
Saat ini Patriak Keluarga Du, Du Sun sedang bermeditasi di kamarnya. Dia ingin segera menembus tahap lima dalam tingkat Sky Spiritual.
Du Sun terus fokus dalam menyerap energi alam disekitar, sampai kemudian matanya terbuka karena mendengar suara ketukan pintu.
Mungkin akan lebih tepat mengatakannya menggedor karena suaranya sedikit keras terkesan agak kasar.
Du Sun memasang ekspresi tidak senang, karena tengah malam seperti ini, terlebih dia sedang berkultivasi.
Du Sum turun dari ranjang kemudian berjalan, membuka pintu hanya untuk melihat seorang prajurit yang langsung berlutut penuh hormat saat melihat dirinya.
"Maaf mengganggu waktu berharga anda Patriak, tapi ini ada kabar darurat!" ucap prajurit itu dengan nada bergetar, takut jika Du Sun marah.
"Hmm! Kabar darurat macam apa? Kalau itu tidak penting maka bersiaplah kehilangan kepala mu!" Du Sun berkata dengan dingin.
"Itu... sepertinya ada penyusup Patriak, kami menemukan para penjaga yang berpatroli tewas tergeletak di jalan dengan jantung yang membeku!"
"Apa?! Penyusup! Siapa yang berani menyusup di kediaman Keluarga Du ku ini?!" Du Sun langsung memasang wajah gelap, jelas marah mendengar kabar itu.
"Dan juga...tuan muda Du Bai..." Prajurit itu tidak melanjutkan kata-katanya, dia ragu untuk mengatakan tentang kondisi Du Bai.
"Kenapa dengan Bai'er? Apa yang terjadi pada putra ku?!" Du Sun terlihat khawatir.
"Agak sulit untuk menjelaskannya Patriak, jadi saya sarankan lebih baik anda sendiri yang datang melihat kondisi tuan muda di kediamannya!"
Du Sun mendengus sebelum melesat cepat menuju kediaman Du Bai, dia benar-benar khawatir pada putra semata wayangnya itu.
Sesampainya disana, Du Sun melihat belasan prajurit sudah berjaga di luar, pintu kediaman Du Bai terlihat terbuka.
Para prajurit itu langsung menundukkan kepala saat melihat Du Sun datang.
Kening Du Sun sedikit mengerut, tatapannya tidak lepas kearah dalam kamar Du Bai yang cukup terang sekarang. Sepertinya masih ada orang disana dan menyalakan lilin hingga ruangan itu terang.
Saat memasuki ruangan, Du Sun melihat seorang pria berusia 50-an, berdiri diaamping ranjang, menatap iba pada pemuda yang terbaring lemah diatas ranjang.
Melihat pemuda yang jelas dalam kondisi memprihatinkan, mata Du Sun terbeletak karena pemuda itu adalah putranya, Du Bai.
"Bai'er!" Du Sun berlari dengan perasaan was-was, lalu duduk di samping ranjang, melihat putranya yang sungguh dalam kondisi buruk.
Du Sun menoleh kearah pria tua yang merupakan tabib di kediamannya.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi putra ku?" tanya Du Sun.
"Tuan muda Du Sun masih hidup" Tabib itu menggeleng pelan "Hanya saja kondisinya sudah lebih buruk dari pada kematian! Yang melakukannya sungguh kejam, kedua bola mata tuan muda dicongkel, tenggorokan hancur membuatnya tidak bisa bicara, begitu juga dengan gendang telinganya, Dantian nya dirusak, seluruh titik merediannya hancur, serta garis keturunannya yang tidak lagi berfungsi!"
Wajah Du Sun berubah pucat, lalu menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Siapa sebenarnya orang yang tega melakukan hal sekejam itu? Dendam apa yang penyusup itu miliki sehingga sampai berbuat hal yang sangat begitu keji pada putranya.
Meskipun putranya masih hidup, namun tidak akan salah menyebutnya mayat yang bisa bernafas, karena Du Bai sekarang tidak bisa melihat, mendengar, bicara, bahkan garis keturunannya pun dihancurkan. Putranya sekarang hanya bisa bernafas.
"Apakah ada cara untuk menyembuhkan putra ku?" tanya Du Sun.
Tabib itu menggeleng pelan "Jika menggunakan pil mungkin kondisinya bisa lebih baik, namun karena meredian dan Dantian nya hancur, dia tidak akan bisa mencerna manfaat pil! Jadi...anda harus menerima kenyataan, putra anda sudah tidak bisa tertolong!"
Sang tabib menatap Du Bai dengan iba, pemuda yang dikatakan berbakat sekarang tidak lebih dari sekedar mayat bernafas, bahkan Du Bai tidak lagi bisa menggerakkan tubuhnya, cacat sepenuhnya.
"Dan juga..." Tabib itu melihat kearah dinding kamar.
Du Sun mengikuti arah pandang sang tabib, melihat sebuah kalimat yang ditulis dari darah.
"Terima kasih atas hadiah yang kalian berikan tadi malam! Sekarang aku persembahkan hadiah dari ku untuk kalian!"
Du Sun mengepalkan tangannya dengan wajah merah karena marah, dia menahan diri untuk tidak mengeluarkan auranya karena itu bisa membuat kondisi Du Bai jadi lebih buruk.
"Prajurit, jaga putra ku dengan baik! Aku akan mencari orang yang telah membuat putra ku seperti ini!" Du Sun beranjak dari kamar itu "Bahkan jika orang itu lari ke ujung dunia, akan ku bunuh dan ku buat dia mengalami penderitaan yang lebih kejam!"
Du Sun benar-benar memendam dendam kesumat pada penyusup itu.
Du Sun berjalan cepat dengan wajah gelap penuh amarah, dia juga telah memerintahkan prajuritnya untuk mencari ke setiap sudut Kediaman Keluarga Du dan juga mencari di Kota Hage.
Du Sun berniat kembali ke kamarnya untuk mengambil senjatanya.
Setibanya di depan kamar, Du Sun langsung membuka pintu, namun dia tidak lekas masuk karena melihat seseorang berada di dalam kamarnya.
Terlihat seorang gadis cantik bagaikan Dewi, sedang duduk di tepi ranjang dengan senyum menawan, senyum menawan yang menyembunyikan sifat psikopatnya.
"Bagaimana hadiah yang ku berikan? Apa kau menyukainya pak tua?" ucap gadis itu yang tidak lain adalah Cai'er.
Du Sun terdiam, matanya melebar karena menyadari sesuatu. Gadis didepannya ternyata adalah pelaku yang telah membuat putranya cacat.
__ADS_1
"Kau..." Du Sun berkata dengan suara berat yang ditekan, amarahnya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
Cai'er berdiri menatap Du Sun dengan sinis, dia sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang dia lakukan, karena dulu dia sering melakukannya, bahkan pernah melakukan hal yang lebih kejam.
"KAU BAJINGAN LAK*NAT! AKAN KU BUNUH!" Du Sun tidak bisa menahan diri lagi, dia langsung melesat menyerang Cai'er dengan kekuatan penuh.
Cai'er terlihat sangat santai, sama sekali tidak gentar.
Cai'er melompat kesamping, menghindari pukulan Du Sun yang akhirnya menghancurkan ranjang di belakang tempat Cai'er sebelumnya.
Saat kaki Cai'er baru saja menyentuh lantai, dia memberikan satu tolakan keras yang membuat tubuhnya melesat kedepan, dalam sekejap sudah berada dihadapan Du Sun.
Dengan satu kepalan tangan yang dilapisi energi ungu, Cai'er memukul wajah Du e dengan keras.
*Baaam!
Du Sun tidak bisa menghindar, akhirnya terpental menabrak tembok.
"Aaarrrggghhh...!" Du Sun berteriak karena wajahnya terasa terbakar.
Terlihat wajahnya keropos mengeluarkan asap, kulitnya mencair meneteskan cairan ungu.
Itu adalah akibat dari pukulan Cai'er yang mengandung racun.
Du Sun mengalirkan energi Qi untuk meredam rasa sakit diwajahnya.
"Tenang saja, masih banyak racun yang ku miliki!" Cai'er membuka telapak tangan kanannya yang diselimuti asap ungu menggelora.
Wajah Du Sun menjadi pucat, satu pukulan itu saja tadi membuatnya paham perbedaan kekuatan diantara mereka.
"Kau harus kenyang dengan hidangan racun ku malam ini!" Cai'er terus berjalan mendekat dengan senyum menawan, namun terlihat menyeramkan di mata Du Sun.
"Jangan..." Du Sun berkata lirih "Tidak..."
"AAARRRGGGHHH!!"
Entah apa yang dilakukan Cai'er pada Du Sun hingga membuatnya berteriak keras seperti itu.
\=\=\=
__ADS_1
**Perlukah kita kembangkan sifat psikopatnya Cai'er?**