Reinkarnasi Sang Pahlawan

Reinkarnasi Sang Pahlawan
Ch.64 - Nasib Keluarga Li


__ADS_3

Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, Xiang Yang akhirnya tiba di Kediaman Keluarga Li.


Saat Xiang Yang baru menginjakkan kaki di area kediaman Keluarga Li, tubuh pemuda itu langsung menggigil karena mendengar suara-suara teriakan memilukan jauh disana.


Tidak perlu menduga karena sudah pasti itu kerjaan Cai'er. Entah apa yang gadis itu lakukan sampai membuat orang-orang disana berteriak keras kesakitan. Suara-suara teriakan itu tumpang tindih, menunjukkan jika jumlah merela ada ratusan.


Jika dibandingkan dengan Cai'er, maka bisa dibilang Xiang Yang adalah orang yang baik, sangat baik malah, meskipun dia telah membantai habis satu keluarga.


Xiang Yang membunuh langsung tanpa memberikan rasa sakit yang berlebih, berbeda dengan Cai'er yang menyiksa mereka sampai mengeluarkan suara teriakan yang memilukan. Jadi Xiang Yang adalah orang baik, jika disandingkan dengan Cai'er si gadis psikopat itu.


*Booommm!


Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah dimana ratusan teriakan itu berada.


Xiang Yang menghela nafas berat "Haaah! Aku harap Cai'er tidak terlalu berlebihan hingga meledakkan tubuh mereka semua!" ucapnya sebelum melesat cepat kearah dimana teriakan itu berasal.


***


Beberapa menit yang lalu.


Setelah serbuk ungu habis di hirup oleh orang-orang dari Keluarga Li secara tidak sadar, ratusan orang itu secara serentak membuka mata lebar-lebar, entah kerongkongan mereka terasa sangat gatal.


Cai'er sendiri yang masih setia menunggu, duduk diatas atap memperhatikan orang-orang itu, kini tersenyum tipis.


"Akhirnya pertunjukan akan dimulai!"


Tidak mempedulikan yang lainnya saking gatalnya kerongkongan mereka, mereka semua menggaruk leher dengan kasar.


Nun percuma, yang gatal kerongkongan namun yang mereka garuk malah kulit leher, memang tidak mungkin mereka menggaruk kerongkongan yang berada di dalam leher.


Mereka semua terus fokus menggaruk leher dengan kasar hingga leher mereka berdarah. Bukannya mereda, rasa gatal pada kerongkongan mereka semakin menjadi seiring waktu, membuat mereka semakin gencar menggaruk leher tanpa mempedulikan darah yang mengalir dari luka dileher akibat digaruk terlalu kasar.


"Aaarrrkkhhh!"


"Aaarrrkkhhh!"


"Aaarrrkkhhh!"

__ADS_1


Orang-orang itu mulai merintih karena tidak tau harus melakukan apa dengan rasa gatal di dalam leher mereka.


Terlihat satu orang berinisiatif meminum arak yang ada pada botol ditangannya.


Setelah meneguk arak itu hingga habis, barulah rasa gatal di lehernya hilang.


Mengetahui hal itu, orang-orang itu mulai berebutan arak yang tersisa. Terjadi kerusuhan karena mereka saling memukul merebut arak untuk menghilangkan rasa gatal di dalam leher.


Orang yang sebelumnya pertama kali minum arak kini merasa lega, namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa saat sebelum perut mereka terasa gatal. Bukan perut, lebih tepatnya lambung.


Orang itu pun segera menggaruk perutnya dengan kasar hingga kulitnya terkelupas, memperlihatkan daging yang mengeluarkan darah.


Sementara yang lainnya, tidak semuanya mendapatkan arak untuk diminum membuat mereka kembali menggaruk leher, sedangkan yang minum arak malah menggaruk perutnya.


Setelah satu menit berlalu, rasa gatal itu kini ditambah menjadi rasa panas, gatal dan panas, sungguh dua kombinasi yang sangat sempurna untuk membuat penderita mereka semakin menjadi.


Saat itulah mereka mulai berteriak kesakitan, dimana teriakan-teriakan itu semakin keras hingga terdengar memilukan.


Beberapa orang yang tidak tahan memilih mengakhiri hidup mereka dengan menusukkan pedang di jantung mereka.


Sementara Cai'er sebagai orang yang bertanggung jawab atau pelaku dari apa yang orang-orang itu alami, hanya duduk diam menonton dengan senyum lebar.


***


Karena teriakan keras dari para pasukannya, Li Qiye dan Sha Qi yang berada di ruang tamu segera bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Seketika mata mereka melebar saat melihat kejadian di depannya. Semua pasukan yang Li Qiye persiapkan untuk penyerangan besok pagi, kini malah terlihat seperti orang gila dengan menggaruk leher dan perut hingga mengeluarkan darah.


"Apa yang terjadi?!" Li Qiye benar-benar terkejut, tidak tau harus bereaksi seperti apa.


Teriakan-teriakan mereka terdengar begitu memilukan di telinga Li Qiye.


Sha Qi sendiri mengerutkan kening sambil memperhatikan apa yang pasukan Li Qiye lakukan.


Barulah setelah beberapa saat, Sha Qi mengetahui sesuatu.


"Sepertinya mereka keracunan!" ucap Sha Qi lalu menoleh kearah Li Qiye dengan tatapan menyipit penuh selidik.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin Tetua Sha Qi, bagaimana mungkin ada yang menaruh racun pada arak yang mereka minum! Anda tau sendiri tadi kita minum arak namun tidak ada yang terjadi pada kita!" Li Qiye terlihat panik.


*Tap!


Terdengar suara pendaratan pelan di depan mereka, membuat mereka berdua secara refleks menoleh kesana.


Li Qiye mengerutkan kening sementara Sha Qi terlihat terkejut, lebih tepatnya takut dengan orang yang ia lihat.


Orang itu tidak lain adalah Cai'er yang tersenyum lebar, gadis itu tidak menyangka akan bertemu dengan Sha Qi disini.


"Lama tidak bertemu pak tua, kau masih terlihat baik-baik saja!" ucap Cai'er.


"Siapa kau? Apa kau yang meracuni orang-orang ku?!" Li Qiye mengeluarkan pedangnya, tidak menunggu jawaban dari Cai'er sebelum melesat kearah gadis itu.


"Mati kau!" Li Qiye menebaskan pedangnya dengan kuat.


Tangan kiri Cai'er dilapisi energi Qi kemudian menangkap bilah pedang Li Qiye dengan mudah.


"Kau..." Li Qiye terkejut, ia berniat melompat mundur namun tiba-tiba perutnya terasa panas dengan badan yang kaku.


Li Qiye menunduk melihat perutnya, terlihat tangan kanan Cai'er sudah menembus perutnya.


"Ghouk!" Li Qiye menyemburkan darah dari mulutnya, memandang Cai'er dengan tatapan ngeri.


"Memfokuskan kekuatan pada serangan dan mengabaikan pertahanan, kau sungguh bodoh!" Cai'er mencabut tangannya dari perut Li Qiye, membuat tubuh pria paruh baya itu jatuh dengan darah yang terus mengalir dari perutnya.


Mengabaikan Li Qiye yang sebentar lagi akan mati, Cai'er berjalan santai kearah Sha Qi yang terlihat ketakutan.


Setiap kali Cai'er maju satu langkah, maka Sha Qi refleks mundur satu langkah.


"Kau.. bagaimana bisa kau ada disini?" Sha Qi merasa sangat sial karena selalu bertemu dengan Cai'er, ia merasa menyesal telah datang ke Keluarga Li.


"Karena kota ini adalah tempat tinggal kekasih ku, dan kalian ingin menyerang Keluarga Xiang yang merupakan keluarga kekasih ku, jadi sudah pasti aku tidak akan membiarkan hal itu!" Cai'er terus berjalan pelan.


Sha Qi tertegun, sepertinya ia memang telah membuat keputusan yang salah karena datang ke Keluarga Li.


"SIAL!" Merasa tidak punya pilihan, Sha Qi mencabut goloknya lalu melesat menyerang Cai'er.

__ADS_1


"Memang benar, seekor tikus pun akan menjadi agresif jika terus dipojokkan!" Cai'er tersenyum tipis lalu ikut melesat.


__ADS_2