Reinkarnasi Sang Pahlawan

Reinkarnasi Sang Pahlawan
Ch.255 - Akhir Pertempuran Besar & Sebuah Penawaran


__ADS_3

Yun Ying masih bertarung melawan Wan Yun. Area tempat mereka melakukan pertarungan sudah kacau balau, hutan yang tadinya lebat kini menjadi padang tandus dengan kawah besar dimana-mana.


Yun Ying bergerak cepat, menggunakan teknik pedang terbaiknya menyerang Wan Yun.


Wan Yun terus didesak, terpukul mundur tanpa bisa memberikan serangan balasan yang berarti.


Wan Yun merupakan seorang kultivator yang memiliki kecepatan tinggi, terlebih saat menggunakan kekuatan Jiwa Petirnya, kecepatannya akan meningkat berkali-kali lipat.


Namun Yun Ying masih mampu bersaing dengannya dalam hal kecepatan, bahkan melebihinya.


Wan Yun terus mencari kesempatan untuk memisahkan diri dari Yun Ying, hingga dia dapat bergerak mundur dan mengambil nafas sejenak.


Tapi Yun Ying sama sekali tidak memberinya kesempatan. Melarikan diri juga percuma saja karena kecepatan Yun Ying berada diatasnya, terlebih jika sekali saja Wan Yun membalik badan maka dia yakin akan langsung mati di tebas oleh Yun Ying.


Berbalik disaat musuh berada didepan mata sama sekali bukan pilihan yang baik.


Hingga dalam satu kesempatan, keduanya melakukan tebasan kuat yang saling beradu, mereka berusaha saling mendorong dengan bilah pedang yang masih menempel satu sama lain.


"Kena kau!" Yun Ying menggerakkan ekornya, melilit salah satu kaki Wan Yun.


Wan Yun melebarkan matanya karena lupa memperhitungkan ekor Yun Ying.


Meskipun memang itu hanyalah ekor yang terbentuk dari gumpalan energi, namun Yun Ying bisa menggunakannya sebagaimana ekor yang nyata.


"Kebekuan Abadi!"


Seketika kaki Wan Yun yang dililit ekor Yun membeku secara perlahan tapi pasti, mulai naik menuju dengkul.


Wan Yun tidak tau harus melakukan apa saat ini, dia ingin memotong kakinya agar tubuhnya tidak membeku sepenuhnya.


Tapi dia tidak memiliki cara yang aman untuk memotong kakinya.


Saat ini kedua tangannya memegang gagang pedangnya, saling mendorong dengan pedang Yun Ying.


Jika dia melepas satu tangannya pada gagang pedang, maka kekuatan dorongannya akan berkurang, hingga kepalanya bisa terpenggal.


Bergerak menjauh saat ini juga tidak mungkin karena dia sudah benar-benar berada di hadapan Yun Ying.


Dalam waktu yang relatif singkat, kini paha Wan Yun sudah membeku dan terus menjalar naik tanpa bisa dihentikan.


"Sial! Sial! Sial!" Wan Yun mengutuk dirinya sendiri yang begitu ceroboh.

__ADS_1


Tubuh Wan Yun sudah membeku mencapai pinggangnya.


Kini Wan Yun pun sadar tidak ada jalan baginya untuk selamat, dia sudah tidak bisa merasakan bagian tubuhnya dari pinggang ke bawah, seakan bagian tubuhnya itu tidak pernah ada.


Dada Wan Yun pun mulai membeku, terus naik mencapai leher, hingga akhirnya, Wan Yun sepenuhnya berubah menjadi patung es.


Tubuh Wan Yun pun terjatuh dari tempatnya saat ini yang berada di ketinggian kurang dari 100 meter.


*PYARRR!


Tubuh Wan Yun pun hancur bagaikan kaca pecah saat menghantam tanah.


Dari pecahan tubuh Wan Yun tiba-tiba keluar kilatan petir yang dengan cepat menjadi semakin besar.


*ROAAARRRHHH!!


Raungan keras terdengar kemudian sesosok makhluk keluar, meliuk-liuk di udara. Sosok itu adalah Jiwa Petir yang sudah memiliki bentuk naga petir.


Yun Ying menyipitkan matanya sebelum mengibaskan tangan. Es bagaikan akar yang menjalar melesat lalu mengikat Jiwa Petir itu.


Jiwa Petir itu kembali meraung, meronta-ronta ingin lepas dari jeratan es Yun Ying.


"Jiwa Petir ini sangat kuat!"


Akhirnya es yang mengikat Jiwa Petir itu hancur, membuatnya bebas kembali.


Jiwa Petir menatap Yun Ying dengan penuh kemarahan, lalu melesat kearah gadis itu.


"Sial, aku tidak bisa bertarung dengan kondisi ku saat ini! Apa yang harus ku lakukan." Yun Ying bahkan sudah tidak bisa terbang dengan sisa energi Qi nya saat ini.


"Segel!"


Yun Ying tiba-tiba mendengar suara seorang gadis dari belakangnya. Sesaat kemudian, puluhan rantai cahaya melesat melewati kepala Yun Ying.


Puluhan rantai cahaya itu dengan cepat mengikat Jiwa Petir, membuatnya tidak bisa bergerak.


Kali ini Jiwa Petir itu benar-benar tidak bisa melawan didalam kekangan rantai cahaya.


Yun Ying menoleh kebelakang, melihat seorang gadis cantik yang memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya, meskipun semua luka itu sudah tidak mengeluarkan darah.


Gadis itu memegang sebuah batu giok ditangannya yang mana, batu giok itulah yang mengeluarkan puluhan rantai cahaya.

__ADS_1


"Dia kan..."


Yun Ying mengingat jika gadis itu adalah salah satu kultivator tingkat Transcendent Benua Lingwu ini. Sayangnya, dia tidak mengetahui nama gadis itu.


Yun Ying hanya diam saja di tempat, memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya tanpa menghalangi Han Shizu.


Jiwa Petir terus di tarik secara paksa, sekeras apapun Jiwa Petir melawan, dia sama sekali tidak bisa lepas dari jeratan rantai cahaya.


Akhirnya Jiwa Petir itu pun tersegel kedalam batu giok di tangan Han Shizu.


"Segel macam apa itu? Seharusnya tidak ada segel sekuat itu di Benua Lingwu, apakah dia mendapatkannya di dalam dimensi kecil?" gumam Yun Ying.


Setelah berhasil menyegel Jiwa Petir, Han Shizu pun menangkupkan tangannya.


"Nona Yun Ying, perkenalkan aku adalah Han Shizu, salah satu Tetua Sekte Naga Emas. Ketua Sekte ku adalah Xiang Yang, aku rasa Nona Yun Ying mengenal Ketua Sekte ku!"


"Han Shizu kah? Jadi dia orangnya." gumam pelan Yun Ying, mengingat jika sebelumnya Xiang Yang pernah menyebut nama Han Shizu.


"Jadi apa mau mu?" tanya Yun Ying.


"Maaf jika aku sedikit tidak sopan! Nona Yun Ying, bisakah aku memiliki Jiwa Petir ini?" Han Shizu berkata dengan sopan, sama sekali tidak ingin membuat Yun Ying tersinggung.


Bukan karena Han Shizu takut padanya, namun karena dia sangat menghormati Yun Ying sebagai seorang kultivator yang lebih kuat darinya, juga telah membantu mempertahankan Benua Lingwu ini.


Meskipun nada datar Han Shizu sama sekali tidak bisa dihilangkan.


"Kenapa aku memberikannya pada mu? Aku yang mengalahkan Wan Yun jadi akulah yang harusnya memiliki semua barangnya, termasuk Jiwa Petir itu."


Entah kenapa Yun Ying tidak mempedulikan rasa hormat yang ditunjukkan Han Shizu dan malah mendapatkan suatu dorongan untuk membuat gadis didepannya ini terdesak.


Han Shizu pun terdiam, tidak tau harus menjawab apa setelahnya.


Hingga kemudian, terdengar suara dari Xiang Yang.


"Ying'er, Shizu sangat membutuhkan Jiwa Petir itu, jadi aku harap kau bisa sedikit berbaik hati!" Xiang Yang melayang pelan lalu mendarat di samping Han Shizu.


Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, namun karena sudah merasakan sakit yang lebih pedih sebelumnya, dia bisa menahan rasa sakitnya yang sekarang.


Ekspresi Yun Ying menjadi dingin, melihat Xiang Yang dengan tatapan tidak suka. Dia berpikir Xiang Yang lebih memilih Han Shizu daripada dirinya.


Sebelum Yun Ying mengatakan sepatah kata, Xiang Yang mendahuluinya.

__ADS_1


"Tentu saja aku tidak memintanya secara cuma-cuma, aku akan memberikan sebuah penawaran menarik untuk mu!"


__ADS_2