
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Butuh seharian lebih untuk mereka sampai di bandara Zurich Swiss atau bisa di sebut bandara Kloten yang merupakan bandara terbesar di Swiss.
Untuk bumil Hana dan Arr diharuskan memakai helikopter untuk ke Villa Bastian karena letak nya itu ada di pegunungan Alpen Swiss.
begitupun dengan Fallen dan anak-anak, Tara dan Jenn juga ikut naik helikopter agar tidak cape mengingat jalan yang akan mereka tempuh memerlukan beberapa jam untuk sampai.
"Kalian siap?" tanya Bastian.
"Lets go!" balas serempak ke empat pria dewasa itu.
Di sini yang menyupir adalah Bastian, dan di samping nya ada Lian yang akan menjadi supir pengganti, sedangkan di belakang nya ada Darrel dan kakak iparnya yaitu Gibran, dan ada juga Juan yang duduk di atas tumpukan koper dengan wajah kesalnya.
Pasalnya koper-koper nya tidak mau diam dan terus bergoyang, tapi untuk memilih naik sendiri Juan tidak mau, dia ingin duduk santai meski tempat duduknya cukup sempit.
Sampai akhirnya Juan tidak tahan.
"Ini sangat sempit astaga." kesal Juan.
"Tidak ada yang menyuruh mu ikut, bawa mobil sendiri saja kalau mau enak." balas Lian sinis.
"Hey aku tidak bicara dengan mu!" kata Juan lagi lebih sinis.
"Ya, tapi suara mu membuat telinga ku terganggu." sewot Lian lagi.
Darrel dan Bastian melirik kedua adik ipar itu, dimana pertengkaran keduanya itu sangat mirip dengan keduanya yang memang selalu bertengkar di setiap waktu.
"Ya sudah tutup saja telinga mu." balas Juan lagi dengan kesal.
Membuat Lian melihat ke belakang dan tersenyum sinis.
"Tutup saja telinga mu sendiri, dasar bawel." ketus Lian, lalu kembali melihat ke jalanan lagi.
"Dari pada kau so cool tapi tukang bohong." Juan tidak mau kalah.
Sampai akhirnya..
"Berisik!!" teriak Gibran.
Membuat semua mata melirik ke arah nya, kakak ipar dari Darrel itu nampak santai meski di tatap aneh oleh ke empat pria dewasa itu.
"Lihat ke depan, atau kita akan menabrak." kata Gibran lagi.
__ADS_1
Membuat Bastian langsung fokus menyetir, sedangkan Lian nampak kesal memilih memejamkan matanya begitupun dengan Juan yang memilih ikut memejamkan matanya.
Sedangkan di jok tengah Darrel dan Gibran nampak terdiam dengan pandangan lurus nya, hal itu membuat Bastian yang melihat di kaca spion nya langsung tersenyum.
"Bagaimana kalau kita menepi dulu di salah satu karoke." celetuk Bastian.
Membuat semua mata kini menatap tajam ke arah nya, dan melihat itu Bastian hanya nyengir.
"Oh aku tau di sini kebanyakan Susis, para suami takut istri." ucap Bastian lagi tidak sadar diri.
"Kau sendiri masih takut pada Fallen." celetuk Juan.
Tentu Juan paling tau seperti apa sifat bar-bar teman nya itu, paling-paling Bastian di lempar oleh Fallen jika nakal.
"Kau saja pergi sendiri." kata Darrel dingin.
"Kalau tidak mau ya tidak apa, tapi kalian harus ingat jika mobil ini aku yang mengendarai nya jadi suka-suka lah mau bawa ke mana." balas Bastian lagi, masih dengan wajah santai nya.
Membuat Darrel dan yang lain nya saling melirik, bahkan Gibran dan lian yang tertidur pun replek membuka matanya.
"Enak nya kita apakan di bule tua ini." kata Darrel menaikan sebelah alisnya ke atas.
"Hey aku kakak mu, dasar tidak sopan!" balas Bastian tidak terima di sebut bule tua oleh adik nya.
Membuat Bastian melotot, dan menghentikan mobilnya.
"Ayo guys bantu aku melempar pengantin baru yang letoy itu." kata Bastian gemas ingin melemparkan Juan dari mobilnya.
Tapi dia tidak mendapatkan sahutan, Bastian melirik ke tiga pria dewasa yang seperti nya memihak pada si Juanda itu.
"Kalian memihak bocah itu?" tanya Bastian tidak percaya.
"Percepat jalan nya, kau sangat lambat dasar bule tua banyak drama." bukan Darrel atau Lian ataupun Juan, tapi Gibran yang mengeluarkan suara nya.
"Hey kau___" belum Bastian melanjutkan ucapan nya Gibran yang duduk di jok tengah keluar dari mobilnya, dan membuka pintu mobil bagian depan.
"Turun!" kata Gibran.
"Hey ini mobil ku!" kesal Bastian.
"Siapa bilang ini mobil ku, cepat turun perjalanan nya masih tiga jam lagi aku istri ku menunggu ku." balas Gibran dengan wajah dingin nya membuat Bastian kesal dan memilih turun.
Bastian pindah ke tempat duduk Gibran tadi, dia jadi bersampingan dengan Darrel adik nya.
Juan tertawa melihat Bastian yang kalah dingin dengan mantan duda Arogant itu, disini ada dua mantan duda Arogant, dan Bastian ngeri untuk menyenggol nya.
__ADS_1
"Hey jangan ngebut! ini jalanan batu kepala ku sakit!" kata Bastian.
"Kali ini aku setuju dengan mu, aku juga baru menikah jangan buat aku mati penasaran untuk masuk ke sarang kehangatan!" Juan menimpali.
Gibran tidak mendengarkan, dia mempercepat laju kendaraan nya karena dia merindukan istrinya, Gibran merindukan menyentuh perut buncit istri nya.
Dan sepanjang perjalanan keduanya terus berdebat, Di mulai dari Bastian yang berdebat dengan Darrel, Juan dan Lian yang saling adu mulut yang tidak ada henti nya, dan Gibran yang terus mengatakan percepat perjalanan nya karena saat Lian yang menjadi supir mobilnya terasa sangat lambat.
Sedangkan di bandara Zurich Swiss terlihat ke empat pemuda yang baru turun dari jet pribadi Gibran, ke empatnya baru saja bisa menghirup udara segar setelah melepaskan rasa takut nya karena seharian lebih mereka hanya ada di dalam pesawat.
"Gini kalo orang kampung naik jet pribadi, astaga seharian kamu dapat berapa sih?" tanya Toni.
Hadian terdiam, dan nampak mengelus dada nya senang saat bisa melihat dunia lagi.
"Nggak banyak hanya 13 kresek." sahut Hadian santai tanpa malu.
Alex dan Dani yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya, keduanya ikut berperan untuk membantu menyodorkan kresek ataupun memijat leher Hadian saat pemuda itu muntah di jet pribadi.
Tidak ada rasa kesal ataupun jijik, mereka sudah berteman lama dan tentu nya solidaritas mereka sudah mengalahkan semua keadaan, yang jelas saat ini mereka adalah orang paling bahagia karena memiliki teman sultan yang baik.
"Kita ke Villa naik apa?" tanya Hadian.
Dia akan menolak jika kembali naik jet pribadi atau helikopter.
"Kata bang Bastian kita naik Jeep, ada supir yang menunggu katanya." balas Alex sambil melihat sekitar.
Ketiga nya kompak melakukan hal yang sama seperti Alex, yaitu melihat sekitar nya sampai akhirnya mereka melihat Jeep keren yang mendekat ke arah nya.
"Gila!! sekaya apa sih bang Babas." Toni kagum melihat Jeep mahal yang mendekat tempat mereka berdiri.
"Yang jelas jangan mimpi jadi mantu nya, sadar diri aja" timpal Dani memotong khayalan Toni yang sudah ber angan-angan untuk mendapatkan mertua sultan.
"Justru kita harus banyak bermimpi untuk mengejar impian kita." Hadian ikut menimpali dengan senyuman menerawang.
Membuat Alex dan yang lain nya langsung mengangguk.
"Mimpi memang harus setinggi langit." kata Alex.
"Dan mimpiku adalah menikah dengan nona muda keluarga bang Babas." ucap Toni, masih tidak patah semangat untuk mendapatkan anak perempuan montok Bastian.
"Kalau itu sih bukan mimpi lagi, tapi bikin mimpi anak orang ribet, lagian kepala botak juga masih aja suka sama bocil nggak sadar umur." kata Dani, Alex dan Hadian bersamaan yang di balas dengan wajah sebal Toni karena ke tiga teman nya selalu menyepelekan nya.
Setelah banyak drama yang tercipta ke empat nya langsung naik mobil, di sini ke empat nya tidak ada yang menyupir dan yang menyupir adalah supir suruhan Bastian.
🌹
__ADS_1