
Tap tap..!!
“Jadi untuk membuktikan kedua yang aku ucapkan tadi, alangkah baiknya salah satu dari kita mengeceknya, dan akulah yang akan melakukan itu.” Sambung tetua Heng yang kini terlihat melangkah menuju gerbang klan Jin.
Melihat tetua Heng maju, tetua Cang dan tetua Ge langsung saling melirik sambil mengeluarkan seutas senyum licik.
Terlihat keduanya mengangguk serempak dan melesat maju ke arah Tetua Heng.
Wuss..!!
Namun baru saja mereka melesat satu langkah, seketika terdengar suara tawa menggema yang berasal dari kediaman pusat klan Jin. Hal tersebut langsung membuat tetua Cang dan tetua Ge yang tadinya berencana membunuh tetua Heng, kini harus terhenti.
Hahaha..!!
“Selamat datang para tamu terhormatku, silahkan masuk, aku sudah menunggu kedatangan kalian dari tadi,” ucap Raja Darah yang suaranya menggema ke seluruh area klan Jin.
Sret..!!
Bersamaan dengan hilangnya suara Raja Darah, terlihat gerbang utama klan Jin yang tadinya tertutup, kini terbuka dengan sendirinya.
Tetua Heng yang tadinya sudah melangkah pun terlihat menghentikan langkah kakinya.
“Hemm..!! Apa kalian percaya dengan suara tadi?” Tanya tetua Heng yang kini membalik badannya dan melihat tetua Cang dan tetua Ge.
Beruntung tetua Cang dan tetua Ge baru saja memasukkan senjata mereka, sehingga rencana mereka yang tadinya hendak membunuh tetua Heng tidak terbongkar.
Kedua tetua tersebut juga sudah merencanakan ini dari awal, sehingga mereka sudah membungkam mulut anggota kelompok tetua Heng dengan pembagian hasil jarahan yang akan di dimiliki oleh tetua Heng akan di bagikan kepada mereka. Jadi tentu saja para anggota kelompok tetua Heng langsung setuju dengan rencana Tetua Cang dan tetua Ge.
Tap tap..!!
“Kita masuk saja, toh jumlah kita saat ini terbilang sangat banyak, serta kekuatan kita juga sulit untuk di kalahkan oleh Klan Jin.” Ucap Tetua Cang terlihat maju mendekati tetua Heng.
__ADS_1
“Benar, aku yakin kekuatan kita saat ini mampu mengalahkan klan Jin, jadi kita tidak perlu takut jika klan Jin menjebak kita.” Sambung tetua Ge meyakinkan tetua Heng.
Tetua Heng pun mengangguk percaya, kini pandangannya mengarah ke anggota kelompoknya.
“Kalian semua ikuti aku, kita akan maju paling depan untuk melihat apakah ada jebakan, nanti Tetua Cang beserta kelompoknya akan ada di belakang kita untuk melindungi punggung kita. Sementara tetua Ge bersama kelompoknya akan berada di bagian belakang sebagai pendukung.” Ucap tetua Heng yang terlihat mengikuti rencana awal.
Para anggota tetua Heng pun langsung maju bersama tetua Heng, di ikuti oleh Tetua Cang dan terahir tetua Ge bersama kelompok mereka masing-masing.
Tap tap..!!
***
Melihat para Tikus tersebut sudah masuk melewati gerbang klan Jin, terlihat Raja Darah menyeringai lebar.
“Khehe,, makananku sudah masuk, kini saatnya menikmati hidangan tersebut tanpa menyisakannya,” kekeh Raja Darah.
Blush..!!
Tepat setelah Raja Darah menekan tombol yang ada di samping kursi tempatnya duduk, secara tiba-tiba guncangan terjadi di seluruh area Klan Jin.
Para tetua yang merasakan guncangan tersebut pun terkejut dan mulai berhamburan.
Tapi, baru saja mereka melesat ke arah berbeda, terlihat tanah tempat para tetua berpijak langsung ambruk yang langsung membuat mereka semua terjatuh.
Bam bam bam..!! Brum..!!
“I..Ini,” ucap tetua Cang yang terlihat berhasil menyetabilkan tubuhnya dan langsung memandang ke area sekitar.
Terlihat saat ini tetua Cang merasa berada di sebuah arena dalam bentuk lingkaran.
“Aku yakin jika ini memang sebuah arena pertarungan,” gumam tetua Cang sambil melihat banyak sekali tulang manusia bergeletakan di tempatnya berpijak.
__ADS_1
...
Sementara tetua Heng yang baru saja bangkit dari tempatnya terhimbun tanah, langsung mengarahkan pandangannya ke atas.
“I..Ini,” gumam tetua Heng melihat jika dirinya berada di bawah, lebih tepatnya saat ini seluruh area klan Jin tergelam ke bawah tanah sejauh 500 meter dari permukaan tanah yang sebenarnya.
“Sialan, bagaimana bisa kami terbang ke atas sana,” umpat Tetua Heng.
Tap tap..!!
“Ini adalah sebuah arena, makanya mereka membuat mekanisme yang sulit bagi musuh kabur dari sini.” Ucap tetua Ge yang terlihat mendekati Tetua Heng.
“Ehh,, jika begitu apa kita akan menghadapi klan Jin sampai salah satu dari kedua belah pihak menang,” sambung Tetua Heng langsung berpikir ke arah sana.
“Bisa jadi,” ucap tetua Cang kini mendekati tetua Heng dan tetua Ge.
“Tapi yang menjadi masalah adalah, ini area mereka. Jadi, apakah kita bisa menang melawan mereka.” Sambung tetua Cang menunjuk ke arah satu-satunya sebuah Mansion yang di yakini tempat anggota klan Jin bersembunyi.
“Aku yakin mekanisme tempat ini berpusat di sana, tapi aku ragu jika kita mendekati tempat tersebut, sebelum kita sampai, kita sudah mati lebih dulu karena terkena jebakan.” Ucap Tetua Cang menunjuk ke arah salah satu anggota kelompok tetua Ge yang mati tertancap tombak saat mencoba melangkahkan kakinya.
“I..Ini,” ucap tetua Ge dan tetua Heng terkejut saat baru mengetahui tempat mereka berpijak saat ini ada banyak jebakan.
“Kalian semua diam di tempat, jangan melangkah sembarangan, karena di tempat kita berpijak saat ini banyak sekali jebakan.” Teriak Tetua Ge.
Wuss..!!
Karena suara tetua Ge menggema, terlihat puluhan anak panah muncul dari dinding tebing dari arah utara.
Trank trank trank..!!
“I..Ini,” gumam tetua Cang, tetua Heng dan tetua Ge yang menyadari jika mereka bersuara terlalu keras pun akan mengaktifkan mekanisme tertentu, seperti anak panah yang tadi.
__ADS_1
Glek..!!