
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Tara duduk di pinggir ranjang nya, dia melihat sekeliling kamar nya.
helaan nafas nya terdengar kasar, Tara bingung entah dia harus bahagia atau bagaimana, yang jelas dia bingung dan aneh melihat perubahan hidup nya.
Sebelum nya Tara tidak pernah hidup sesuai dengan apa yang di inginkan nya, Tara kecil besar dengan sifat mata duitan kedua orang tuanya, bahkan Tara kabur pun karena ibu dan bapak nya yang ingin menjodohkan nya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? kakak pergi, dan sekarang yang aku punya hanyalah kak Fallen." gumam Tara.
Sekarang Tara memang merasa hidup nya lebih nyaman di rumah teman kakak nya, dia di janjikan hidup bahagia oleh Fallen teman kakak nya yang sudah dia anggap seperti kakak nya sendiri.
Tapi kenapa rasanya lain? Tara merasa tidak pantas mendapatkan semua ini, dia terbiasa hidup sederhana meski Tara terlahir dari keluarga yang bisa di katakan cukup meski tidak memiliki banyak harta.
Tok..tok..
Suara ketukan pintu membuat lamunan Tara buyar, Tara langsung berjalan mendekati pintu, dan membuka pintu.
"Kak Falen." ucap Tara kaget melihat yang mengetuk pintu kamar nya ternyata Fallen.
"Boleh aku masuk?." tanya Fallen.
Tara mengangguk lalu berjalan mundur, Fallen berjalan masuk lalu mendekati tempat tidur Tara.
Tara yang melihatnya berniat untuk mendekati Fallen, tapi Fallen menyuruh nya menutup pintu, dan Tara akhirnya memilih menutup pintu terlebih dahulu.
"Ada apa kak?." tanya Tara sambil duduk di samping Fallen.
Jujur saja saat ini sedang ketakutan, Tara takut di usir karena telah bersikap galak pada Darrel yang ternyata adalah adik suami Fallen, dan ya Tara baru tau semua itu saat melihat Ibu Rosalina yang mengatakan jika Darrel adalah putra nya.
Fallen melihat Tara dalam dan hal itu kembali membuat Tara takut dan memilih menunduk.
"Maaf kak, jangan usir aku, aku benar-benar ngak tau kalau Om itu adik ipar kakak, aku pikir Om itu adalah supir kakak dan dia juga galak kok sama aku, ketus gitu." ucap Tara tiba-tiba memeluk kaki Fallen.
Fallen menggelengkan kepalanya melihat apa yang sedang di lakukan Tara saat ini, dia benar-benar tidak tau masalah ini karena Fallen baru selesai mandi.
Tapi jika mendengar ucapan Tara Fallen bisa menyimpulkan jika di perjalanan tadi mungkin saja Tara dan Darrel telah berperang, entah apa yang terjadi antara keduanya, tapi Fallen yakin sesuatu telah terjadi sehingga membuat Tara menjadi seperti ini.
"Kak, hiks aku mohon aku ngak mau pulang, aku ngak mau." ucap Tara lagi masih memeluk kaki Fallen.
__ADS_1
Fallen mengangkat tangan Tara, lalu menyuruh Tara menatap nya, dan Tara melakukan nya.
"Jangan minta maaf, kamu ngak salah apa-apa, lagian dia emang mirip supir ko, is't okey santuy aja." kata Fallen santai membuat Tara sedikit bisa menghirup udara segar.
"Duduklah, ada yang ingin ngobrol sama kamu." lanjut Fallen lagi.
"Siapa?." tanya Tara mendudukkan bokong nya di samping Fallen lagi.
Fallen tidak menjawab, dia memberikan ponselnya pada Tara, membuat Tara yang melihat layar ponselnya langsung menutup bibirnya.
"Kak Hana." gumam Tara sambil melirik Fallen, dan Fallen hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kalian mengobrol saja, kakak akan keluar untuk menyiapkan makan malam." kata Fallen membuat Tara tersenyum.
"Makasih kak." kata Tara sambil tersenyum.
"Sama-sama, angkatlah nanti keburu mati panggilan nya." kata Fallen dan di angguki Tara.
Fallen keluar dari kamar Tara, setelah menutup pintu Fallen terdiam sebentar, dia tidak tau apa yang akan di bicarakan adik kakak itu, dan Fallen merasa penasaran maka dari itu Fallen memilih diam dan sedikit membukakan pintu kamar Tara.
Beberapa menit berlalu Fallen masih mendengarkan obrolan Tara dan Hana, tak hanya itu saja Fallen bahkan sampai meneteskan air matanya karena mendengar kan isakkan Tara di dalam kamar.
"Ibu hamil duduk aja, jangan main ke dapur." kata Mom Dena.
"Yang di katakan ibu mertua mu benar Fallen, duduk lah biar ibu dan Mom yang melakukan nya, tunggu lah bersama suami dan adik ipar mu." kata Ibu Rosalina ikut menimpali.
Fallen menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekati area dapur.
membuat Mom Dena dan Ibu Rosalina saling melirik, dia melihat sedikit air mata di bagian pinggir mata Fallen, dan kedua nya menyimpulkan jika Fallen habis menangis.
"Kamu ngak apa kan sayang?." tanya Mom Dena.
"Ngak kok, Mom mau di masakin apa?." tanya Fallen malah balik bertanya.
"Kamu habis nangis kan?." tanya Mom Dena lagi.
Fallen hanya menggelengkan kepalanya.
"Ngak, Mom dan Ibu mau di masakin apa? aku mau masak ayam teriyaki Mom sama ibu suka ngak?." tanya Fallen lagi.
Mom Dena sadar jika Fallen sedang mengalihkan topik pembicaraan, dan untuk menjaga mood ibu hamil Mom Dena memilih mengalah.
__ADS_1
"Mom suka." sahut Mom Dena.
"Kalau ibu?." Tanya Fallen melirik ibu Rosalina.
"Ibu juga suka, apapun yang kamu masak ibu makan." kata Ibu Rosalina sambil tersenyum.
Fallen mengangguk, lalu mulai bertempur dengan alat masak, tapi sebelum itu Fallen juga menyuruh bibi pembantu untuk mengambil kan ayam dan buncis juga wortel untuk teman makan nya.
Apa yang di lakukan Fallen semua itu tak luput dari pandangan Ibu Rosalina dan Mom Dena, keduanya tersenyum melihat kelihaian Fallen akan memasak.
"Cantik, baik dan pintar masak, idaman banget." gumam Mom Dena.
"Iya, tapi meski Tara tidak bisa memasak aku akan tetap mau mantu seperti Tara." kata Ibu Rosalina menyahut.
Fallen hanya fokus memasak sambil mendengarkan obrolan dua ibu mertua nya itu, dia tidak ingin menimpali, Fallen masih kepikiran dengan sesuatu yang membuat Hana pergi, dia masih butuh penjelasan akan kepergian Hana yang mendadak itu.
Sedangkan di kamar nya Tara mengusap air mata nya, sekali lagi dia menangis untuk perihal kehidupan nya yang tidak ada kata bahagia nya itu.
Bagi ibu bapaknya baik Tara ataupun kakak nya Hana, mereka adalah alat untuk mencari uang orang tuanya.
bagiamana tidak, keduanya sama-sama mendapatkan ketidakadilan yang sama dari orang tuanya.
Memiliki bapak yang kasar dan tak segan memukul nya jika melakukan kesalahan, ibu yang galak dan juga suka marah kalau Tara tidak pulang sekolah cepat, semua nya itu membuat Tara hidup menjadi gadis yang tidak bisa mengontrol dirinya dan melampiaskan kemarahannya pada siapa saja yang membuat nya kesal.
"Kakak lakukan saja apa yang kakak mau, tapi setelah itu aku mohon jemput aku kak, aku ingin bersama kakak." kata Tara lagi.
Terdengar Isak Hana di sebrang telpon sana, dia juga sebenarnya berat meninggal Tara di rumah Fallen, hanya saja dia tidak mau membuat Tara masuk ke dalam masalah nya sekarang, Hana ingin Tara fokus pada sekolah nya dulu.
"Tara, dek dengarkan kakak, kamu adik kakak yang tangguh, kakak yakin kamu bisa menjaga dirimu baik-baik, kakak mohon bersabarlah dan tinggal di rumah kak Fallen, kakak yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan di rumah teman kakak, kakak sayang kamu." Dan setelah mengatakan itu Hana mematikan panggilan nya.
Tara mengusap air mata nya, lalu menaruh ponsel milik Fallen di tempat tidur.
"Aku ngak tau apa aku bisa atau enggak, tapi aku takut.." gumam Tara sambil mengusap air matanya.
________
🌹🌹🌹🌹🌹
Yuk mampir di cerita Hana, udah UP ya dengan judul ^^Salah Ranjang (Pria Buta)^^
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️
__ADS_1