
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah dokter menjelaskan bukan nya tenang semua nya malah semakin khawatir pada Tara, bukan hamil seperti dugaan sebelum nya melainkan asam lambung Tara naik.
Dan hal itu terjadi karena Tara yang telat makan, begitulah penjelasan Dokter akan kondisi Tara sekarang.
Setelah kepergian Dokter Ibu Rosalina dan Mom Dena langsung membuatkan bubur, sedangkan Darrel sendiri harus membelikan obat untuk Tara sesuai dengan resep yang di buatkan Dokter.
"Maaf Bu, aku membuat kesalahan." ucap Tara malu.
Tara sadar asam lambung nya naik karena dirinya yang terlalu di sibukkan dengan tugas, bukan hanya tugas tapi Tara juga malah keasyikan bermain basket dengan Alex sehingga dia melupakan makan pagi dan siang nya.
"Tidak apa, lain kali kalau di kasih bekal makan ya, Ibu sedih loh kalau Tara ngak makan makanan buatan ibu." ucap Ibu Rosalina sambil mengusap tangan Tara.
Membuat Tara merasa bersalah, Tara berniat berdiri tapi dengan cepat di tahan oleh ibu Rosalina.
"Jangan duduk, tiduran aja kamu kan masih sakit." lanjut Ibu Rosalina.
Tara mau tak mau harus menurut meski dia sebenarnya tak nyaman terus tiduran di tempat tidur.
"Ibu." panggil Tara.
"Iya sayang." sahut Ibu Rosalina.
"Makasih Bu, aku janji mulai saat ini aku akan sarapan pagi setiap hari sama Ibu, sekali lagi maafin aku." lanjut Tara.
Ibu Rosalina tersenyum lalu menatap Tara.
"Ibu pegang janji kamu." sahut ibu Rosalina lagi sambil mencolek hidung minimalis milik Tara.
Sedangkan di tempat lain Fallen yang baru sampai di kamar nya langsung mendudukkan bokong nya di tempat tidur.
tangan nya terulur untuk mengusap perut buncitnya dan semua itu di lihat oleh Bastian yang baru datang dengan membawa satu gelas Jus.
"Jus Strawberry untuk Mimi twins." ucap Bastian sambil tersenyum.
"Makasih." sahut Fallen sambil mengambil jus strawberry yang di buatkan sang suami.
Melihat Fallen yang meminum setengah gelas strawberry buatan nya membuat Bastian senang, tak lupa dia mengusap sudut bibir Fallen dengan jempol nya.
"Pasti cape ya, aku pijatin mau?." tanya Bastian.
Fallen melirik suaminya lalu tersenyum.
"Boleh, aku emang lelah hari ini." sahut Fallen sambil membenarkan posisinya menjadi lebih nyaman.
__ADS_1
Bastian mulai memijat kaki sang istri, membuat Fallen yang merasakan pijatan hanya bisa memejamkan mata nya untuk menikmati sensasi pijatan suaminya.
Ternyata selain hebat di ranjang suaminya juga hebat dan ahli dalam memberikan pijatan enak untuk nya.
"Gimana enak?." tanya Bastian.
Fallen hanya mengangguk kecil, tidak mau memuji terlalu berlebihan karena hal itu akan membuat suaminya menjadi besar kepala, dan parah nya mungkin akan bertambah tingkat kemesuman nya.
"Kalau enak berarti nanti malam boleh dong Pipi nengok si kembar, kasihan sehari ngak di tengok pasti twins kangen Pipi nya." lanjut Bastian lagi.
Tuh kan, baru saja Fallen berpikir untuk tidak memuji suaminya berlebihan, sekarang suaminya sudah memulai kemesuman nya, padahal siapa yang akan percaya jika anak-anak nya yang masih di dalam perutnya itu ingin bertemu Pipi nya?.
Bastian memang selalu pandai membuat alasan untuk membuat ranjang panas.
"Jangan mulai, aku lagi lelah." kata Fallen sambil menatap tajam suaminya, dan setelah itu lanjut memejamkan matanya lagi.
Bastian memanyunkan bibirnya karena alasan nya tiadak di sambut senang sang istri.
"Biar lelah nya ngak tanggung cantik." lanjut Bastian.
Yang mana hal itu membuat Fallen melotot ke arah sang suami.
"Lelah? jadi kamu senang gitu liat aku kelelahan? hah!" ucap Fallen menatap sinis suaminya.
"Iya, iya ngak jadi uuu cantik nya aku ngak boleh marah, bobo lagi ya cantik." kata Bastian sambil menyengir kuda, membuat Fallen menghela nafasnya panjang.
Tiba-tiba Fallen teringat akan Tara dan Darrel, membuat nya langsung melirik suaminya yang sedang memijit kaki nya itu.
Yang mana panggilan itu di salah artikan Bastian.
"Yuk gas, aku ngak mandi dulu ya." sahut Bastian malah semakin bertambah mesum.
Fallen menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya itu, benar-benar suami mesum.
"Sekali lagi mesum, aku cakar ya." kesal Fallen.
"Iya, iya enggak." sahut Bastian malas.
"Duduk sini, aku mau bicara sesuatu sama kamu." ucap Fallen sambil membenarkan posisi nya menjadi duduk.
Bastian mendekat lalu menatap sang istri.
"Ada apa?." tanya Bastian.
Fallen menghela nafas nya panjang.
"Papa pulang." ujar Fallen dengan nada yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Bastian langsung memegang tangan istrinya, dia tau banyak akan sikap Papa mertua nya yang selalu memberikan luka untuk Istri nya itu.
Bahkan tidak hanya itu mertua nya juga lebih memilih istri muda nya, di bandingkan Fallen yang notabe nya adalah putri kandungnya sendiri.
"Aku tidak apa, aku hanya merasa kasihan karena Papa pulang dengan kehidupan yang sangat menyedihkan." kata Fallen seolah tau akan eretan pegangan tangan suaminya.
"Istri muda Papa meninggalkan Papa dan berpaling dengan pria lain, semua harta Papa sudah di ambil alih oleh istri muda nya, dan Papa____" ucap Fallen tidak bisa melanjutkan ucapan nya.
"Jangan katakan jika semua itu bisa membuat mu sedih." kata Bastian sambil membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan nya.
Mendengar ucapan suaminya Fallen langsung melepaskan pelukannya dari sang suami, lalu menatap suaminya.
"Apa wajah ku terlihat sedih?." tanya Fallen.
Bastian terdiam lalu menatap sang istri dengan intens dan setalah beberapa saat dia langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, hanya saja aku tau pasti kamu sedih dengan kondisi Papa mu." kata Bastian lagi.
"Kamu salah, aku ngak sedih ataupun ingin menangis, itu mungkin karma untuk Papa yang meninggalkan anak istri nya, jadi untuk apa aku menangis." sahut Fallen lagi.
Rasa kasihan saat melihat orang tuanya hidup pas-pasan memang ada, tapi mengingat sikap Papa nya dulu Fallen memilih untuk membiarkan, bukan dia benci Papa nya atau mungkin tidak sayang.
Tapi Fallen ingin Papa nya tau rasanya tidak memiliki siapa-siapa, seperti dirinya dulu saat di tinggalkan oleh Papa nya karena memilih istri muda nya.
"Apa yang akan kamu lakukan pada Papa?." tanya Bastian paham dengan ucapan istri nya.
Fallen menghela nafas nya, lalu memegang tangan suaminya.
"Pekerjakan Papa di kantor dengan posisi biasa, setidak nya dengan begitu Papa kehidupan Papa tidak akan terlalu susah." ucap Fallen lagi.
Ya semarah apapun dirinya pada sang Papa tentu nya sebagai seorang anak Fallen tidak akan siap melihat orang tuanya hidup menderita, dan berbanding terbalik dengan nya yang hidup serba ada.
Tiba-tiba di tengah obrolan keduanya terdengar suara cacing ribut yang berasal dari perut Bastian, membuat Bastian dan Fallen saling melirik.
"Aku buatin makanan ya." ucap Fallen ingin beranjak berdiri.
"Makan yang ada aja, di sini." kata Bastian mesum.
"Mesum lagi bukan sosis viral yang aku masak, tapi sosis kamu yang aku cingcang dan aku masak!" kata Fallen mengancam.
"Sa__"
"Duduk atau aku salah potong!"
Hufhh..
________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️