Pandangan Zang Wei pun mengarah ke Tetua Yu Zian. “Tidak apa-apa, toh dia tidak tahu tentang kita. Jadi kita tidak perlu datang menyapanya,” ucap Zang Wei dengan nada santai sambil menikmati teh yang kini sedang seruput.
Sruutt..!!
Em..!!
“Teh buatanmu lumayan juga nona Lan,” puji Zang Wei.
Hal tersebut langsung membuat wajah Mu Lan Jia memerah.
Beberapa orang yang melihat wajah Mu Lan Jia kambuh lagi, hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pandangan Iba.
...
Tap tap..!!
Di saat semuanya sedang asik minum dan memakan semua hidangan yang ada di atas meja, terlihat salah satu Assasint Bunga Malam muncul dan menghampiri Zang Wei untuk memberikannya sebuah surat, setelah itu Assasint tersebut langsung menghilang kembali.
Zang Wei yang kini memegang surat tersebut, langsung sadar jika surat ini berasal dari Ibunya.
Sontak dengan cepat Zang Wei membuka surat berbentuk gulungan tersebut dan langsung mengambil selembaran yang ada di dalam gulungannya, baru setelah itu ia membaca isi dari surat yang Ibunya tulis.
__ADS_1
“I..Ini,” gumam Zang Wei tersenyum bahagia serta terlihat sangat tulus, tepat setelah ia membaca isi surat tersebut.