
^^H A PP Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Di rumah nya Tara yang baru keluar kamar itu berjalan ke dapur, cacing di perutnya sudah berteriak meminta di isi, dan Tara memanfaatkan waktu tidur suaminya untuk bisa mengisi perutnya.
"Laper banget ya ampun." gumam Tara.
Dari pagi sampai sore Tara tidak keluar kamar karena sibuk membuat bayi bersama suami tercinta nya.
dan sekarang perutnya sudah keroncongan jadi Tara memilih keluar kamar untuk mengisi perutnya.
"Masak apa ya." gumam Tara sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Tara terdiam sebentar sampai akhirnya matanya berseri-seri saat melihat mie kesukaan nya yang ada di kresek hitam.
"Makan mie enaknya di kasih telursetengah mateng terus cabai dua biji, aah pasti enak." gumam Tara lagi sambil membuka kulkas.
Tangan Tara terulur untuk mengambil cabai, lalu mengambil satu telur dan yang terakhir mengambil panci kecil.
Beberapa menit berlalu..
Harum wangi mie buatan Tara itu membuat mata Tara merem melek, perutnya kembali keroncongan lagi dan itu membuat Tara tidak sabaran dan langsung membawa panci nya ke atas meja.
"Di Korea perasaan makan pake panci nggak apa, udahlah biar nggak buat bibi repot nambahin cucian." Tara mendudukkan bokong nya di kursi, lalu mulai membaca doa.
Dan saat Tara akan memasukan mie ke mulutnya tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggang nya.
"Sayang.." suara Darrel manja, menciumi leher Tara.
"Aku lapar, duduk dulu kita makan dulu." kata Tara.
Darrel mendudukkan bokong nya di kursi, lalu menatap Tara yang makan dengan lahap.
"Enak?" tanya Darrel.
Dan Tara mengangguk cepat.
"Enak banget, mau?." tanya Tara.
Darrel membukakan mulut nya, melihat itu Tara langsung dengan sengaja menaruh satu cabai di sendok, lalu menyuapkan ke mulut suaminya.
Awalnya Darrel tidak merasakan apa-apa, dia mengunyah dengan malas sampai akhirnya matanya melotot karena merasakan rasa pedas.
"Sayang pedas!" Darrel langsung berjalan mengambil minum.
Melihat itu Tara hanya tertawa kecil, dan kembali makan mie nya dengan lahap karena lapar nya masih terasa.
"Kamu ngerjain aku ya." Darrel kembali duduk setalah rasa pedasnya hilang.
__ADS_1
Eeu..
Tara sendawa.
"Alhamdulillah, kenyang banget." ucap Tara sambil mengusap perutnya.
Lalu melirik suaminya.
"Ya maaf, abisnya kamu gemesin buat di kerjain." balas Tara sambil tersenyum.
Membuat Darrel yang tadinya ingin marah berubah menjadi gemas dan ingin membawa Tara ke kamar lagi.
"Jangan ke kamar lagi." kata Tara tau senyuman mesum suaminya.
"Kenapa? bukan nya kamu suka ya?" Darrel menaikan sebelah alisnya ke atas.
"Suka, tapi kalau keseringan aku juga cape." balas Tara lagi.
"Kapan kita honeymoon?" lanjut Tara.
"Honeymoon buat bikin anak kan?" tanya Darrel.
Tara mengelengkan kepalanya.
"Di kamar malam, siang nya jalan-jalan deh." sahut Tara dengan wajah cerianya.
Membuat Darrel tersenyum karena jiwa remaja labil yang masih penasaran dunia luar tetap ada di dalam diri Tara.
Malam hari di kamar Fallen, Bastian yang sedang mengobrol dengan Lian nampak serius ngobrol di ruang tamu, sedangkan Fallen sendiri dia sedang di kamar bersama anak-anak dan para pengasuh.
"Mbak nanti Willy akan di jemput Daddy nya, jadi jangan di tidurin dulu ya." kata Fallen.
"Baik nyonya." sahut pengasuh.
Mata Fallen melihat Willy yang nampak bermain mobil-mobilan dengan Syaka yang duduk tapi tangan nya tak berhenti melempar dan mengambil mobil-mobil yang terus di main kan nya.
"Will." panggil Fallen.
Willy yang mendengar panggilan itu melirik ke sumber suara, lalu tersenyum dan mendekati Fallen.
"Mommy." ucap Willy sambil memeluk paha Fallen.
Fallen mengusap pelan rambut kuning Willy yang sama seperti ketiga putra putri nya.
melihat Willy membuat Fallen teringat akan sosok Rania sahabatnya, mungkin jika Rania masih ada Willy tidak akan kehilangan cinta seorang ibu yang lembut seperti Rania.
Jujur saja Fallen merindukan sosok lembut itu, nasib nya dan Rania mungkin sama menikah dengan pria salah ranjang, hanya saja takdir hidup keduanya berbeda dan Rania lebih dulu di panggil ke pangkuan Tuhan.
"Willy anak baik, nanti kalo libur sekolah main-main ya ke rumah Mommy." kata Fallen sambil tersenyum.
__ADS_1
Fallen membiarkan Willy memanggil nya dengan sebutan Mommy, dan seperti nya dia juga akan mengubah nama panggilan nya yang menurut orang lain terlalu lebay yaitu Mimi Pipi.
"Boleh?" tanya Willy polos.
"Boleh dong, kenapa enggak kan Willy anak Mommy." kata Fallen sambil mengusap pipi Willy dengan gemas nya.
Willy terdiam mendengar ucapan Fallen barusan.
"Ikut pulang aja, Daddy kasian tidur nya sendiri." celetuk Willy polos membuat Fallen tersenyum kecil.
Ternyata anak seusia Willy yang masih 2 tahun lebih juga bisa merasakan dan melihat jika Daddy nya kesepian.
"Iya, nanti Mommy ikut pulang tapi Willy harus janji sama Mommy kalau Willy nggak boleh nakal, jangan nangis terus harus jadi anak hebat, mau janji sama Mommy?" Fallen mengacungkan jari kelingking nya.
Willy kembali menatap Fallen dengan wajah bingung nya, membuat Fallen tersenyum kecil, tidak semua hal bisa di pahami anak 2 tahun lebih, tapi Fallen rasa Willy akan paham dengan apa yang dia katakan.
Fallen mengaitkan kedua jari kelingking milik nya dan milik Willy, lalu mencium pipi Willy dengan gemas, dan Willy pun ikut mencium pipi Fallen.
Tanpa keduanya nya sadari jika semua itu di lihat oleh Bastian dan Lian.
"Kau yakin akan sendiri terus Lian? lihatlah putra mu membutuhkan kehangatan seorang ibu." kata Bastian.
Lian masih tidak mengalihkan pandangannya pada Fallen dan Willy, dia juga memang merasa jika Willy butuh seorang ibu.
apalagi Willy masih kecil dan Willy juga akan mulai preschool, dan tentunya Willy butuh seorang ibu untuk mengantarkan nya ke sekolahan nya.
"Aku akan memikirkan nya." kata Lian singkat.
"Pikirkan anak mu, bukan ego mu." lanjut Bastian.
Lian melirik Bastian dengan alis terangkat sebelah ke atas.
"Kenapa aku merasa jika kau ingin menyuruh ku untuk menikahi wanita galak itu." Lian menatap Bastian.
Bastian nyengir, pikiran nya memang ingin Lian bersama Jenn, tapi karena Juan lebih dulu mendapatkan Jenn jadi tidak ada salahnya jika Lian menikahi Arr kakak nya Jenn.
"Dia wanita matang, aku yakin dia bisa menjadi seorang ibu yang cekatan untuk anak mu." kata Bastian lagi.
"Dan dia sombong." lanjut Lian.
"Wanita akan bersikap galak pada orang tertentu Lian, seperti Fallen kau tidak tau saja jika Fallen, Tara, Hana dan wanita mana pun pasti juga seperti itu, pada awalnya mereka memang galak karena mereka masih membutuhkan waktu untuk nyaman, dan seterusnya itu tergantung cara kita menyikapi wanita nya." Bastian menjeda ucapan nya.
"Dan jika kita kasar tentunya mereka juga akan lebih kasar dari kita, jadi intinya sikap mereka itu tergantung sikap kita." lanjut Bastian lagi.
"Bas lebih baik setelah ini kau menjadi Pak comblang saja, aku rasa kau cocok untuk menjadi dukun cinta." kata Lian lalu pergi meninggalkan Bastian yang berdiri di ambang pintu.
________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️