Salah Ranjang (Hot Daddy)

Salah Ranjang (Hot Daddy)
Bastian vs Darrel #2


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Egois?, kata itu terus di pikirkan Fallen, apa benar dia egois? seperti yang katakan Bastian?, Fallen mungkin juga tau kalau niat Bastian itu baik, tapi apa Fallen harus menutup mata sambil merasakan ketulusan hati seorang Bastian?.


Fallen bukanlah wanita pembenci, dia hanyalah wanita yang pernah di kecewakan?.


Dan apa semudah itu Bastian bisa kembali mendapatkan kepercayaan nya?, tentu tidak!.


"Sudah, disini saja." kata Fallen tiba-tiba.


"Ini masih belum sampai di rumah mu, aku akan mengantarkan mu tepat di halaman mu." kata Bastian masih menyetir.


"Terserah!"


Setelah sampai di halaman rumah nya Fallen keluar dari mobilnya, dia berjalan ke teras rumah nya tentunya di ikuti oleh Bastian yang membawa belanjaan nya.


"Taruh di teras saja." ucap Fallen.


"Tidak, aku akan menaruh belanjaan ini di dapur." sahut Bastian masuk begitu saja, meninggalkan Fallen yang di ambang pintu.


Fallen mendudukkan bokong nya di sopa, rasanya sangat lelah untuk aktivitas seharian ini, kaki nya terasa pegal mungkin karena Fallen terlalu banyak berjalan.


"Seperti nya dia sangat kelelahan." gumam Bastian.


Bastian mengambil gelas dan di isi air putih, dan setelah itu dia berjalan mendekati tempat Fallen duduk.


"Ini untuk mu, minum lah kamu pasti cape." ucap Bastian mencoba untuk selembut mungkin.


Fallen melirik Bastian, tidak ada ekspresi yang di perlihatkan nya tapi meski begitu Fallen mengambil air minum yang di bawakan Bastian untuk nya itu.


"Terimakasih, dan setelah ini sebaik nya kamu pulang, aku tidak bisa mengijinkan orang asing untuk menginap di rumah ku karena rumah ku hanya memiliki satu kamar." ucap Fallen, lalu meminum setengah gelas air nya.


Bastian hanya diam tidak menjawab ucapan Fallen, dia memilih duduk di samping Fallen membuat Fallen kaget karena Bastian bukan hanya duduk tapi dia juga memijat kaki nya.


"Lepaskan!" kesal Fallen.


"Jangan halangi aku untuk memijat kaki wanita baik yang sedang mengandung anak-anak ku, aku mohon." ucap Bastian menatap Fallen dalam.


Fallen memalingkan wajahnya melihat tatapan tulus yang terpancar dari mata si bule, dia enggan terbawa perasaan dengan sosok di depan nya, Fallen takut.


"Terserah, tapi setelah ini kamu pulang." kata Fallen lagi.


Bastian tersenyum mendengar nya, dia langsung memijat kaki Fallen dengan pijatan yang lembut, membuat Fallen hampir saja terbuai dengan sentuhan lembut itu, benar kata orang pria berpengalaman memang tidak bisa di spele kan kelihaian tangan nya.


"Apa enak?."


Hah?


"Ya, ehk lumayan." sahut Fallen sambil memalingkan wajahnya ke samping.


"Jika kau mau aku bisa memijat mu setiap hari." kata Bastian lagi.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku punya tukang pijat langganan ku, dan tentunya pijatan nya lebih enak daripada pijatan mu." sahut Fallen tanpa enggan melihat ke arah Bastian.


"Kau yakin?." tanya Bastian.


Fallen mengangguk, lalu memalingkan wajahnya lagi, membuat Bastian gemas.


Apakah mood ibu hamil memang seperti ini?, kadang marah dan secepat kilat juga bisa melupakan kemarahan nya.


"Baiklah, tapi kamu tentunya belum pernah melihat pria tampan jago memijat bukan?, kamu beruntung menjadi wanita pertama yang mendapatkan pijatan dari tangan halus ku." kata Bastian dengan percaya diri.


Aku? wanita pertama mendapatkan pijatan nya?, omong kosong macam apa itu!


"Sudah, aku mau mandi." ucap Fallen membenarkan posisi nya, lalu beranjak berdiri.


Sebelum benar-benar masuk kamar Fallen melirik Bastian dulu.


"Jangan lupa kunci pintu jika pulang." kata Fallen lalu menutup pintu kamar nya.


Bastian menghela nafasnya, dia sudah empat hari di kota ini dan ternyata semuanya tidak semudah yang di bayangkan nya.


Fallen bukan wanita yang gila dengan harta, bahkan terkesan sangat susah untuk di taklukkan oleh seorang Bastian.


Tapi meski begitu Bastian tidak akan pernah menyerah, dia akan mencari cara untuk bisa mendapatkan kepercayaan Fallen lagi, Bastian tidak mau anak-anak nya nanti akan bernasib sama dengan nya, kehilangan figur seorang Ayah meski Bastian tidak akan pernah membuang anak-anak nya.


Tok..tok..


Suara ketukan pintu itu membuat Bastian tersadar dari lamunan nya dan langsung berjalan ke arah pintu.


Ceklek..


"Kau!" Ucap keduanya bersamaan tentunya dengan wajah yang sama-sama terkejut.


"Kenapa kau ada di rumah Fallen! hah," tanya Darrel sambil menatap kakak tiri nya, Bastian.


Bastian tersenyum kecut.


"Seharusnya aku yang bertanya pada mu kenapa kau ada di rumah Fallentina." ketus Bastian.


"Dasar adik tidak tau diri, kau pikir aku tidak tau kalau maksud kedatangan mu itu adalah untuk mengambil alih istri dan anak-anak ku, sekali keturunan pelakor ya begitu, anak nya pun jadi Pebinor." batin Bastian.


Sedangkan Darrel sendiri merasa bingung melihat Bastian.


"Apa Bastian adalah pria yang menjadi ayah dari anak-anak Fallen?, jika iya berarti saingan ku adalah si penjahat kelamin?, kakak tiri ku?." batin Darrel.


Keduanya saling memnerikan tatapan tajam nya, membuat suasana di ambang pintu itu terlihat lebih mencekam.


"Apakah kau tuli, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku!" ulang Bastian.


"Aku akan mengajak Fallen keluar, ini adalah malam Minggu jadi aku akan mengajak nya jalan-jalan." sahut Darrel.


Yang mana hal itu membuat Bastian melotot mendengar nya.


"Tidak boleh!" kata Bastian ketus.

__ADS_1


"Hey, kau siapa Fallen? kenapa kau melarang ku." Darrel menatap tajam Bastian.


"Aku adalah mantan suaminya, aku Pipi dari anak-anak nya, dan akan selamanya menjadi pria satu-satunya di kehidupan Fallentina." jawab Bastian dengan percaya diri nya.


Ucapan Bastian barusan mengundang tawa Darrel.


Ternyata benar dugaan nya jika Bastian adalah mantan suami Fallen.


"Hanya mantan kan?." kata Darrel singkat.


"Hey!" geram Bastian.


"Apa? selagi janur kuning belum melengkung Fallentina masih belum milik siapa-siapa, jadi kau tidak berhak menyuruh ku mundur!" kata Darrel sambil menatap tajam Bastian.


Fallen keluar dari kamar nya dengan menggunakan daster nya, dan seketika dia kaget melihat Darrel bos nya yang sedang beradu mulut dengan Bastian.


"Astaga sayang lihatlah Pipi kalian benar-benar membuat Mimi pusing, tadi dia membuat Mimi sedih tapi sekarang dia malah membuat Mimi masuk kedalam catatan karyawan di pecat, his." ucap Fallen mulai geram dengan tingkah Bastian yang kekanakan.


Fallen berjalan mendekati kedua pria yang sedang beradu mulut di ambang pintu itu, tanpa aba-aba Fallen langsung menjewer telinga Bastian dan telinga Darrel, membuat kedua pria itu meringis.


"Ngak tau malu dasar, sana pulang kalian!" kesal Fallen.


Dia ingin istirahat, tapi malah ada saja yang menjadi pengganggu nya.


"Saya mau ngajak kamu jalan-jalan di luar Fall." ucap Darrel sambil meringis.


"Ngak bisa, Fallen cape." bukan Fallen melainkan Bastian yang menjawab di sela-sela rasa sakit jeweran di telinga nya.


Fallen mengeraskan jeweran nya, lalu menatap kedua pria yang meringis itu dengan wajah galak nya.


"Tuan Darrel sebaik nya anda pulang, yang di katakan Bastian memang benar, saya memang sedang cape." kata Fallen.


"Dengerin tuh pake telinga." bisa-bisa nya Bastian meledek Darrel di sela sakit nya.


"Diam kau buaya!" teriak Darrel.


"Dasar tidak laku!" sahut Bastian ikut berteriak.


Bukkk..


Bukkk..


"Sana pulang, dasar pengganggu!"


Bastian dan Darrel berjalan dengan tertatih-tatih ke arah mobil, kaki nya di injak oleh Fallen.


"Anak-anak jika kalian besar jangan kaya dua bule itu ya, ngak baik." ucap Fallen sambil menutup pintu nya.


___________


🌹🌹🌹🌹🌹


Mom Dena kena macet nih🤧

__ADS_1


Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️


__ADS_2