
Sepulang sekolah Claudia jalan sendirian. Dia punya teman sudah pergi semua. Pada ikut orang tua yang menjemput atau ikut ojek pesanan yang sudah di carter selama mengantar jemput kala sekolah atau ikut pacarnya sesama anak sekolah yang rela menghabiskan waktu kebersamaan.
“Claudia ….“
“Eh Pak Andrews….“
“Iya.“
Datang dari arah yang tak diketahui tahu-tahu bapak itu sudah ada didekatnya. Mungkin terlalu asik dengan kesendiriannya. Atau tengah linglung memikirkan sampai rumah mau makan makanan apa. Kalua Cuma tahu dan tempe, serasa perut berontak. Tapi kalau dengan rendang dan semur akan menambah gairah di kehidupan nya.
“Yuk ikut,“ ajak Bapak Guru yang baik hati dan suka menolong itu.
“Tidak Pak.“
“Kenapa?“
“Menunggu teman.“
“Anak sekolah tetangga itu?“ tanya pak Andrews yang ilmunya SE per sejuta luar kepala itu.
“Iya.“
Claudia mengiyakan. Tanpa berusaha menutupi. toh kalau ditutupi, lama -lama akan tercium juga. Oleh para penghuni sekolah yang jumlahnya tak terbilang itu. Mereka demikian saja saling cerita, saling berkisah. Apalagi pada cerita yang ada bau horor-horor demikian. Akan semakin santer dan semakin cepat kisah itu merambat dari mulut ke mulut. Atau dari mulut ke telinga, kembali ke mulut.
__ADS_1
“Jangan sama dia!“ pan Andrews memperingatkan.
“Kenapa?“
“Dia itu cobreng, cowok brengsek,“ ujarnya lagi.
“Ah….“
“Makanya kau mesti menjauhi dia. “
“Tapi….“
“Dengarlah kata –kataku dan jangan melihat siapa aku ya.“
“Iya Bapak.“
Claudia nge-bonceng.
Motor itu terus melaju diantara ramainya orang-orang yang juga ingin sampai tujuan.
Ada yang pulang. Ada juga yang menghendaki kembali ke tempat kerja seusai makan, atau istirahat untuk masuk pada kegiatan selanjutnya.
“Eh jalan rusak.“
__ADS_1
“Hati-hati Bapak!“ ujar Claud.
Motor terseok dan menghindari lubang serta jalan buruk yang tak layak dilalui apalagi oleh kendaraan pak guru yang demikian indah. Bukan salah jalannya, bukan salah motor, apalagi pengendaranya. Hanya belum di bangun ulang. Sehingga perbaikan yang mestinya sudah berjalan belum kunjung dating juga. Dan menunggu giliran agar dana sampai pada jalan tersebut. Maklum demikian luasnya yang mesti ditangani, serta demikian panjangnya lokasi yang harus diperbarui.
“Wah, lewat tanjakan.“
“Iya.“
Motor sedikit berderit. Belt nya agak memaksakan diri, tapi tak risau, habis diganti dan bisa melaju santai. Tak ngeri putus.
“Ngebut ah,“ kata Pak Andrews yang suka pada jalanan lurus nan halus yang enak buat dibikin ngetrek. Apalagi kalua bukan sekarang. Pada jalanan rusak jelas tak mungkin. Kalua pelan terus, maka mesin yang besar juga dalam penggunaannya akan kacau. Maka dikala bagus, dan bias untuk memaksimalkan kecepatan, dimanfaatkan sebaik mungkin. Sehingga kinerja mesin besarnya juga akan tetap bagus serta enak dipakai dalam jangka waktu yang sudah di rencanakan. Kalua tidak, maka mesin akan cepat error, dan kemungkinan semakin rusak akan menjadi lebih besar.
“Jangan….“
Claud sedikit ngeri. Apalagi melihat para pengendara lain juga jalannya cepat-cepat. Membuat pendengaran menjadi bising. Polusi suara menjadi memburuk untuk dirasa. Dan pikiran semakin oglag.
“Langsung atau ikut makan.“
“Langsung saja,“ kata Claudia yang tak enak mesti merepotkan orang tua yang selalu bersedia membagi ilmunya yang banyak itu.
“Sampai rumah nih.“
Motor itu berhenti tepat di muka gerbang masuk ke rumah orang tua Claud .
__ADS_1
“Makasih ya Bapak.“
“Iya.“