
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Astaga apa dia putra ku? kenapa aku merasa malu mengakui nya putra ku." gumam Mom Dena yang sengaja di keras kan.
Membuat semuanya terkekeh geli mendengar nya, termasuk Fallen yang baru membuka mata nya yang tak henti-henti nya menggelengkan kepalanya melihat Bastian yang terus menangis.
"Sudah dapat satu ember, jangan nangis lagi aku tidak apa." kata Fallen yang sudah jengah.
Bagaimana tidak datang-datang bukan nya tersenyum bahagia dan memberikan ciuman terimakasih, suaminya ini malah langsung duduk di pojokan sambil terisak-isak.
Air mata yang mengalir di wajah Bastian itu bukan nya mengundang haru malah sebaliknya mengundang tawa.
bagaimana tidak Bastian yang memiliki tubuh tegap dan atletis malah menangis layak nya anak SD yang gagal membujuk ibunya membelikan Kouta internet.
"Tapi sayang kamu tadi..hiks.." Bastian tidak melanjutkan ucapan nya, terlalu sakit rasanya mengingat beberapa jam yang lalu, dimana kondisi Fallen memburuk.
Untuk kehilangan Fallen Bastian benar-benar tidak bisa, letak kebahagiaan di kehidupan nya ada pada Fallentina, dan mungkin sekarang bertambah dengan adanya kedua putri cantik nya juga satu putra tampan nya.
Tidak bisa mengutarakan seberapa besar rasa bahagia nya, hal itulah yang membuat tangis nya tidak berhenti.
dan mungkin ini adalah tangis histeris nya untuk yang kedua kalinya setelah tangisan nya saat masih remaja dulu.
"Bas, kemarilah." ucap Fallen sambil tersenyum.
Sebenarnya Fallen memikirkan nama panggilan yang indah untuk suaminya, mungkin yang lebih romantis dan lebih enak di dengar.
Tapi bagi Bastian panggilan nama nya yaitu Bas, nama awalan nya yang selalu di ucapkan sang istri itu adalah nama panggilan yang paling sampai di hati nya.
Mungkin terkesan tidak sopan jika memanggil nama pada suami sendiri, apalagi suaminya lebih tua dari sang istri, tapi semua itu tidak termasuk pada Bastian yang menyukai panggilan sang istri untuk nya, karena panggilan Bas adalah panggilan pertama dari sang istri.
Dari pada Bule kampret, atau seperti yang di katakan Fallen saat awal-awal pernikahan nya, yaitu si Bule kutu kupret bukan kah nama panggilan Bas lebih enak di dengar?.
"Sayang.." Bastian beranjak berdiri dan berjalan mendekati brankar yang di tiduri sang istri.
Cup..
Cup..
Cup..
Bukan hanya satu, tapi tiga kecupan mendarat sempurna di wajah Fallen.
membuat pemilik wajah itu mengulum sersenyuman nya.
Lalu..
"Di hidung mu banyak ingus, sana ke kamar mandi." kata Fallen yang seketika mengundang tawa para ibu-ibu yang sedang duduk di sopa melihat beberapa potret cucu-cucu nya itu.
Mereka pikir Fallen akan manja-manjaan pada Bastian, tapi pikiran mereka itu salah Fallen benar-benar menjatuhkan image yang selalu di jung-jung tinggi Bastian.
"Dengar tuh Bas, yang tampan dan mempesona man ada punya ingus." kata Mom Dena meledek.
"Iuhhh..geli Ibu dengar nya." Ibu Rosalina ikut menyahuti.
__ADS_1
Rasanya Fallen ingin tertawa lebar mendengar nya, tapi kalau tertawa terlalu lebar dia akan merasakan sakit di bagian perut nya.
jadi Fallen memilih diam saja.
"Mom pikir si Jacky Chan yang Mom sukai itu ngak pernah ingusan? mereka juga yang tampan sama pernah ingusan, bahkan mungkin ingus nya hijau." kata Bastian dengan wajah kesal nya.
"Sudah, buruan ke kamar mandi biar pernafasan nya ngak ke sumbat." kata Fallen lagi.
"Kesumbat?, udah kaya genangan air aja yang kesumbat lumut." celetuk Mom Dena.
"Bukan genangan air, got yang penuh sampah, kesumbat." Ibu Rosalina ikut menimpali.
Bastian tidak mendengarkan ocehan dua ibunya, dia berjalan ke kamar mandi yang ada di ruangan Fallen.
Dan kini tinggallah Mom Dena dan Ibu Rosalina yang menemani Fallen.
Tara belum ke rumah sakit karena sedang sekolah, sedangkan Darrel sendiri pria itu masih bekerja dan juga memiliki tugas untuk menjemput Tara.
"Fallen sayang mau makan ngak?." tanya Mom Dena, perutnya tiba-tiba berdering meminta di isi.
"Boleh, makanan di rumah sakit ngak enak, mau makan sup ayam di restoran biasa aja Mom." pinta Fallen.
Yang langsung di acungi jempol oleh Mom Dena.
"Ngak papa di tinggal?." tanya Mom Dena.
Yang membuat Ibu Rosalina melirik.
"Kamu saja yang pergi Dena, aku menunggu Fallen di sini." kata ibu Rosalina.
"Ibu sama Mom pergi saja, lagian di sini aku ngak sendiri, ada suami ku yang akan menemani aku." jelas Fallen.
Dan setelah itu Mom Dena dan Ibu Rosalina langsung pergi dari ruangan Fallen.
mereka sebenarnya masih ingin melihat si kembar yang masih di ruangan intensif nya, tapi di satu sisi ada beberapa hal juga harus keduanya lakukan, dan tentunya itu akan menjadi rahasia keduanya.
Fallen mengusap perutnya yang sudah kempes, tidak buncit lagi dan tidak ada tendangan lagi.
rasanya seperti mimpi karena sekarang dia sudah menjadi seorang ibu, dari tiga anak kembar nya.
Perjuangannya saat melahirkan sang anak kembar tidak bisa Fallen jelaskan bagaimana rasa sakit nya.
nyeri yang sangat dahsyat sampai-sampai dia membuat suaminya juga ikut merasakan sakit yang di rasakan nya.
Tapi semua rasa itu hilang sirna saat mendengar suara tangisan bayi pertama nya, pun dengan suara tangis bayi kedua dan bayi ketiga nya, dari rasa sakit berubah menjadi rasa yang tidak bisa di ungkapkan, seolah tangis bayi-bayi nya adalah obat untuk meredakan sakit nya.
"Mom sama Ibu kemana sayang?." tanya Bastian yang baru keluar dari kamar mandi.
"Lagi beli makanan." sahut Fallen, dan di balas dengan anggukan kecil Bastian.
"Kamu lapar ngak?." tanya Bastian.
"Ngak, tadi udah pesen sup ayam sama Mom." sahut Fallen lagi.
Bastian menarik kursi, lalu duduk di dekat sang istri, tangan nya langsung mengusap lengan sang istri, dan langsung di ubah menjadi pegangan tangan.
__ADS_1
"Terimakasih.." ucap Bastian tidak bisa mengukur berapa besar rasa bahagia nya.
"Sama-sama." sahut Fallen sambil tersenyum.
Tangan Fallen terulur untuk mengusap kepala suaminya.
"Maaf, pasti sakit ya." kata Fallen merasa tidak enak karena dia sadar jambakkan nya sangatlah keras.
Bastian terkekeh, baru kali ini istrinya minta maaf, biasnya kalau memberikan tendangan dan pukulan Fallen akan tetap santai seperti biasnya.
"Tidak usah minta maaf, aku rela di jambak jika semua itu bisa membuat ku merasakan sakit seperti yang kamu rasakan." kata Bastian, lalu mengecup kembali pipi sang istri.
Senyuman kebahagiaan nampak terukir di wajah keduanya, dua insan yang memiliki pendapat dan sikap yang keterbalikan, dan semua itu di paksa bersatu untuk membuat hubungan yang lebih baik.
Cerita cinta yang tidak mengenal, cinta yang semula saling membenci, saling menyakiti sampai akhirnya semuanya berubah menjadi sebaliknya..
Kebahagian..cinta sudah mengubah kata tidak suka menjadi sayang, dan kata benci menjadi rindu..
begitulah cinta mengubah takdir dua insan nya, menjadi kan kedua pemilik cinta nya menjadi Wanita dan Pria berbahagia untuk hari ini.
"Siapa nama nya?." tanya Fallen.
Membuat Bastian yang terdiam dengan tatapan yang masih mengarah ke wajah istrinya itu tersenyum.
"Syaka Ananda Chris untuk si tampan, Syakila putri Chris untuk putri cantik kita, dan untuk si bungsu aku memberikan nama Syakira Putri Chris, bagiamana apa kamu suka?." jelas Bastian.
Fallen mengulum senyuman nya, lalu mengangguk kecil.
"Nama nya indah, aku suka."
Keduanya terdiam lagi,
sampai akhirnya..
"Sayang."
"Heem"
"Bagaimana kalau kita nambah anak, siapa tau kembar empat, lima atau enam." celetuk Bastian tanpa filter.
Membuat Fallen melongo dan langsung memberikan cubitan di pinggang Istri nya.
entah berapa banyak jahitan lagi yang harus dia rasakan.
"Dasar suami mesum, pikiran nya buat anak terus."
Syaka, Syakila, Syakira..
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️
__ADS_1