
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Empat bulan berlalu..
Jenn dan Juan kini tengah berada di rumah sakit, keduanya menunggu antrian untuk di periksa, telat menstruasi membuat Juan dan Jenn memilih memeriksa kan ke dokter, apalagi akhir-akhir ini Jenn sering mual-mual dan pusing.
Keduanya sengaja tidak mengecek lewat alat tes kehamilan, baik Jenn atau Juan keduanya sama-sama ingin tau kebenaran nya dari sumber yang lebih nyata, yaitu dengan memeriksa di rumah sakit.
"Ibu jenny." panggil suster.
"Ayo sayang." Juan membantu Jenn berjalan.
Keduanya masuk ke ruangan pemerikasaan, Jenn merebahkan tubuhnya di brankar dengan di bantu oleh Juan sang suami tercinta nya.
"Apa yang ibu rasakan?" tanya Dokter?.
"Akhir-akhir ini saya mual dok, terus pusing juga." jelas Jenn.
"Istri saya hamil kan dok?" tanya Juan semangat.
"Sayang.." tegur Jenn.
Bahkan dokter masih belum memeriksa nya.
"Aku nggak sabar sayang." sahut Juan sambil tersenyum.
"Sebentar ya pak, saya periksa dulu perut bu jenny nya." kata dokter tersenyum kecil karena melihat Juan yang sangat tidak sabaran itu.
Dokter mulai memeriksa Jenn, dan setelah beberapa menit melalui pemeriksaan dokter pun tersenyum pada sepasang pasangan suami istri itu.
"Selamat ya pak, ibu Jenny sedang hamil___" ucap Dokter terpotong karena Juan menyela ucapan nya.
"Berapa bulan dok?" tanya Juan.
"Sayang sabar!" Jenn geleng-geleng kepala melihat Juan yang tidak sabaran.
"Iya sayang, iya." sahut Juan dia senang bukan main.
"Kandungan ibu Jenny sudah memasuki minggu ke dua ya pak, kandungan nya masih muda dan tentunya sangat rentan, jadi di haruskan untuk selalu menjaga kesehatan Istri nya ya pak." jelas dokter panjang kali lebar.
"Terimakasih dok, saya pasti akan menjaga istri dan calon buah hati saya dengan baik." sahut Juan semangat.
"Iya pak, dan ini ada vitamin yang harus di tebus agar mual ibu Jenny agak mereda." jelas Dokter sambil memberikan selembar kertas pada Juan.
__ADS_1
Karena akan ada pasangan lain yang di periksa Juan dan Jenn pun tidak sempat mencurahkan kebahagian nya, keduanya pun akhirnya memilih pulang setelah menebus vitamin nya di apotek rumah sakit.
"Akhirnya sayang, kamu hamil." ucap Juan senang nya tidak bisa di artikan dengan apapun.
"Kamu bahagia?" tanya Jenn.
Juan mengangguk cepat, di usianya yang ke 26 akhirnya dia akan menjadi seorang ayah, tentu nya itu menjadi suatu kebanggaan sendiri untuk Juan yang memang sudah siap menjadi seorang ayah dari jauh-jauh hari.
"Aku sangat bahagia, terimakasih sudah mau mengandung anak ku." kata Juan lagi.
Jenn tersenyum melihat suaminya bahagia, sama hal nya dengan Juan dia pun bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, apalagi usianya sekarang sudah 28 tahun, tentu kabar kehamilan nya ini adalah hadiah terindah di usia nya yang sudah matang itu.
"Bukan anak mu saja, tapi anak kita sayang." balas Jenn mengingatkan.
"Kalau Mami ada pasti Mami bahagia." lanjut Juan yang sedang mengendarai mobilnya.
Dan seketika juga mobilnya berhenti, suasana yang semula penuh bahagia berubah menjadi kesedihan, Juan mengingatkan Jenn pada sosok mertua terbaik nya yang kini sudah tenang di surga.
Mami Anita meninggal satu bulan setelah kepulangan Jenn dan Juan dari Swiss, penyakit tumor ganas yang di derita nya membuat tubuh nya semakin melemah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.
"Seharusnya dulu aku nggak ninggalin Mami, apalagi saat itu Mami sakit." kembali menyalahkan diri sendiri.
"Sayang, jangan katakan itu lagi, inget pesan Mami dulu?" Jenn memberikan tisue, dia ingin menangis tapi air mata nya tidak jadi jatuh karena keduluan Juan yang malah lebih deras mengeluarkan air mata nya.
Uang yang bergelimang pun tidak ada artinya jika menolong orang yang dia sayang saja ia tidak bisa.
"Mami meninggal karena takdir, bukan karena tidak mendapatkan pengobatan, bukan kah Mami bilang begitu pada kita? jangan salahkan diri mu, Mami sudah tenang sayang." kata Jenn memegang tangan sang suami.
Mami Anita memang beberapa kali konsultasi pada dokter, tapi dia tidak melakukan apa yang di katakan dokter, seharusnya Mami Anita di bawa ke luar negri untuk pengobatan nya.
Juan melirik sang istri, dia mencium tangan Jenn beberapa kali dengan air mata yang masih mengalir di mata Juan, kerinduan nya pada sang Mami benar-benar membuat Juan tidak bisa membendung lagi kesedihan nya.
"Maafin Papi sayang, Papi memang lembek." ucap Juan sambil mengusap perut istrinya dengan wajah masih sedih.
Jenn mengusap air mata sang suami, lalu tersenyum.
"Papi nggak lembek, Papi Juan adalah Papi terbaik dan kesayangan Mami jenny." kata Jenn menirukan suara anak kecil yang membuat Juan mengulum senyum nya.
Juan tidak bisa berkata-kata lagi, istrinya yang sekarang memang lebih ceria dan juga smart, tapi yang membuat Juan senang sekarang adalah istrinya yang perhatian, sama seperti Mami nya.
"I love you." kata Juan.
"I love You too." sahut Jenn sambil tersenyum. "Ayo jalan lagi, aku mau makan laper." lanjut Jenn.
Dan mobil nya pun kembali di nyalakan, Juan kembali mengendarai mobilnya ke arah rumah nya, tadi mereka tidak sempat makan siang karena Jenn yang terus mual.
__ADS_1
Sedangkan di rumah Bastian, Syakira dan kedua kakak nya sedang bermain di ruangan bersantai, ketiga nya nampak asyik dengan mainan nya sendiri, sampai akhirnya tiba-tiba Syakila menggusur keranjang yang membuat perhatian dua saudara nya ke arah nya.
Keduanya langsung duduk di keranjang yang ukuran nya lumayan besar itu, Syaka dan Syakila sudah duduk di keranjang, tapi saat Syakira ingin masuk dia malah kesusahan.
"Au naik ihk." Syakira berusaha naik.
"Endut Cih, ndak muat kan." Syaka tertawa.
"Ihk kak Syaka nakal ya, bilangin Daddy bilang Kira endut ya." Syakira kesal di ledek kakak nya.
"Makanya jangan mam telus." kata Syakila ikut menimpali.
Membuat Syakira yang mencoba naik itu semakin kesal, dan dia langsung berusaha masuk memaksakan tubuh nya yang genut itu untuk bisa masuk dan duduk seperti kedua kakak nya.
Sampai akhirnya..
"Yeyy.. bisa, ndak ndut kan nih bisa macuk nih." Syakira tertawa senang karena berhasil masuk dan duduk di keranjang yang sama dengan kedua kakak nya.
"Sakit ihk, cempit." Syakila mulai mengeluhkan tempat duduk nya itu.
"Adik Kira sih, cempit kan." Syaka menggoyangkan keranjang nya.
"Enak kok, nggak kejepit, nih pelut nya ndak ndut lagi kok." Syakira masih pede untuk duduk di keranjang itu, tidak melihat kedua kakak nya yang menahan sesak karena kesempitan.
Tiba-tiba..
Dutttttttttttt !
Syakira kentut, membuat kedua kakak nya melotot ke arah nya.
"Bau ihk, bau." Syakila menutup hidungnya.
"Makan tikus ya, bau banget ihk." Syaka ikut-ikutan menutup hidung nya.
Dan dengan polos nya Syakira menjawab.
"Halum kok, ndak mam tikus kok, emm tadi mam telor cepok mata capi, enak." sahut Syakira masih santai duduk.
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏
__ADS_1