
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Kini kebahagian menyelimuti keluarga kecil Lian, dimana pernikahan nya yang baru seumur jagung itu kini bertambah satu calon anggota baru, yaitu janin yang ada di dalam perut Arr.
Kehamilan Arr yang masih bisa di hitung dengan jari itu sangat di sambut senang oleh keluarga kecil nya, suami dan putra nya yang tersayang.
"Mommy apa adek bayi nanti akan laki-laki?" Willy yang kini sedang memeluk perut Mommy nya nampak senang memainkan perut rata Mommy nya.
"No sayang, adek bayi nya masih malu memperlihatkan wajah nya, jadi Mommy masih belum tau apa adek bayi nya cantik atau ganteng kaya Abang nya." jawab Arr mengusap kepala sang putra dengan gemas.
"Tapi kalau cantik mungkin mirip Mommy, dan kalau gateng ya mirip kita Son." timpal Lian.
Kini ketiga nya sedang berada di kamar, setelah mengecek ke dokter kandungan keluarga kecil Arr dan Lian langsung masuk ke dalam kamar.
Kehamilan Arr sudah memasuki minggu ke lima, dan Arr tidak menyangka jika secepat itu janin ada di antara nya dan keluarga kecilnya.
pernikahan nya bahkan baru dua bulan tapi Arr sudah hamil satu bulan lebih.
Dokter bilang berhubungan setelah menstruasi itu membuat rahim nya subur, dan mungkin ini semua nya adalah keberuntungan yang Tuhan berikan pada nya, Arr akhirnya bisa merasakan mengandung calon anak ke dua nya.
"Apa Mommy haus?" tanya Willy menatap Mommy nya.
Membuat Lian yang memeluk paha istrinya ikut melirik sang istri seperti yang di lakukan Willy, Lian juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk membuat istri nya menjadi ratu.
"Ada daging untuk membuat steak, kamu mau nggak?" Lian ikut menawari.
Arr melirik dua laki-laki berbeda generasi yang sedang memeluk di area berbeda itu, bahkan dia bisa merasakan usapan halus yang di lakukan Willy di perut nya.
Juga rasa geli saat tangan Lian yang nakal itu sesekali memainkan tangan nya untuk mengusap paha dan bokong nya.
"Mommy tidak ingin apa-apa, Mommy hanya ingin di peluk oleh kalian, kesayangan Mommy." balas Arr sambil mengecup singkat pipi Willy.
Dan itu membuat Lian cemburu, karena hanya Willy yang mendapatkan nya, sedangkan dirinya tidak mendapatkan ciuman ataupun usapan hanya kaki yang tidak bisa diam karena memang Lian tidak berhenti untuk mengusap bagian kesukaan nya.
Lian bangkit dari tempat tidur dan kembali merebahkan tubuhnya di samping istrinya, kini tangan Lian bisa lebih leluasa memeluk perut istrinya, dan mencium punggung istrinya.
"Jangan.." ucap Arr saat merasakan gigitan di punggung nya.
Tapi Lian yang senang malah semakin nakal dan tidak mau berhenti, membuat Willy aneh karena melihat Mommy nya yang tidak bisa diam.
"Mommy kenapa? apa Daddy membuat Mommy sakit?" tanya Willy.
__ADS_1
Arr mengigit bibir nya pelan saat Lian benar-benar tidak terkendali dan dengan sengaja merapatkan tubuhnya hingga gesekan kecil itu Arr rasakan.
"Tidak sayang, ayo temani Mommy tidur." Art mengalihkan topik pembicaraan, dan menarik Willy ke dalam pelukan nya.
Sampai akhirnya terdengar suara sleting baju Arr, yang membuat Arr semakin kaget karena Lian benar-benar tidak tau tempat.
"Jangan sekarang." kata Arr sedikit berbisik.
"Mommy." Willy yang menguap memandang wajah Mommy nya.
"Tidak sayang, ayo tidur lagi Mommy akan memeluk mu." ucap Arr sambil mengusap kepala sang putra tersayang nya.
"Aku ingin menjenguk anak kita, tahan ya." kata Lian sedikit berbisik di telinga Arr, dan mencium leher Arr yang seketika membuat Arr merinding.
"Jangan sekarang, kita pindah tempat." kata Arr.
Arr melihat Willy yang mulai memejamkan matanya, lalu memperkuat pertahanan nya agar suaminya tidak melakukan hal yang lebih gila lagi karena tangan suaminya semakin tidak bisa terkendali.
Beberapa menit berlalu..
"Willy sudah tidur, ayo." ucap Lian sambil berdiri.
Arr mengangguk, tapi saat dia akan berdiri tiba-tiba Lian menggendong paksa Arr.
"Panggil sayang nya di kamar aja, tahan dulu." kata Lian sambil berjalan.
Arr hanya bisa mengalungkan tangannya di leher suaminya, dan Lian berjalan cepat ke masuk ke kamarnya.
"Ayo panggil sayang lagi." kata Lian merebahkan tubuh Arr di tempat tidur.
Arr diam, dia malu dan pipi nya memerah bak kepiting rebus.
"Mommy ayo panggil Daddy sayang." Lian dengan sengaja mengeluarkan suara seperti anak kecil.
Membuat Arr semakin di buat malu, apalagi tatapan Lian pada nya sangat berbeda.
penuh dengan cinta, dan kelembutan.
"Nanti kita belanja ya sayang, aku mau beli susu kehamilan untuk kamu." kata Lian sambil membantu melepaskan pakaian Istri nya.
"Aku mau kasih tau Jenn." balas Arr.
"Boleh, nih." memberikan ponselnya pada Arr.
__ADS_1
Dan Arr benar-benar menelpon adiknya.
"Hallo.." panggil Arr.
"Kok pake ponsel kak Lian?" tanya Jenn.
"Iya, ponsel kakak ketinggalan di kamar Willy, kakak punya kabar baik untuk kamu dek." suara Arr terdengar sangat ceria.
Dan saat sembari menunggu istrinya selesai menelpon Lian mulai mengusap pipi Arr, mencium istrinya di beberapa titik, di tambah gigitan kecilnya.
"Kabar baik apa kak, kakak hamil?" Jenn masih penasaran dengan kabar baik yang di ucapkan sang kakak.
Emm..
"Kakak ha_ mil dek emm." suara Arr terbata-bata karena Lian tidak mau berhenti memanjakan tubuhnya.
"Akhirnya !!" suara Jenn cukup kencang.
Alih-alih terganggu Arr malah mengigit bibirnya, Lian kembali membuat nya gila dengan tangan nakal nya.
"Selamat ya kak, aku ikut senang dan semoga__" belum selesai Jenn mengucapkan harapan dan doa nya Arr sudah mematikan ponselnya.
Dia tidak mau pikiran adiknya yang polos menjadi gila seperti dirinya.
setidaknya dia sudah memberitahukan kabar baik nya akan kehamilan nya.
Meski sebenarnya Arr tidak yakin jika adiknya juga masih polos, mengingat betapa dekat nya Jenn dan Juan, bahkan saat pulang malam itu Arr melihat tangan adiknya dan calon iparnya itu saling berpegangan tangan, seolah memperlihatkan seberapa dekat hubungan nya saat ini.
"Sudah kan?" Lian menatap Arr.
"Kamu nakal." kata Arr sambil memukul pelan lengan suaminya.
"Nggak apa, yang penting nakal aku bisa buat kamu hamil." balas Lian langsung menyerang.
Arr tidak bisa berkata-kata, apa yang di ucapkan suaminya memang benar adanya, nakal nya suaminya membuat dia akhirnya bisa merasakan rasanya mengandung seorang bayi.
"Jangan keras-keras, anak kita bisa terpentok." Arr mengingat.
"Tidak akan sayang, aku memasang helm pelindung untuk anak kita." balas Lian ngakak sendiri dengan jawaban nya yang asal itu.
________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗