
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Cepat masuk atau aku gendong paksa!" kata Darrel dingin.
Tara masih betah berjalan tanpa enggan mendengarkan perintah Darrel.
dia masih kesal dengan sikap mesum Darrel yang bisa-bisa mengambil kembali ciuman keduanya, setelah beberapa waktu lalu Darrel mengambil ciuman pertama nya.
"Tara Andini!" panggil Darrel dengan nada yang menahan amarah.
Langkah kaki Tara terhenti seketika, Tara membuang nafas nya panjang lalu menatap Darrel tajam.
"Berhenti mengatur hidup ku, kau bukan siapa-siapa ku, kau orang lain." teriak Tara dengan wajah penuh kemarahan.
Glek..
Darrel merasa kan rasa aneh saat melihat wajah kemarahan Tara, ini kali pertama nya dia melihat Tara marah, biasanya Tara hanya bersikap ketus dan galak pada nya, tidak semarah ini wajah nya.
"Kau memang bukan siapa-siapa ku, tapi ibu ku menganggap mu sebagai anak nya, jadi otomatis kau adalah saudara ku." kata Darrel asal bicara.
"Saudara? saudara yang bisa di cium sesuka hati mu?, itu yang kau bilang saudara, hah!" geram Tara berucap dengan nada dingin nya.
Darrel menghela nafas nya panjang, lalu mendekati Tara, tapi lagi-lagi Tara menjauh darinya.
Tara mundur beberapa langkah ke belakang, tapi tatapan nya masih tetap tajam pada Darrel.
"Cepat masuk atau aku akan mencium mu di sini." ucap Darrel sudah tidak bisa menahan kesal nya.
"Berhenti menakuti-nakuti ku dengan sikap mu yang sesuka nya itu, aku tidak suka! aku benci." kata Tara lagi sambil mengepalkan tangan nya.
"Maka dari itu pulanglah, ibu menunggu mu di rumah." lanjut Darrel membuat Tara membuka kepalan tangan nya lalu menunduk.
Entah kenapa mendengar kata ibu yang keluar dari bibir Darrel membuat Tara menjadi meluluh, amarah nya yang semula akan meledak tiba-tiba menghilang karena ingat akan sosok yang selalu memberikan nya kasih sayang itu.
Ibu, tiga kata yang belum pernah Tara rasakan cinta nya sebelum nya, dan sekarang iya benar-benar merasa kan cinta Ibu yang selama ini dia impikan.
"Baiklah, aku akan pulang tapi besok-besok aku tidak mau di jemput kakak." akhirnya Tara memilih pulang.
Lagi pula kalau pergi dia harus pergi kemana? Kakak nya juga sedang memiliki masalah di luaran sana, sedangkan orang tuanya? Tara tidak punya keberanian untuk pulang ke rumah nya yang lama itu.
"Jangan percaya diri dulu, kau pikir aku mau menjemput gadis licik seperti mu, aku melakukan ini karena perintah ibu, bukan ke mauan ku." tegas Darrel.
__ADS_1
Tapi Tara yang sudah luluh memilih tidak mengabaikan Darrel, Tara malah langsung berjalan mendekati mobil lalu masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan pulang Tara hanya banyak diam dan memalingkan wajahnya ke samping, melihat jalanan kota yang tidak terlalu banyak di pijak pejalan kaki itu.
Darrel yang sedang mengendarai mobilnya sesekali melirik Tara, dia bingung dan merasa tidak nyaman dengan situasi antara dirinya dan Tara sekarang.
Dimana dia seolah berdosa dengan apa yang terjadi dengan nya beberapa saat lalu, benarkah dia pemilik ciuman pertama dan kedua Tara?, kata-kata Tara terus terbayang di kepala nya.
"Sadar Darrel, dia hanya gadis licik yang tidak penting, kau pria dewasa yang tampan dan berkharisma jangan sampai menyukai si galak itu." batin Darrel menyadarkan dirinya untuk tidak tergoda untuk melakukan hal aneh dengan Tara.
Jujur saja isi kepalanya sekarang benar-benar kotor, dimana Darrel terus melirik Tara dari semua titik, termasuk bibir Tara yang bebarapa saat lalu dia rasakan sensasi ciuman nya itu.
"Stop!" ucap Tara tiba-tiba merasa mual.
"Sebentar lagi sampai, jangan konyol." sahut Darrel.
Tara menutup bibirnya dengan tangan nya, dia benar-benar tidak tahan untuk menahan mual nya lagi.
dia melihat sekeliling nya mencari sesuatu untuk bisa di pakai wadah menampung muntah nya, tapi nihil tidak ada kresek ataupun sesuatu yang bisa di gunakan nya.
Sampai akhirnya mobil berhenti..
Dan..
Hoekkk !!
"Kau!" ucap Darrel terhenti karena Tara tiba-tiba menarik tangan nya, membuat Darrel replek mendekat dan jas di bagian tangan nya malah kemuntahan Tara.
"Tara!" ucap Darrel geram.
Tapi Tara yang masih mual malah memilih keluar dari mobil, Tara berjongkok lalu mulai muntah-muntah lagi.
Darrel merinding melihat muntahan Tara di jas nya, dengan cepat Darrel membuka jas nya dan membuka pintu mobilnya.
"Kenapa kau muntah di mobil ku!" teriak Darrel geram sambil berjalan mendekati Tara.
Tara masih tetap sama yaitu muntah-muntah, Darrel yang melihat nya langsung melotot dan dengan cepat ia langsung memijat leher Tara.
Kemarahannya menghilang saat melihat Tara yang muntah dengan air mata yang mengalir di wajah nya.
Dan di saat bersamaan pula suara Darrel ternyata mengundang penghuni rumah besar, dimana Fallen, Ibu Rosalina, dan Mom Dena langsung keluar dan berekspresi kaget melihat Tara dan Darrel yang berjongkok.
"Kalian sedang apa!" ucap Ibu Rosalina sambil mendekati Tara dan Darrel.
__ADS_1
Hoekkk !!
Tara kembali muntah lagi, membuat semua mata langsung saling pandang satu sama lain lalu melirik Darrel dan Tara yang masih berjongkok itu.
"Jangan bilang Tara telah.." ucap Mom Dena menutup bibirnya.
Darrel dan Tara langsung melirik saat di panggil namanya itu, tapi Tara yang lemah tak bisa berdiri dan langsung terduduk di aspal.
"Dena cepat telpon dokter, dan kau Darrel bawa Tara masuk ke dalam kamar nya." ucap Ibu Rosalina.
Fallen memijat pelipisnya, entah drama apa yang akan terjadi dengan Tara dan Darrel, tapi melihat Tara yang wajah nya basah dengan air mata itu membuat nya khawatir dengan mental Tara.
Tentu nya Fallen juga sudah tau akan insiden yang terjadi beberapa waktu lalu saat dia menyuruh adik iparnya untuk menjemput Tara, dimana Tara bercerita jika Darrel telah mengambil ciuman pertamanya.
Di dalam kamar Tara hanya mengeluh sakit membuat Ibu Rosalina dan Mom Dena langsung sigap mengusap kepala Tara.
"Sabar sayang, dokter nya masih di jalan." kata Mom Dena.
"Tara mau apa? Ibu buatin, mau bubur ya?." kata Ibu Rosalina takalah perhatian.
Sedangkan di luar kamar nampak Darrel yang di sidak oleh sang kakak ipar, seolah dia adalah pelaku utama akan insiden muntah nya Tara.
"Cepat katakan selain di cium kau pernah melakukan apa lagi pada Tara!" ucap Fallen tiba-tiba yang membuat Darrel menganga seketika.
Darrel tidak percaya jika apa yang di lakukan nya tercium cepat oleh sang kakak ipar.
"Aku___" ucap Darrel terhenti karena Ibu Rosalina yang akan mengambil air hangat menyela ucapan nya.
"Kau mencium Tara!" ucap ibu Rosalina menatap tajam pada Darrel.
Glekk..
Darrel kesusahan menelan ludahnya, tapi baru juga dia ingin membela diri tiba-tiba dokter datang, membuat Darrel mengelus dada nya.
"Jangan senang dulu, awas saja jika kau ketahuan mengambil ciuman Tara, aku akan menendang milik mu lagi, camkan itu bule setengah." kata Fallen sambil menatap tajam, lalu berjalan ke arah kamar Tara.
"Silahkan saja, jika itu terjadi apa yang akan mereka lakukan selain menikahkan kami?" gumam Darrel yang secara tidak langsung di dengar oleh Bastian yang baru sampai di rumah Darrel.
Sebelum nya Bastian sudah pulang ke rumah nya, tapi bibi pembantu nya bilang kalau Fallen dan Mom nya ada di rumah Ibu Rosalina, dan sekarang saat sampai di kediaman ibu tirinya Bastian harus mendengarkan gumaman adik tirinya.
"Oow..kamu ketahuan, haha dasar pedofil anak kecil di nikahin, malu sama umur dong Om." ledek Bastian sambil memperlihatkan ekspresi mengejek nya.
________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️