
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Di kamar nya Tara dengan wajah takut nya meremas pelan rok nya, sebentar lagi dia akan melakukan ujian sekolah, dan Tara takut akan kembali gagal lagi melakukan ujian nya.
Meski sudah belajar giat tapi tetap saja dirinya masih tidak yakin akan lulus kelas 2 dengan nilai yang tinggi, Tara memang tidak mengaku pandai, dia sangat kesusahan dalam mengingat pelajaran, apalagi pelajaran itu adalah matematika dan bahasa Inggris.
"Tara kamu pasti bisa, pasti." ucap nya mencoba yakin.
Meski pada kenyataan nya hati nya menolak untuk yakin jika dia akan lulus dengan nilai yang sempurna, apalagi selama Tara sekolah nilai Tara tidak lah begitu sempurna dan kadang juga pas-pasan yaitu dibawah 7, yaitu 6.
tok..tok..tok..
"Masuk." ucap Tara sambil kembali fokus pada buku nya.
Ceklek..
Pintu terbuka memperlihatkan Darrel yang berjalan mendekat ke arah nya.
Tara mencoba untuk tidak terkecoh oleh kahadiran Darrel, dia sedang tidak mau berdebat dengan pria itu, maka dari Tara memilih diam.
"Ibu akan pergi ke luar." ucap Darrel.
"Aku tau." jawab Tara tanpa enggan melirik.
"Aku di suruh ibu untuk membantu mu belajar." kata Darrel lagi yang membuat Tara langsung melirik ke arah nya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." sahut Tara lalu kembali fokus pada buku yang di baca nya.
Darrel menghela nafasnya lalu memilih duduk di pinggir tempat tidur Tara.
mata nya melihat ke arah Tara yang duduk di kursi belajar membelakangi nya.
Lama keduanya terdiam sampai akhirnya Darrel memilih merebahkan tubuhnya di tempat tidur Tara.
Sore tadi Ibu nya berbelanja ke Mall dan Darrel yang baru pulang mau tak mau harus mendapatkan tugas dari sang ibu, yaitu membantu Tara yang akan ujian besok.
Kebiasaan Ibu nya jika berbelanja pasti pulang nya malam, dan Darrel mau tak mau harus berduaan di rumah nya dengan Tara mengingat bibi pembantu selalu pulang di jam lima sore.
"Kenapa susah-susah sih." kesal Tara sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.
Kegiatan menghapal rumus-rumus di dalam pelajaran matematika membuat kepala Tara semakin terasa pusing.
Bukan hanya pusing saja tapi Tara juga merasa bosan jika harus belajar terus, tapi satu sisi Tara juga ingin mendapatkan nilai bagus agar tidak mengecewakan orang-orang yang menyayangi nya, seperti kakak nya, dan orang-orang yang kini ada di kehidupan baru nya.
"Apa yang susah." ucap Darrel tiba-tiba ada di samping Tara.
"Kau mengagetkan aku kak, menjauh sana." kata Tara mengusir.
"Ini rumah ku, dan kau mengusir ku?." Darrel mengangkat sebelah alisnya ke atas.
Tara yang tidak mau adu mulut memilih diam, dan memberikan buku nya pada Darrel.
__ADS_1
"Jika kakak pintar cepat kerjakan nomer 10, kalau kakak pintar itupun." ucap Tara seolah memberikan tangtangan.
Darrel mengambil buku Tara, lalu mulai melihat dan mengamati soal nya, sampai akhirnya dua menit berlalu dia benar-benar kesusahan jika di tanya tentang rumus-rumusan seperti ini.
Melihat Darrel yang terdiam membuat Tara menghela nafas nya panjang lalu..
"Gini nih kalau lulus modal nyogok." sindir Tara.
Yang mana hal itu membuat Darrel langsung melotot ke arah nya.
"Aku memang pandai dan asal kau tau aku juga lulus dengan nilai terbaik." jelas Darrel dengan percaya dirinya.
Tapi hal itu tentu tidak membuat Tara terkagum-kagum pada nya, dan malah sebaliknya Tara malah semakin meragukan kepintaran Darrel.
"Orang pintar pasti jago bahasa Inggris kan?." tanya Tara.
"Tentu, bahasa Inggris adalah bahasa kedua ku." sahut Darrel santai.
"Oke, jadi ahasa Inggris nya aku apa coba?, kalau salah hukuman nya di tendang ya." ucap Tara malah memberikan pertanyaan yang anak SD saja pasti tau jawaban nya.
"I'm" sahut Darrel cepat.
Tara mengangguk, lalu kembali membuka mulut nya.
"Kalo bahasa Inggris nya Gila apa?." tanya Tara pagi.
Dan dengan santai nya Darrel berkata..
"Crazy." sahut Darrel cepat.
"Jadi kalau aku gila bahasa Inggris nya apa?." tanya Tara dengan wajah santai nya.
Dan lagi-lagi Darrel menjawab nya dengan santai, dan seperti nya tidak sadar jika dia masuk ke dalam perangkap Tara.
"I am crazy." kata Darrel sambil tersenyum santai.
Tara mengulum senyuman nya, rasanya tawa nya ingin meledak saat Darrel mengaku sendiri jika dirinya adalah orang gila.
"Mau kemana?." tanya Darrel saat melihat Tara berjalan mendekati pintu.
Tara melirik Darrel tapi kali ini tawa nya susah di tahan, apalagi saat melihat wajah percaya diri Darrel yang membuat nya sangat bersemangat untuk meruntuhkan tembok kepercayaan diri nya itu.
"Ke dapur bikin mie, lama-lama sama orang gila takut, nanti ngamuk lagi." sahut Tara sambil berjalan begitu saja meninggalkan Darrel yang terdiam di kamar nya.
Tara berjalan sambil bernyanyi-nyanyi kecil, sampai akhirnya suara teriakan Darrel mulai terdengar di telinga nya.
"Tara!" teriak Darrel yang baru sadar jika dia sedang di permainkan oleh Tara si gadis licik.
"Dasar gadis licik, lihat saja setelah ini apa yang akan aku lakukan." gumam Darrel sambil menghembuskan nafas nya kasar.
Sedangkan di dapur Tara nampak sedang menunggu mie yang di rebus nya matang.
sambil menunggu Tara menyiapkan mangkuk dan sendok nya dulu.
__ADS_1
Sebenarnya di meja maka pun ada makanan enak, tapi Tara yang sekarang sedang pusing dengan ujian nya besok merasa butuh asupan makanan yang bisa membuat nya menjadi semangat, seperti mie pedas level 10.
"Sepi banget, kalo ada ibu pasti seru ngak sepi kaya gini." gumam Tara sambil melihat sekeliling pemandangan di area dapur bersih.
Setalah mie nya matang Tara memilih langsung melahap mie nya, tentu nya tanpa menawari sosok yang sedang berteriak memanggil nama nya itu, biarkan saja nanti juga diam pada akhirnya, begitu pikir nya Tara.
Dan untuk ujian nya besok, Tara hanya bisa pasrah dengan kemampuan nya yang tidak seberapa itu.
Tara tidak pernah berekspetasi untuk mendapatkan nilai tinggi sebelum nya, tapi untuk kali ini dia benar-benar berharap banyak dengan kemampuan nya yang tidak seberapa itu.
Sesudah selesai makan Tara yang kekenyangan memilih kembali masuk ke dalam kamar, bukan hanya kenyang tapi semangat belajar nya juga sudah meningkat lagi.
Saat akan membuka pintu Tara merasa perasaan nya tidak enak, tapi sedetik kemudian Tara memilih masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu kamar nya.
Tapi baru beberapa langkah Tara berjalan tiba-tiba Tara merasa merinding dan bulu kuduk nya pun sudah berdiri.
"Padahal masih makan Sabtu, bukan malam Jumat." gumam nya pelan.
Tara kembali melangkah mendekati ranjang nya, tapi saat baru juga mendudukkan bokong nya di tempat tidur tiba-tiba..
"Aaaaa Jurig!" teriak Tara kaget karena guling nya mengeras tidak empuk.
"kak!" panggil Tara yakin jika itu adalah Darrel.
Tiba-tiba Darrel berdiri lalu menyibakkan selimut nya, menarik Tara untuk mendekati nya.
Bukkkk !!
Tara jatuh ke atas Darrel.
"Lepas!" teriak Tara.
Darrel malah tersenyum misterius dan langsung membalikan posisinya menjadi dirinya yang ada di atas Tara.
"Kak, berat balikin aku yang di atas." kata Tara yang bisa-bisa nya protes.
Tapi Darrel tidak mau mendengarkan, dan malah langsung mengelitiki perut Tara, membuat tawa Tara pecah di kamar nya.
"Rasakan haha! ini adalah hukuman nya karena kau sudah berani mengatai ku gila." kata Darrel sambil tertawa.
"Bukan aku, tapi kakak sendiri yang mengaku." kata Tara tidak terima di salahkan.
"Sakit, awww !! kakak gantian aku yang di atas, kakak di bawah badan kakak berat." teriak Tara engap.
"Tidak mau." sahut Darrel sambil tertawa lagi.
Dan tanpa di sadari dua sejoli itu, ternyata Fallen Bastian dan kedua wanita yang menolak di panggil tua itu sudah ada di balik pintu.
"Di atas, di bawah, apa yang terjadi dengan mereka." gumam Fallen berpikir.
Lain hal nya dengan Bastian dan kedua ibunya yang langsung saling melirik satu sama lain.
_______
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️