Senja Muram

Senja Muram
Masih tanya


__ADS_3

“Bang… bang… tanya bang!“ Sama tukang mancing. Mereka hanya diam saja sembari memandangi tali pancing yang mulai bergoyang-goyang. “Anjay alok… ha ha…“


“Ngapain sih lu? Malah ngeledek,“ ujar Antony.


“Nggak ada jawaban dari mereka,“ ucap Claudia memperbaiki diri. “Tanya orang lain aja dah.“

__ADS_1


Mereka jalan kembali. Pada satu jalanan sempit yang hanya bisa dilewati motor atau pejalan kaki. Jalanan kecil itu hanya di cor namun tak semuanya. Dan sisanya masih dibiarkan jalanan tanah atau hanya di lapisi kerikil lepas saja. Menunggu sampai ada dana untuk menyelesaikan penyambungan sisa dari yang belum di cor itu.


Kanan tanah kosong. Kiri hanya kubangan air. Begitu seterusnya. Selang selling. Atau terkadang hanya air yang menggenang saja. Sebab daerah itu memang bekas kubangan air yang kebetulan banjir menyeret tanah di daerah tinggi untuk dikumpulkan disitu membentuk dataran yang akhirnya bisa di fungsikan menjadi sebuah lahan atau hunian. Itu mungkin hanya daerah kecil saja. Lain dengan di luar daerah tersebut yang terkadang memiliki sungai yang besar, sehingga pada muaranya akan membentuk sebuah delta yang terus mengembang hingga pada ujung abad berikutnya menjadi hunian besar yang bisa menjadi sebuah kota atau pemukiman besar lain. Dengan logika demikian, maka hunian yang tak besar disini, dengan mudah menjadi sebuah daerah subur yang sanggup menghasilkan suatu kebutuhan pokok bagi para penggarapnya.


“Ojek kah?“ banyak kendaraan yang tengah menunggu. Meskipun tak yakin kalau mereka pekerjaannya memang itu. Bisa jadi hanya sekedar duduk-duduk saja. Dimana satu ketika ada yang membutuhkan. Mengingat daerah itu hanyalah terpencil saja. Dan tak banyak orang yang datang. Maka kemungkinan tak banyak hasil bisa jadi.

__ADS_1


“Bisa.“


Mereka menjawab katanya banyak yang lewat situ dan masuk ke hutan. Ada yang naik ojek sampai pos. Dan naik. Sampai situ ada yang membayar sepuluh ribu, dua puluh hingga lima puluh ribu. Yang penting bisa sampai. Sehingga bisa mengirit tenaga agar sampai usai acara mereka tak terlampau capek, hingga lutut mesti di reposisi ulang.


“Wah gawat mereka masuk ke hutan yang penuh bahaya dan rintangan,“ ujar nya.

__ADS_1


__ADS_2