Senja Muram

Senja Muram
Diskon


__ADS_3

“Lo sudah jualan lagi kau?“ tanya Antony.


“Ini kau lihat sendiri.“


“Apa?“


“Baju.“


“Lah ganti-ganti jualan terus kau?“


“Yah apa yang bisa di jual ya kita jual. Mulai dari jarum pentul sampai pesawat. Kalau bisa kita jual, ya kita jual lah!“ jelas Kleo sedikit nge-gas. Maklum menjelaskan demikian mesti di pahami betul. Apalagi sama orang yang otaknya pas-pasan. Tentu butuh sedikit banyaknya bumbu-bumbu perkataan agar bisa dicerna dalam pemikiran, perkataan serta nanti perbuatannya yang mesti sesuai.


“Ayo… ayo…“ ujarnya berteriak-teriak menjajakan dagangan itu. Meskipun dengan diam juga kalau pembeli ingin, akan mendekat. Tapi namanya di daerah demikian, akan lebih membantu membuat laku dagangan jika para pembeli merasa simpatik akan penjual yang santun. Serta merasa akrab dengan calon pembeli ini. Walau beberapa orang juga akan merasa aneh andai penjual seperti di pasar, seakan berharap ingin laku, hingga akhirnya akan berpikiran tentang kualitas dagangan yang di jual itu.


“Wih promo 70 persen.“


“Hanya untuk promo saja biar laku,“ jawabnya sedikit menerangkan. Kadang benda tersebut memang biar laku akibat lama di tempat tersebut tanpa ada yang menyentuh. Atau barang tersebut kurang bagus secara kualitas. Bahkan terkadang ada yang gagal produk. Sehingga memang sengaja diturunkan harganya supaya cepat terjual. Dan pembeli juga tak terlampau risau jika mendapati benda yang demikian, karena harganya memang murah.


“Nanti kalau laku beneran?“


“Ya sudah. Cari ide lain lagi.“

__ADS_1


Ada yang datang. Mereka melihat-lihat sekejap. Kemudian mulai meneliti. Tentunya yang pertama kali dilihat yang murah-murah diskon gede dari harga yang semula tinggi. Serta bermerk yang ternama.


“Beli Ini,“ ujar pembeli mulai dengan keinginannya.


“Gimana ukurannya?“


“Pas.“


“Coba lagi saja.“


“Ini sudah pas.“


“Tapi nggak kedaluarsa kan.“


“Ya nggak lah, orang bukan makanan. “


“Makanya beli ini saja. “


“Waduh “


Mau tidak mau si Kleo membungkus dagangan itu dengan sedikit berpikir. Sampai tumpukan kardus kena tendang sama dia. Dan berserak sejenak.

__ADS_1


“Gimana laku kan?“ ujar Antony yang mendapati rekannya sedikit tak suka. Tapi apa hendak di kata nasi sudah menjadi bubur, kalau tidak jadi lontong, masih enak.


“Wah habis yang murah. Turun saja lima puluh,“ kata Kleo seraya mengganti bandrol dengan papan yang bertuliskan demikian.


“Entar kalau laku lagi?“


“Ya turun lagi lah. Namanya juga jualan,“ kata Kleo dengan santainya. Dasar otak bisnis. Yang dilakukan mesti menghasilkan. Sebab apa artinya kalau berusaha jika tanpa hasil. Apa artinya jika beli bensin tanpa merokok. Dan apa artinya jika engkau tanpa aku… ea..


“Beli.“ Ada yang datang lagi. Kali ini bukan main-main.


“Silahkan“ ujar Kleo dengan ramah nya.


“Yang 70.“


“Wah sudah kosong. Lebih baik yang ini saja, baru-baru, juga sangat cocok untuk ukuran kamu yang aneh itu. Besar enggak kecil enggak tapi jelek iya. Ini sudah sangat tepat anda kenakan,“ ujar Kleo terus berusaha menarik pembeli agar bersedia membeli apa yang dia tawarkan.


“Enggak ah,“ kata orang itu dengan nada kecewa yang tertahan. Barangkali di sana ada jawabnya, pada tempat lain dengan penjualan serupa walau tak sama.


“Tuh kan?“


“Nggak papa, nyari pembeli lain. Namanya juga usaha. Kadang berhasil, tapi seringkali gagal. Dan mesti kita terima dengan lapang dada, dan mengambil hikmahnya.“

__ADS_1


__ADS_2