
“Nah kita main saja.“ Lama hanya monoton membuat keduanya ingin mencari aktivitas yang tak menjemukan.
“Tebak benda.“
“Memangnya ini kuis Mugung.“
“Ya siapa tahu. Daripada kita suntuk. Lebih baik kita main game.“
“Game nih pakai HP.” Sekarang banyak sekali game di aplikasi HP canggih mereka. Hanya sayang lokasi nya yang jauh dari tower, membuat sinyal kadang hilang, kadang ada lagi. Jangankan buat main game yang butuh banyak kuota. Mengobrol saja sulit. Terkadang lagi asing main video call tahu-tahu gambarnya menghilang. Bagaikan seorang yang tengah jalan-jalan di sebuah kota kuno, lalu menghilang begitu saja dan kemudian muncul lagi pada tempat berbeda yang lebih menyeramkan. Ini demikian, tahu-tahu gambar menghilang. Dan muncul lagi. Dan hilang lagi. Lucu saat mulut masih menganga, tahu-tahu diam. Jadi memperlihatkan mulut yang menganga dengan isi dalam kelihatan, sungguh mengerikan. Atau tahu-tahu langsung menghitam, seperti tengah mati lampu, aduh gelapnya.
“Yang sederhana saja main game kuno. Dengan jari.“ Biasa permainan kuno. Dimana hanya menghitung jumlah jari yang dipertaruhkan. Kemudian menghitung sesuai abjad yang kena. Lalu menebak nama apa yang memakai huruf awal dari abjad yang ada. Dan kalau tak bisa menebak, maka akan ada hukuman. Misalkan di coret mukanya dengan spidol, atau suruh menjepit batang korek api sampai matanya merah. Yang jelas itu menjadi permainan menarik jaman dulu, saat peralatan belum canggih.
“Baik, nama apa?“
“Organ tubuh.“ Memang selain itu masih banyak yang lain. Misalkan nama binatang, nama tumbuhan, atau nama benda yang ada di sekeliling mereka. Jadi tak kekurangan alat permainan kalau memang mau mencoba game menantang itu.
“C“
Ditunjukkan dua jari. Antara jari telunjuk dan jari tengah. Bahkan kalau lebih aneh antara jari itu dengan jari manis. Sehingga yang panjang di tekuk. Sudah di tekuk di gerak-gerakkan lagi. Membuat yang melihat jadi geli. Tapi gimana lagi, maunya itu. Biar ada tantangan supaya dalam menebak juga berpikir, dan tak serampangan saja main tebak pada kata-kata yang sama-sama juga. Terkadang kata yang sama sudah di tebak, maka mesti mencari kalimat lain.
“Aku 1.“
“Aku dua.“
“Corona.“
“Hus…“ itu kan penyakit. Bukan organ tubuh. Yang artinya mahkota. Lingkaran. Masa dibawa-bawa. Tiap ada benda dengan lingkaran di sekitarnya akan disebut itu. Misal matahari. Dia punya mahkota. Lingkaran yang tampak jika menggunakan alat. Atau saat gerhana. Maka lingkaran itu sangat indah bagaikan mahkota di sekeliling matahari.
“Yang lain nih.“ lalu menunjukkan jari. Kalau hitungannya sampai memutari jumlah abjad, maka menghitung ulang dari alvabet pertama. Sehingga tak akan habis walau seluruh jemari tangan dan kaki di tunjukkan. Makanya semakin banyak anak yang ikut akan semakin banyak juga saling tebak dan permainan menjadi semakin ramai.
“Banyak amat.“
__ADS_1
“M“
“Mata.“
“Mulut.“
“Nih pakai kaki juga.“
“T“
“Telinga.“
“Tangan.“
“Tubuh, tengkorak.“
“Kok mengerikan.“
“huh…“
“Y“
“Mana?“
“Ini dengan kaki juga.“
“Wah ngitungnya sulit nih.“
“Hitung hitung saja.“
“y.. y.. “
__ADS_1
“yaitu….“
“Ya apa? “
“Kau sendiri belum.“
“Udah… yoyo..“
“Apa itu?“
“Yaitu kaki.“
“Yaitu tangan.“
“Apa… ganti ganti ah….“
“J“
“Mudah nih.“
“Jenggot.“
“Janggut.“
“Mana jenggot memang jengglot.“
“Dicukur kali.“
“Ih ada aja.“
“Berdua kurang ramai ah.“
__ADS_1
“Ya sudah besok kalau kita main berkelompok. “