Salah Ranjang (Hot Daddy)

Salah Ranjang (Hot Daddy)
Kekeluargaan #1


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Pagi-pagi sekali Jenn yang tidak bisa tidur semalaman memilih mengendap-endap membangunkan Juan, dia resah semalaman membiarkan suaminya itu sendirian, Jenn masih penasaran akan rasa yang baru ia rasakan.


Kesal nya menghilang, Jenn benar-benar tidak membiarkan Juan yang kini mengekori nya itu bisa lepas dari nya.


"Kamu nggak marah lagi?" dengan menguap Juan bertanya.


Langkah kaki nya terlihat tidak benar, Juan sesekali hampir jatuh karena rasa kantuknya masih menerpa nya.


Dan Jenn yang melihat itu memegang tangan sang suami.


"Buruan, nanti ada yang lihat." kata Jenn sambil berjalan dengan cepat.


Ini masih jam empat kurang, mustahil ada yang bangun mengingat tadi malam mereka begadang sampai jam 1 malam menonton drakor yang di sarankan Tara.


Juan hanya mengangguk, di villa ini mereka masing-masing memiliki kamar pribadi, tapi tidak dengan ke empat pemuda itu yang tidur satu ruangan karena kamar nya hanya ada delapan, ada pun satu kamar lagi itupun tersisa karena akan ada dua Oma.


Sesampainya di depan pintu Juan dan Jen langsung masuk kamar.


Jenn melirik pria yang kini malah tepar kembali itu, kesal melihat suaminya tidur terus Jenn ikut merebahkan tubuhnya.


"Sayang.." Jenn mengusap punggung suaminya.


Tangan nakal nya kini beralih untuk meraba pipi suaminya, dan beralih pada bibir suaminya yang seksi itu.


gemas rasanya, ingin dia cium tapi Jenn tidak mau melakukan itu karena nanti yang ada suaminya berpikir jika dia wanita yang agresif.


Tapi Juan yang kini kembali terlelap malah tidak menghiraukan nya, pria itu tidur seperti kebo, yang tidur kembali setelah mendapatkan tempat nyaman.


Jenn hanya bisa menghela nafasnya panjang lalu memeluk suaminya dengan sayang, tidak bisa melakukan apa-apa lagi, Jenn memilih ikut terlelap bersama suaminya.


Di dapur Fallen dan yang lain nya sedang memasak, mereka nampak cantik dengan pakaian santainya masing-masing.


tiga wanita yang rambut nya di ikat asal dan dua wanita berambut pendek yang rambutnya di selipkan ke belakang telinganya.


"Hari ini kita masak apa?" tanya Fallen ketua dari para wanita.


"Bagaimana kalau ayam goreng saja, simpel." Tara yang paling kecil mengeluarkan ide nya.


"Opor, jarang-jarang kan di Swiss ada yang makan opor ayam, kalau makan ayam goreng kan udah biasa." Hana ikut menimpali, dengan saran yang berbanding dengan Tara, adik nya.


Fallen mengangguk, dia rasa memang tidak ada masalah kalau mereka membuat opor ayam, toh ia juga sudah lama tidak makan itu.


"Oke kita masak opor ayam, ada usul lagi?" Fallen kembali bertanya.


Sebagai ketua di harus menjadi penengah di antara ke empat teman nya itu, musyarawah itu penting jadi Fallen akan menjadi penengah yang handal di antara pendapat yang berbeda itu.


Lagi pula jarak antara Villa ke restoran terdekat itu membutuhkan waktu kurang lebih dua jam, Fallen tidak mungkin membuat teman-teman nya itu kelaparan menunggu makanan yang sangat lama itu, memasak sendiri lebih sehat dan juga hemat tentunya.


"Bagaimana dengan bakwan." Tara mengeluarkan suara lagi.


"Boleh, udah lama juga nggak makan bakwan." sahut Fallen lagi.

__ADS_1


Lalu melirik adik kakak yang terdiam tidak mengeluarkan suara itu.


"Kak Arr?, Jenn keluarkan suara kalian." kata Fallen.


"Aku ngikut aja." sahut Jenn.


"Aku mau makan steak." ucap Arr jujur dengan suara yang sangat pelan.


Membuat mereka tersenyum.


"Ya ampun ini ibu-ibu udah punya anak dua masih aja sungkan kaya sama orang baru aja." Hana tidak percaya jika teman nya itu masih malu-malu.


"Kak Arr lagi ngidam itu jangan di pendem, nanti ileran tau." timpal Fallen.


"Ya udah ini kapan masak nya sih, yuk masak cacing di perut aku udah teriak-teriak tau." Tara yang sedang memegang pisau itu tidak sabaran, apalagi perutnya sekarang sedang berteriak meminta di isi.


Sedangkan di kamar anak-anak nampak Bastian dan yang lain nya yang sedang tertidur di amparan karpet bulu-bulu yang ada di kamar anak-anak.


Syakila yang baru bangun dari tidurnya itu mengeliat saat merasakan kaki nya berat, dan saat bangun benar saja Syakila melihat kepala Willy yang ada di atas kaki nya.


"Ileran ihk jijik." ucap Syakila sambil melepaskan kaki nya yang di tiduri Willy.


"Kak Kila bangun?" Kira yang mendengar suara kakak nya itu membuka matanya.


Dia melihat kakaknya yang berpindah tempat, dan langsung turun dari tempat tidur dan pindah tidur di antara Darrel dan Alex.


"Bobo lagi." gumam Syakila sambil memejamkan matanya kembali.


Sedangkan Syakira yang sudah terbangun nampak tersenyum melihat anak laki-laki yang terlelap di depan nya.


Jari-jari nya yang berisi itu terus menusuk-nusuk ke pipi Willy, merasakan kesan gemas tersendiri untuknya.


tapi tidak untuk Willy yang kini terbuka matanya dan melotot ke arah Syakira.


"Si endut!" Willy melotot tajam.


Alih-alih takut Syakira malah menyibakkan baju nya dan memperlihatkan perut nya yang penuh dengan daging dan lemak itu.


"Ndak Endut kok, ndak." ucap nya sambil mengusap perutnya pelan.


"Dasar ya__" ucap Willy terhenti karena ingat pesan Mommy nya, dia di larang membuat gadis itu menangis.


Willy kesal, di kembali menatap tajam Syakira lalu kembali memejamkan matanya karena malas mendapatkan teguran dari Daddy Syakira.


"Abang lucu." suara Syakira kembali terdengar.


Karena gemas Syakira langsung berdiri, dia berjalan di atas ranjang dengan langkah yang bergoyang, sampai akhirnya..


Hap.. HAP..


Syakira duduk di atas perut Willy, membuat Willy yang merasakan sesak itu berteriak memanggil Daddy nya.


"Daddy help me!!" teriak Willy.


"Kira bantu Abang." ucap Syakira sambil tersenyum imut.

__ADS_1


"Daddy!!" teriak Willy lagi.


Suara Willy terdengar oleh Lian yang sedang tertidur, dia membuka matanya dan kaget saat melihat Syakira yang sangat bar-bar duduk di atas perut putra nya.


"Astaga, bule tua bangun!" Lian menepuk bokong Bastian.


"Hey kau lebih tua dari ku, dasar tidak sadar diri!" Bastian menjawab kesal dengan mata terpejam.


"Lihat anak mu, dia benar-benar menginginkan putra ku." Lian masih belum bergerak.


Bastian membuka matanya, dan betapa kagetnya dia melihat Syakira yang tertawa di atas perut Willy.


"Si endut__ " kata Willy tertahan karena sesak nafas.


"Jangan panggil begitu, dia cantik." Bastian memindahkan tubuh sang putri dari perut Willy.


"Dia lemah jangan menyukai nya." lanjut Bastian sambil mencubit gemas pipi gembul sang putri bungsu.


"Hey putra ku masih kecil, lihatlah badan putrimu dia memang gendut." Lian tidak terima putra nya di sebut lemah.


"Hey putri ku tidak gendut, dia hanya montok." kesal Bastian dia juga tidak terima jika putrinya yang montok itu di sebut gendut, meski kenyataan nya memang begitu.


"Putri mu memang__" ucap Lian terhenti karena ada suara teriakan lagi.


"Daddy help me!! " suara teriakan Syakila.


Bastian mencari keberadaan putri nya lagi, sampai akhirnya dia melihat jika Syakila ada di antara Darrel dan Alex.


"Dua bocah itu!!" Bastian berjalan mendekati Alex dan Darrel.


Bukkkk..


Bukkkk..


Awww !!


keduanya meringis bersamaan, lalu melihat tajam ke arah Bastian dengan bersamaan.


"Kenapa kau memukul bokong ku!" kesal Darrel.


"Kenapa? kalian membuat anak ku sesak nafas, lihat Syakila kehabisan nafas karena kalian." Bastian menjawab sambil memeluk putri nya.


"Kau tidak apa sayang?" tanya Bastian.


"No, tapi bauu Daddy." adu Syakila sambil menutup hidung nya.


Darrel dan Alex saling berpandangan, lalu saling mencium aroma ketek masing-masing.


"Kau!" ucap keduanya bersamaan, saling menuduh.


Di luar Villa ada dua wanita paruh baya yang sedang menggusur koper nya masing-masing.


"Apa ini benar villa nya?" tanya Ibu Rosalina.


"Tentu saja benar, putra ku banyak uang aku yakin Villa terbesar ini milik Bastian." sahut Mom Dena dengan penuh kesombongan.

__ADS_1


🌹


__ADS_2