
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Kabar kehamilan Jenn terdengar sampai telinga Tara, membuat itu ikut senang sekaligus merasa bingung, padahal dia menikah sudah hampir satu tahun, tapi kenapa dirinya masih saja belum mendapatkan dua garis merah itu.
Apa mand*l?
Pertanyaan itu berkeliaran di kepala remaja yang sudah memiliki status seorang istri itu, menikah di usia muda itu adalah pilihan nya, untuk Tara yang masih sekolah dia memang tidak begitu memikirkan hal-hal lain seperti mengandung.
Tapi sekarang? entah kenapa melihat orang-orang terdekat nya sudah hamil dan memiliki bayi lucu membuat sedikit kecemburuan di dalam diri Tara.
"Jangan sedih, aku yakin sebentar lagi kamu hamil kok." ucap Darrel sambil memeluk pinggang istri nya.
"Kapan? sekarang?" tanya Tara.
Darrel terdiam tidak menemukan jawaban yang tepat, dan tidak mendapatkan jawaban dari suaminya membuat Tara kesal, dia melepaskan tangan suaminya.
"Aku nggak mood, kakak berangkat kerja aja gih." Tara memilih merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Sayang.." Darrel ikut merebahkan tubuhnya di ranjang, mengusap perut sang istri dengan lembut.
"Aku sedih kak." Tara memegang tangan suaminya.
Rasa nya ia ingin menangis, tapi di air mata nya tidak mau keluar yang membuatnya hanya bisa memanyunkan bibirnya.
"Bagaimana kalau kita honeymoon lagi?" Darrel berucap sambil mencium punggung istrinya.
"Nggak mau ahk." balas Tara masih tidak mood.
"Kenapa?" tanya Darrel.
Tapi Tara hanya menjawab dengan mengangkat bahunya ke atas.
membuat Darrel kembali melakukan kesenangan nya, di mana sekarang dia mengigit bahu istrinya dengan gemas nya.
Tara membalikan tubuhnya menjadi menghadap suami nya, masih memperlihatkan wajah yang tidak semangat, dan bibir mengerucut nya itu membuat Darrel gemas.
"Jangan manyun terus, kamu tau kan aku paling nggak tahan kalau lihat kamu yang gemesin kaya gini." mencomot bibir Tara dengan tangan nya.
Tara semakin manyun, dan melihat itu Darrel langsung mencium pipi istrinya.
"Tuhan punya rencana lain untuk kita, sudah lah lagi pula meski kita belum memiliki keturunan semua itu tidak akan membuat rasa cinta ku berkurang." Darrel tau ketakutan sang istri.
Dan ya.. alasan Tara ingin segera hamil bukan karena dia bosan tidak memiliki aktivitas lain, tapi karena Tara takut di ceraikan seperti wanita-wanita yang ada di film-film, yang di ceraikan karena belum kunjung memberikan momongan.
Jujur saja Tara takut kehilangan suami nya, dia sudah mendedikasikan hidup nya untuk bersama cinta pertama nya itu, dan meskipun terlalu lebay tapi Tara merasa jika dia tidak bisa hidup tanpa Darrel.
__ADS_1
"Benar ya, jangan cari pelampiasan di luar sana " Tara menatap suaminya.
"Iya nggak akan, lagian kalau yang di rumah mungil bening dan gemesin kaya kamu mana bisa aku berpaling." Darrel berucap sambil menatap wajah cantik sang istri dengan penuh cinta.
Membuat Tara tersenyum dengan pipi yang memerah, padahal dia sudah menikah hampir setahun dan juga sudah sering di gombali sang suami, tapi tetap saja rasanya Tara masih suka malu-malu keong.
"Karena kakak sudah naikin mood aku, jadi hadiah untuk kakak dapat 10 ronde deh." Tara melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Yakin kuat?" tanya Darrel menaikan sebelah alisnya ke atas.
Tara mengangguk malu-malu, lalu mencium bibir suaminya singkat.
"Sampai aku lemas, tapi kalau aku masih semangat ya jangan udahan." ucap nya manja, yang membuat gelak tawa Darrel pecah.
Darrel mendekati wajah sang istri, perlahan tapi pasti wajah keduanya semakin dekat, sampai akhirnya..
Tok..tok..
"Darrel, Tara sayang, ayo sarapan." suara Ibu Rosalina membuat Darrel yang bersiap menerkam istrinya itu menjadi gagal melakukan nya.
"Iya ibu, bentar." Tara bangkit dari tempat tidur.
Membenarkan pakaian nya yang sempat terbuka karena ulah tangan nakal suaminya, dan setelah itu Tara keluar dari kamar duluan, melihat itu Darrel menghela nafasnya panjang, dan ikut mengekori istrinya yang sudah duluan keluar kamar.
Ibu Rosalina melihat anak dan menantu nya yang pakaian nya agak kusut itu, apalagi kemeja yang di pakai Darrel yang kusut nya lebih parah dari pakaian yang di kenakan Tara.
"Kalian main emang pagi ya?" celetuk Ibu Rosalina.
Tara batuk, karena kaget dengan pertanyaan sang ibu mertua.
"Sayang makan nya jangan cepat-cepat, tidak ada yang akan mengambil makanan mu." Darrel mengalihkan topik pembicaraan, lalu memberikan segelas minum pada sang istri.
Tara meminum nya, dan setelah selesai minum Tara langsung kembali melanjutkan makan nya tanpa berniat menjawab pertanyaan ibu nya yang tadi.
"Kalian kok malah salting gitu, Ibu kan cuman nanya." ibu Rosalina kembali bersuara.
"Siapa yang salting, emang kita mau main pagi-pagi, tapi ibu gagalin." Darrel menyahuti.
"Oh, pantes baju nya kusut." balas ibu Rosalina.
Dan begitulah acara makan nya yang berujung membicarakan adegan tadi yang tidak terselesaikan tadi.
Setelah selesai makan karena meliburkan diri Tara dan Darrel melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda karena makan tadi, sedangkan ibu Rosalina yang jenuh diam di rumah memilih main ke rumah Bastian.
"Oma mana cantik?" tanya ibu Rosalina pada cucu tampan nya.
"Di luang belsantai Omap" sahut Syaka, lalu pergi begitu saja karena dia sedang main petak umpet dengan kedua adik nya.
__ADS_1
Satu pengasuh mengikuti pergerakan Syaka, kemanapun Syaka pergi pasti ada pengasuh, begitupun dengan Syakila dan Syakira yang masing-masing memiliki pengasuh nya sendiri.
"Den, kau sibuk?" tanya Ibu Rosalina duduk di sopa.
"Tidak, seperti yang kau lihat aku sedang melihat cucu-cucu ku main." balas Mom Dena.
"Kau beruntung memiliki cucu selucu triplets S" kata ibu Rosalina lagi.
Mom Dena melirik teman nya itu, lalu menaikan sebelah alisnya ke atas.
"Mereka juga cucu mu kan." balas nya singkat.
Ibu Roslina menghela nafasnya panjang, lalu melihat ketiga anak kembar yang berlari ke sana sini dengan berteriak-teriak itu.
"Aku ingin Darrel cepat punya anak, mungkin akan menyenangkan jika Tara hamil." kata Ibu Rosalina lagi.
Dan Mom Dena yang mendengar itu sudah tau nantinya akan seperti apa obrolan nya.
"Jangan mencoba untuk menjadi mertua menyebalkan, biarkan mereka menikmati masa indahnya pacaran dalam pernikahan." kata Mom Dena mengingatkan.
Dia tau watak Roslina, tentu saja Mom Dena akan selalu memberikan peringatan pada teman nya itu karena bagaimanapun Ibu Rosalina pernah melakukan hal gila, dan dia tidak mau jika kelakuan nya yang dulu kembali datang lagi pada wanita yang usianya dua tahun lebih muda dari nya itu.
"Aku tidak akan jahat lagi, kau pikir aku ibu macam apa yang tidak suka anak nya bahagia." Ibu Rosalina membalas dengan suara tegas nya.
"Syukurlah, tapi jika kau benar-benar kembali jahat aku akan membuat mu mati di kandang buaya, haha." Mom Dena berkata enteng, di sertai tawa kecil nya.
Tiba-tiba..
Brukkk !!
Brukkk !!
Syakila dan Syakira terjatuh tepat di depan kedua wanita tua itu.
"Kodok loncat." kata ibu Rosalina.
Kodok?
"Aaaa kodok gila!" Mom Dena naik ke atas sopa dan berteriak takut.
"Oma hiks !! kodok ana?" Syakila terisak takut.
"Kodok ana? ndak ada?" Syakira bangkit dan mencari-cari kodok yang di sebutkan Oma nya.
Ibu Rosalina melihat bule-bule di depan nya itu, dia menggelengkan kepalanya, lupa jika di sini yang orang Asia lokal hanyalah dirinya, dan tentunya yang tau akan pribahasa kodok loncat pada anak yang jatuh hanyalah dia sendiri.
🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏