Senja Muram

Senja Muram
Jajain


__ADS_3

Mereka membantu Si Kleo jualan lagi di warung nya.


“Nah ini nih. di tata disini.“


Dua orang itu terlibat pembicaraan sambil ketawa-tawa.


“Kalian ngapain? Pacaran… pacaran!“ ujar Kleo sewot. Tak suka dia pada kelakuan dua temannya itu. “Suruh ngebantuin malah pacaran mulu!“


“Enggak kita lagi menata,“ ujar Antony buru-buru sembari beberes barang yang ada didekatnya. Yang sudah tertata dia usap-usap agar bersih, yang berserak di rapikan. Asal Nampak kerja saja. Sehingga si pemilik bisa suka hatinya.


“Ayo nih beli.“


“Ayo murah.“

__ADS_1


Mereka terus asik menjajakan barang itu. Sampai di tengah-tengah jalan. Sembari mencegat itu orang lewat. Asal laku saja. Segala cara mereka coba. Sampai apa yang mereka jajakan mesti laku. Dengan jalan apapun. Maklum sekarang mencari rejeki lumayan sulit. Segala upaya mesti dikerahkan. Asalkan masih dalam koridor aman. Tak ada yang diganggu dan tak ada yang mengganggu. Dalam artian terlampau jauh melangkah. Hingga segala sesuatunya sesuai dengan rencana, namun tak ada yang dirugikan. Dan itu sudah enjadi kebiasaan umum dalam suatu bisnis kecil-kecilan yang hanya membutuhkan modal kecil, namun berharap memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Entah itu prinsipnya siapa, yang jelas apa yang bisa dijual ya dijual. Mulai dari jarum pentul sampai pesawat terbang, kalau bisa dijual ya dijual. Ini demi dapur bisa ngebul dimana masa demikian sulit dan semakin sulit saja. Belum tentu sekarang membuat dan kala itu juga laku. Sebab mencari konsumen tak semudah menjual gorengan. Kalau tak laku bisa masuk perut sendiri. Ada hal lain dalam satu penjualan yang khusus itu. Mesti sabar dan berani perih. Kalau hal tersebut tak laku. Masih ada waktu lain dimana bisa mengupayakan untuk berhasil, serta mesti menggunakan cara yang berbeda agar kemungkinan laku bisa lebih maksimal. Kalau hanya mengulang hal serupa dalam menjajakan, maka akan kecil kemungkinannya. Bisa jadi ya, atau tidak. Sebab hal itu pernah di coba namun kurang berhasil. Maka alangkah baiknya andai satu inovasi dipergunakan pada masa yang sedikit berbeda namun berkelanjutan ini.


“Ini diskon ya.“


“Ya enggak lah. Orang duduk berdua saja diomelin, apalagi sampai mengurangi harga, bisa-bisa ini warung langsung ditutup tanpa pemberitahuan, bisa repot semuanya kan?“ jelas Claudia sembari terus menjajakan dagangannya. Supaya bertambah laku, tambah laris.


“Lo anda jualan disini,“ ujar salah satu orang yang dapat berbicara.


“Eh pak Andrews. Silahkan dibeli pak….“


“Ya nggak papa to, kalau ingin mencicipi.“


“Boleh sedikit saja.“

__ADS_1


“Ini pak mumpung lagi murah.“


“Biasanya berapa?“ tanya si Bapak.


“Sepuluh ribu.“


“La ini?"


"Sepuluh ribu.“


“Sama dong.“


“Ya beda kan pak, itu kemari, kalau ini hari ini,“ ujar Claudia terus mendesak calon pembelinya agar bersedia dan iya dalam membeli dagangan nya.

__ADS_1


Bapak itupun membeli dengan sebanyak-banyaknya. Sepuluh ribu.


Lumayan pendapatan hari ini. Ada sedikit untung. Itu hanya sebagian yang bersedia membeli. Masih banyak yang lain. Dan membuat dagangan si Kleo habis. Dan penjualnya senang. Mungkin esok akan membawa lebih banyak. Bisa dua kali lipat. Atau kalau perlu tiga kali nya. Dan kalaupun tak habis, bisa buat esok lusa. Masih layak makan. Sebab memang tak mesti langsung habis. Sebab bisa dipakai cukup lama.


__ADS_2