
Cai'er sekarang duduk termenung diatas kursi kebesarannya dengan pipi yang bertumpu pada tangan kanannya.
"Xiao Yang, dimana kau? Aku merindukan mu." Cai'er bergumam dalam hati.
Ia sama sekali tidak tau kalau Xiang Yang sekarang berada di Benua Lingwu. Jadi sekeras apapun Cai'er berusaha mencari Xiang Yang, jika tempatnya mencari hanya di Benua Chenwu maka usahanya akan percuma.
Selama beberapa jam, Cai'er terus termenung diatas kursi kebesarannya.
Sampai sesaat kemudian, pintu Aula Utama di ketuk.
Cai'er dengan malas mengatakan "Masuk!"
Pintu pun dibuka, memperlihatkan sosok salah satu Tetua Sekte Ular Neraka. Tetua itu adalah seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sudah keriput, bernama Tan Yi atau lebih kerap dipanggil Tetua Tan.
Tetua Tan terus berjalan maju, hingga setelah mencapai jarak tertentu, Tetua Tan berlutut satu kaki sambil menangkupkan tangannya.
"Salam Ratu."
Cai'er melirik kearah Tetua Tan lalu bertanya "Bagaimana Tetua Tan, apakah kau sudah mendapatkan kabar yang aku inginkan?"
"Mohon maaf Ratu, tapi sampai sekarang masih belum saya temukan. Kemungkinan dua orang yang Ratu cari berada di luar wilayah kekuasaan Sekte Ular Neraka kita, saya tidak bisa mencari ke luar wilayah kekuasaan karena kultivator tingkat Nirwana tidak diperbolehkan memasuki wilayah kekuasaan kelompok lainnya!" Tetua Tan menjelaskan dengan penuh hormat.
Cai'er sekarang memang Ketua Sekte Ular Neraka, namun ia sama sekali tidak ingin dipanggil Ketua Sekte. Jadi dia memerintahkan seluruh bawahannya untuk memanggilnya Ratu.
Cai'er masih memasang wajah datar, dia sudah terbiasa mendengar laporan itu. Cai'er pun diam setelahnya, kembali termenung, sama sekali tidak melihat kearah Tetua Tan.
Tetua Tan sendiri langsung bernafas lega karena Ketua Sektenya tidak marah. Pernah sekali Cai'er marah besar karena tugas untuk mencari keberadaan dua orang yang dia cari sama sekali tidak ditemukan. Kemarahan Cai'er membuat seorang Tetua Sekte terluka parah hingga sampai sekarang, tetua itu masih dalam kondisi sekarat.
Tetua Tan kini hanya bertahan diam, tidak tau harus bagaimana karena Cai'er masih diam saja.
Hingga beberapa saat kemudian, pintu Aula Utama terbuka, memperlihatkan seorang pria dewasa yang berjalan memasuki ruangan dengan senyum lebar.
Meskipun pria itu terlihat muda, namun usianya sudah mencapai 800 tahun, tidak jauh berbeda dengan usia Tetua Tan.
__ADS_1
Pria itu yang bertindak tidak sopan dengan masuk tanpa permisi, namun wajah Tetua Tan yang menjadi pucat.
"Apakah bajingan ini sudah gila! Berani sekali dia masuk tanpa permisi disaat Ratu berada di Aula Utama." Tetua Tan takut jika perilaku tidak sopan pria itu membuat Cai'er marah, hingga membuat dirinya juga menerima imbas kemarahan sang Ratu.
"Wan Tang, aku tidak tau jika kau sudah bosan hidup!"
Deg!
Perkataan Cai'er entah kenapa membuat jantung Tetua Tan terasa berhenti berdetak. Wanita paruh baya itu tidak berani mengangkat kepalanya, ia hanya menunduk dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran karena ia bisa merasakan Cai'er sudah mulai mengeluarkan auranya.
Sial! Sial! Sial! Bajingan ini, jika kau ingin mati maka jangan bawa-bawa aku.
Tetua Tan merasa marah dengan Wan Tang yang masih saja bisa tersenyum disaat Cai'er sudah mulai menunjukkan kemarahannya.
Wan Tang berlutut satu kaki lalu menangkupkan tangannya "Mohon maaf Ratu ku, aku terlalu bersemangat untuk memberikan kabar gembira untuk mu!"
Senyum lebar Wan Tang sama sekali tidak pudar.
Cai'er menyipitkan matanya sesaat sebelum aura ditubuhnya menghilang "Katakan! Jika itu adalah hal yang tidak berguna maka bersiaplah untuk kehilangan kepala mu!"
Menggunakan energi Qi, Wan Tang membuat bungkusan kain itu melayang kearah Cai'er.
"Apa sebenarnya yang bajingan ini rencanakan?!" gumam Tetua Tan dengan perasaan was-was. Dia ingin lekas pergi dari Aula Utama namun tidak berani.
"Wan Tang, aku tidak punya waktu untuk sebuah omong kosong!" ucap Cai'er saat bungkusan kain itu sudah berada didepannya.
"Bukannya saya bermaksud lancang Ratu ku, tapi anda akan langsung tau kabar baik yang saya maksud jika sudah membuka bungkusan kain itu." Wan Tang masih mempertahankan senyumannya.
Cai'er hanya diam beberapa saat sebelum menggerakkan ujung jari telunjuk kanannya, mengeluarkan gelombang energi yang langsung merobek bungkusan kain tanpa merusak isi didalamnya.
Deg!
Jantung Cai'er terasa berhenti berdetak sejenak dengan mata yang melebar karena melihat isi dari bungkusan kain itu.
__ADS_1
Bungkusan kain itu ternyata berisi sebuah kepala tanpa tubuh, yang mana Cai'er melihat kepala itu adalah kepala Xiang Yang.
Kepala itu kini jatuh kelantai hingga menggelinding selama beberapa saat.
Tubuh Cai'er bergetar sebelum kembali melihat wajah kepala itu dengan teliti. Dan ternyata, kepala itu hanya memiliki wajah yang mirip dengan Xiang Yang.
Wajahnya sangat mirip hingga sekilas tadi Cai'er mengira jika itu adalah kepala Xiang Yang.
Pandangan Cai'er pun beralih menatap Wan Tang dengan tatapan dingin.
"Wan Tang, apa maksudnya ini?" Cai'er berkata dengan suara datar.
Senyum Wan Tang justru semakin lebar, ia tidak menyadari kalau Cai'er sedang marah besar, karena ia mengira ekspresi Cai'er saat ini adalah hal yang biasa.
"Ratu ku, bukankan anda mencari dua orang pria? Saya secara kebetulan menemukan salah satunya, jadi agar Ratu tidak perlu repot-repot, saya sendiri yang memenggal kepalanya untuk Ratu!"
Suasana hening setelah Wan Tang menuntaskan kalimatnya. Melihat Cai'er sepertinya tidak menanggapi kecepatannya, Wan Tang pun menambahkan.
"Jadi saya harap, Ratu menepati janjinya untuk memberikan hadiah!"
"Oh, hadiah ya.. hadiah apa yang kau inginkan?" Suara Cai'er semakin berat.
Wan Tang sama sekali tidak menyadari kalau Cai'er sekarang sedang marah, namun tidak dengan Tetua Tan. Wanita paruh baya itu sangat jelas mengetahui kalau Ratunya sedang marah.
"Wan Tang bajingan! Apa kau tidak bisa membuka mata mu lebar-lebar kalau Ratu sekarang sedang marah?!" Tetua Tan hanya bisa mengutuk Wan Tang dalam hatinya.
Dia masih menundukkan kepala dengan wajah pucat, namun matanya melirik kearah Wan Tang, seakan memperingatkan Wan Tang untuk tidak lagi berbicara.
Tetapi kemarahan Cai'er saja Wan Tang tidak menyadarinya, apa lagi peringatan darinya yang hanya sebatas lirikan mata saja.
Jujur saja, Tetua Tan tidak tau apa yang menyebabkan Cai'er marah.
"Mungkin permintaan ku ini sedikit lancang, tapi... saya ingin agar Ratu membuka sedikit hati untuk saya, ijinkan saya untuk mengejar mu hingga bisa mendapatkan hati mu, Ratu ku!" Wan Tang berkata dengan wajah tegas, memperlihatkan keseriusannya.
__ADS_1
"Ah... bajingan ini sudah mati, dia benar-benar tidak bisa diselamatkan!" gumam Tetua Tan Yi.